1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Dialog dengan Kura-Kura

Dialog dengan Kura-Kura

Oleh: Italo Calvino

Saat hendak pergi atau setelah kembali ke rumah, Tuan Palomar sering bersinggungan dengan seekor kura-kura. Pandang mata kura-kura ini menuju ke petak rumput, dan Tuan Palomar senantiasa tajam menaruh berbagai kemungkinan keberatan pada akalnya, yang seketika  menjerat arus pikirannya, mengoreksi atau mengklarifikasi poin-poin tertentu, atau dalam beberapa kasus memanggil binatang itu ke dalam pertanyaan dan menaksir validitasnya.

Bukan karena itu si kura-kura pernah keberatan terhadap hal-hal yang Tuan Palomar pikirkan: makhluk itu keberatan dengan urusan pribadinya, dan ia tidak terganggu oleh perkara lain. Tapi fakta sebenarnya ia tunjukkan di petak rumput, merangkak susah payah dengan kaki-kakinya, membawa cangkangnya maju ke depan seperti mendayung perahu, melontarkan sejumlah pernyataan: “Saya adalah seekor kura-kura” atau lebih dari itu: “Ada sesosok ‘aku’ yang merupakan seekor kura-kura” atau yang agak mendingan: “Sesosok ‘aku’ adalah juga kura-kura”, dan akhirnya: “Nol besar Anda berpikir bahwa makna-makna yang universal adalah juga tak bermakna, itu berlaku sama buat Anda, Manusia, dan buat saya, Kura-kura.” Demikianlah, berturut-turut, tiap kali mereka bertemu, si kura-kura memasuki pikiran Tuan Palomar, menyelaminya dengan langkahnya yang lambat. Tuan Palomar lalu menimbang-nimbang pikirannya yang lalu, namun sekarang pikiran-pikiran itu berisi seekor kura-kura, seekor kura-kura yang mungkin membagi pikiran-pikiran itu, meletakkan pikiran-pikiran masa silam itu pada sebuah akhir.

Mula-mula Tuan Palomar bersikap defensif. Dia menerangkan: “Tetapi saya tidak pernah mengaku memiliki sebuah pikiran universal. Saya memandang apa-apa yang saya pikir sebagai bagian pembentukan hal-hal yang dapat dijangkau nalar, sederhananya saya sedang memikirkannya. Terus-menerus.”

Tapi si kura-kura—si kura-kura dalam kepalanya—menjawab: “Itu tidak benar. Anda cenderung mengatribusi validitas umum ke dalam akal Anda, bukan karena Anda memilih begitu, tapi karena forma mentis itu yang membuat pikiran-pikiran Anda menawarkan itu.”

Kemudian Tuan Palomar: “Kamu tidak mempertimbangkan fakta bahwa saya berpikir untuk membedakan, dalam kejadian apa saya berpikir, bermacam level kebenaran, dan mengenal apa yang digerakkan baik oleh sudut pandang khusus maupun prasangka yang saya pegang. Misalnya, pikiran saya sebagai anggota kelas orang-orang beruntung, di mana seseorang yang kurang diistimewakan tak termasuk; atau sebagai seseorang yang memiliki satu wilayah geografis, tradisi atau budaya yang bertentangan dengan yang lain; atau sangkaan terhadap jenis kelamin laki-laki yang eksklusif, di mana seorang perempuan akan menyangkalnya.”

“Jadi,” si kura-kura menyela, “Anda berusaha menyaring, dari bias dan motif yang berat sebelah, sebuah intisari ‘aku’ berlaku untuk semua kemungkinan bentuk ‘aku’, dan bukan cuma sebagian dari mereka.”

“Mari katakan bahwa kamu benar, dan bahwa ini adalah kesimpulan saya setelahnya. Apa yang menjadi keberatanmu, Kura-kura?”

“Bahkan jika Anda bermaksud mempersamakannya dengan keseluruhan ras manusia, Anda masih akan jadi tahanan sebuah perihal yang berat sebelah, picik, dan—jika saya boleh bilang lagi—berpandangan sempit dalam menghormati keseluruhan eksistensi.”

“Apakah maksudmu saya harus mengasumsikan pertanggungjawaban, dalam semua kebenaran yang diragukan, bukan hanya untuk seluruh ras manusia, dulu, sekarang, dan yang akan datang, tapi juga untuk semua spesies mamalia, burung, reptil dan ikan, untuk tidak menyebut kerang-kerangan, cumi-cumi, arakhnida, serangga, echinodermata, annelida, dan bahkan protozoa?”

“Ya, karena tak ada alasan bagi dunia akal mempersamakan kelebihan Anda dibanding kepunyaan saya; dengan akal seorang manusia dan bukan akal seekor kura-kura.”

“Itu bisa menjadi sebuah alasan, bahwa kebenaran obyektif tidak dapat dilempar ke dalam keraguan: ialah, bahwa bahasa adalah salah satu kecakapan spesifik bagi manusia; konsekuensinya, pikiran manusia, didasarkan pada mekanisme bahasa, tidak bisa berbanding dengan pikiranmu yang bisu itu, Kura-kura.”

“Akuilah, Bung: Anda berpikir bahwa saya tidak berpikir.”

“Saya tidak dapat mengiyakan atau menyangkal. Tetapi bahkan jika kita bisa membuktikan keberadaan pikiran itu dalam kepalamu yang dapat ditarik keluar-masuk itu, saya harus mengambil kebebasan menerjemahkannya ke dalam kata-kata untuk mengizinkannya eksis bagi yang lain, bagi makhluk di luar dirimu. Jika saja bisa, saya akan melakukannya sekarang: meminjamimu sebuah bahasa agar kamu dapat memikirkan pikiran-pikiranmu.”

“Saya anggap Anda kelewat menyepelekan. Apakah karena Anda murah hati, atau karena Anda yakin bahwa kapasitas berpikir kura-kura demikian rendah ketimbang Anda?”

“Mari katakan bahwa itu berbeda. Berkat bahasa, ‘manusia’ dapat memahami hal-hal bukan hanya saat ini, hal-hal yang tak ia lihat dan tak akan pernah ia lihat, konsep abstrak. Binatang, dalam asumsi saya, terpenjara oleh sebuah batas sensasi yang tergesa-gesa.”

“Alangkah jauh dari kebenaran. Kebanyakan basis fungsi mental, satu pembentukan aturan tentang pencarian bahan makanan, dipicu oleh kekurangan, oleh ketiadaan. Setiap pikiran tidak muncul dari sana, sebagai perbandingan yang terlihat maupun yang terdengar dengan representasi mental dari apa-apa yang ditakuti atau dihasrati. Perbedaan apa yang Anda pikir ada antara Anda dan saya?”

“Tidak ada, dan alangkah lebih baik tidak setuju atau mengelak ketimbang berlindung pada argumen kuantitatif dan fisiologis, tapi kamu memaksa. Manusia adalah satu pengisi kehidupan dengan otak paling signifikan, dengan kapasitas otak paling besar, jutaan neuron, koneksi internal, bermuara ke urat syaraf. Otak manusia, akibatnya, punya kapasitas berpikir, tak tertandingi di dunia ini. Maaf, tapi itulah faktanya.”

Si kura-kura: “Jika mau adu sombong, saya bisa bawakan catatan umur saya yang panjang, yang memberi saya satu penginderaan atas waktu di mana Anda tak bisa membayangkannya; atau bahkan cangkang saya, satu produk yang dibikin dengan ketekunan dan desain demikian sempurna, melampaui kerja manusia di bidang seni dan industri. Tapi itu belum apa-apa, yang mana ‘manusia’, yang membawa otak istimewa, dan digadang-gadang sebagai pengguna bahasa pilihan, masih bukan apa-apa dibanding keseluruhan yang lebih besar, seluruh kehidupan, masing-masing saling bergantung, seperti satu bagian tubuh dari organisme tunggal. Beserta keseluruhan itu, fungsi pikiran manusia terlihat sebagai sebuah device alamiah dalam hal memakmurkan semua spesies, bertanggung jawab untuk menafsirkan dan menyatakan seluruh pikiran pada yang lain secara lebih tekun sesuai akal mereka, seperti kura-kura yang purba dan hidup selaras.”

Tuan Palomar: “Saya bangga atas itu. Tapi saya akan beranjak lebih jauh. Mengapa berhenti membicarakan kingdom binatang? Mengapa tidak menggabungkan kingdom tumbuhan ke dalam ‘aku’? Akankah ‘manusia’ berharap dapat berpikir dan bicara perihal sequoia si kriptomeria berumur ribuan tahun, lichen, jamur, tanaman padang rumput di sekelilingmu? Merasa saya kejar dengan argumen, sekarang merangsek sembunyi?” 

“Ini bukan sekadar keberatan, dan saya pun akan beranjak lebih jauh. Di luar ‘manusia’—fauna—dilanjutkan flora, beberapa wacana yang dianggap universal harus memasukkan logam, garam, batu, beril, feldspar, belerang, gas-gas langka dan semua materi-tak-hidup yang menyusun keseluruhan alam semesta.”

“Itulah segelintir alasan saya mau memanggilmu, Kura-kura! Menyaksikan jungur kecilmu yang malas keluar-masuk cangkang. Saya selalu berpikir bahwa kamu tak bisa menentukan di mana subyektivitasmu berakhir dan di mana bagian luar dunia bermula: jika kamu memiliki satu ‘aku’ yang hidup dalam cangkang, atau jika cangkang itu adalah ‘aku’, ‘aku’ yang mengisi bagian luar dunia dengannya, maka hal-hal lambat itu menjadi bagian dalam dirimu. Sekarang saya sedang memikirkan isi pikiranmu, saya sadar bahwa kita tidak punya satu pun masalah: bagimu tak ada perbedaan antara ‘aku’ dan cangkang, untuk lebih mudah mengatakan, antara ‘aku’ dan dunia.”

“Sebagaimana Anda, Bung. Selamat tinggal.” []

 

*Italo Calvino (1923-1985) adalah jurnalis dan pengarang kelahiran Kuba, tumbuh di Italia, dan hidup tiga belas tahun di Prancis. Sepanjang hidupnya telah menerbitkan sejumlah novel dan kumpulan cerita pendek. Karyanya yang terkenal antara lain “Our Ancestors”, “Invisible Cities”, dan “the Cosmicomics”.  

*Cerpen di atas diterjemahkan Hari Niskala dari “Dialogue with a Tortoise”, terjemahan Jhumpa Lahiri dan Sara Teardo dari bahasa Italia, di mana terjemahan bahasa Inggrisnya termuat dalam kumpulan cerita: “The Penguin Book of Italian Short Stories” yang disusun oleh Jhumpa Lahiri, terbitan Penguin Books, 2019.

Dialog dengan Kura-kura diterjemahkan Hari Niskala dari “Dialogue with a Tortoise”
Sumber: Pixabay
Related Posts
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar