1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Bagi orang seperti saya, yang tidak terlalu punya urusan dengan banyak orang, sakit bukan menjadi sesuatu yang membingungkan.

Saya tidak perlu menghubungi atasan untuk minta izin libur, sebab saya tidak memiliki atasan. Saya tidak perlu izin ke sekolah, karena saya tidak sekolah.

Bahkan, tidak perlu menghubungi keluarga maupun orang-orang terdekat, alasannya karena mereka punya urusannya sendiri-sendiri.

Urusan yang, katanya, jauh lebih penting daripada harus mengurus saya yang sedang sakit.

Nyatanya memang demikian, saya bisa mengurus diri saya sendiri. Tanpa obat, tentu saja. Saya tidak suka meminum obat, apapun itu.

Beberapa bulan yang lalu, saya kira saya ini firaun yang tidak pernah sakit. Ternyata kok bukan, saya mengalami sakit.

Soalnya waktu orang-orang pada sakit, hidup di lingkungan yang penuh virus, saya baik-baik saja. Menjadi lebih sombong dan percaya diri dengan buta.

Jadi pada waktu-waktu sakit begini, saya hanya akan beristirahat. Bertaruh apakah kekebalan tubuh yang menang atau justru virus penyakit yang menang.

Namun saat merokok, saya masih bisa merasakan keenakannya. Rokok tidak apek seperti kertas kobong, rasa tembakau masih benar-benar terasa.

Saya jadi berpikir dong, ini sakit apa? Padahal kemarin masih saja berkeliaran di sekitar sungai. Melakukan perjalanan ratusan kilometer menggunakan sepeda motor. Serta bertemu orang-orang yang sehat.

Berhubung sakit ini tidak merepotkan orang lain, saya ya terima-terima saja. Mengingat dosa saya di masa lalu yang demikian raksasa.

Semoga dengan sakit yang sedikit ini, bisa mengurangi dosa-dosa tersebut. Mungkin Gusti Alloh sedang memperhatikan tingkah dan laku saya. //

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar