1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Hari ke-1 dari Dua Bulan

"Ini zaman sudah kacau, huft," ucapnya kepada diri sendiri.

Dua bulan berada di dalam gua. Sebuah ruangan batu bata tanpa cat. Dia mengurung dirinya sendiri selama itu.

Alasannya karena dia tidak memiliki teman. Terdengar sederhana, mungkin, namun selama dua bulan tersebut masalahnya sama sekali tidak sederhana.

***

Orang-orang pada berkerumun mengelilingi dua orang di bagian paling tengah kerumunan. Seorang lelaki mendekat, tampak pacarnya sedang telanjang diarak oleh masyarakat desa.

Kemudian lelaki satunya yang sama-sama telanjang justru tersenyum curang kepada lelaki pertama. Tanpa basa-basi, sebuah tinju dan tendang mengenai mulut lelaki telanjang tujuh kali.

Terakhir, lelaki pertama meludah ke keduanya dari dahak yang paling dalam, paling kental, dan paling murung. 

Masyarakat yang melihat adegan luar biasa itu langsung merogoh ponsel dan mengabadikannya.

Sementara dua orang lainnya buru-buru merangkul lelaki pertama, keluar dari kerumunan, lanjut main judi di sebuah gang yang sama-sama gelap seperti masa depan.

Ajin dan Sukik, teman karib lelaki itu, menenangkan bahwa masih ada perempuan yang baik-baik untuknya. Ajin mengatakannya sambil memasang wajah tidak percaya kalau sudah mengatakan hal tersebut. Sukik tambah tidak percaya lagi, namun dia mengiyakan saja.

Sedangkan, lelaki itu masih memikirkan dua orang yang telanjang di tengah kerumunan.

"Seharusnya aku tendang dan pukul juga," ucapnya lirih tampak menyesal.

"Kau sudah melakukannya, Kawan," tenang Ajin.

"Tidak, masih belum, aku hanya melakukan tendangan dan pukulan masing-masing tujuh kali untuk si laki-laki. Namun belum untuk si perempuan!"

"Kau sudah meludahinya," timpal Ajin.

"Benar, kau sudah meludahinya!" tambah Sukik.

"Tampaknya masih kurang, dia sama sekali tidak menangis."

"Aduh, Kawan, bagaimana kau bisa berpikir begitu? Tidak akan ada air mata dari manusia yang hatinya sudah mati."

"Kau benar juga, lantas bagaimana dengan hati kita?"

"Tampaknya masih hidup-"

"Hampir mati."

"Tapi masih hidup, kadang-kadang aku masih mengingat ibuku. Masih menyesal juga menyia-nyiakan tabungan."

"Omong kosong, mari lanjut. Cepat pasang taruhannya!"

***

Di sebuah warung kopi, ketiganya berkumpul.

Ajin membuka pembicaraan: kalian pernah berpikir kalau judi yang kita lakukan ini sebenarnya dosa dan haram?

Sukik hanya terdiam. Tokoh kita merasa tidak terima dan nyeletuk, "Lebih haram lagi kalau kalah!"

Mereka berdua, Ajin dan Sukik terpingkal-pingkal. Tokoh kita, bagaimanapun kerasnya berlatih main dadu dan kartu, selalu saja berakhir dengan kekalahan.

"Terus, tertawa saja kalian. Keparat!"

Mereka berdua lebih terpingkal-pingkal lagi.

Sebentar kemudian Ajin terpikir sesuatu, "Kalau menang kan tetap haram?"

"Tidak, kalah haram, menang harum," jawab tokoh kita spontan.

Setelah selesai sarapan pukul 5 sore, minum segelas kopi, empat batang rokok, dan perbincangan receh itu; mereka beranjak dari warung kopi. Antara Ajin dan Sukik yang selalu membayar pesanan ketiganya. Menggunakan uangnya, tentu saja, namun beberapa jam ke belakang uang itu adalah milik tokoh kita, sebelum dibantai oleh dadu dan kartu.

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar