1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Saya Pikir...

Saya pikir-pikir, kok ternyata diri ini masih sering terseret arus di lingkungan. Kayak enggak punya pendirian.

Dulu waktu kuliah, ikut-ikutan suka nulis, soalnya satu lingkungan di organisasi kejurnalistikan itu. Oya, ngomong-ngomong selamat tahun baru. 

Terus setelah lulus kan lepas tuh, saya jadi sedikit menyadari, iya cuma sedikit. Pas setiap hari sendiri begini ternyata saya pikir juga menyukai mancing ikan.

Jadi enggak pernah nulis cerita lagi.

Pernah sih dulu nulis sampai nerbitin buku, biar kayak orang-orang anti-mainstrem, terus ngasih satu eksemplar buku buat kado ulang tahun si doi. Bukan cokelat, jam tangan, atau bunga apalagi kamar hotel.

Anjir, kekuatan menulis dari bucin.

Lama-lama terungkap juga, tiap ngirim tulisan ke media selalu ditolak. Jadi bukti kalau tulisan saya masih jauh dari layak berdasarkan standar media cetak.

Iseng-iseng nih, saya gabungin kesukaan mancing ikan sama nulis. Kadang-kadang nulis cuma buat pengingat kalau pernah mancing di sini, mengingatkan pas kejadian ini, atau soal teknik mancing.

Bagi orang lain pasti gak penting banget, tapi punya kesan tersendiri buat saya.

Disklaimer ah, ini tulisan membicarakan soal ke-aku-an. Seperti barusan, cuma buat pengingat, jadi kalau Anda tidak berkenan ya enggak usah dilanjutin baca.

Berhubung muskil nulis di media besar, menyandang nama sebagai seorang penulis yang dikenal di negara, sebab masih sangat kacau ini tulisan. Ya saya bikin kolam sendiri, kolam yang berisi kumpulan tulisan saya.

Kolam ini namanya SELOKI, biar mengingatkan kalau cita-cita saya adalah mabuk anggur sambil memancing di Sungai Nil.

Tapi tiap hari memancing pukul enam pagi sampai sebelas siang, memancing lagi pukul tiga sampai petang. Jadi membikin saya berpikir ulang tentang rekam jejak kehidupan yang begini monoton.

Saya kok sama sekali tidak puas dengan kehidupan ini.

Nah, waktu mau tidur terus mikir tuh, saya kok ingin jadi orang yang punya banyak manfaat untuk banyak orang-orang tersesat, ya.

Bikin tuh banyak blog yang berisi tata cara, informasi sepele tentang pancing, sama hal-hal yang tampaknya biasa saja.

Kurang, masih kurang, kata hati kecil.

Ingin jadi pejabat gak mungkin, soalnya hati saya terlalu tulus dan lemah lembut. Ingin jadi orang yang ceramah keagamaan tapi kok suka mabuk, sih.

Mau jadi apa gitu selalu ada tapinya. Gitu terus sampai jadwal mancing ikan besoknya.

Yaudahlah ini udah cukup bermanfaat, pikir saya. Memancing jadi sesuatu yang tidak bikin repot orang lain, udah cukup.

Cuma, saya perlu timah pemberat yang lebih besar. Biar enggak terlalu sering terseret arus di lingungan. Biar punya pendirian.

Lagian orang lain hanya melihat dari luarnya. Kalau masuh ke dalam pikiran, beuh, mampus pasti.

Waktu mancing yang dipikirin gak cuma gimana masang umpan, gimana dapat ikan, gimana cara lempar.

Yang dipikirin itu kayak alam semesta, kayak kosong tapi isinya banyak banget.

Usia segini kena life quarter crisis, depresi, frustasi, nyaris bunuh diri.

Mikirin soal tuntutan sana sini, tanggung jawab anak pertama, tulang punggung keluarga, relasi pertemanan yang kacau, melihat dan merasakan kenyataan dunia yang ternyata begini busuk, sampai menyadari sifat kebinatangan manusia secara langsung.

Berengsek memang, tapi enggak usah ikut emosi pas baca ini. Enggak usah juga bilang, kok sama ya sama kehidupanku.

Tenang, tiap orang punya masa sulitnya sendiri. Kita hanya perlu sedikit sabar lebih lama. Kira-kira usia manusia sekarang gak sampai seratus, kok. Kalau usia Anda sekarang sudah tiga puluh, berarti maksimal sabar tujuh puluh tahun lagi. Jelas?

Dari masalah-masalah umum itu yang manusia terdahulu sudah pernah mengalaminya, saya ingin berterima kasih kepada penemu kegiatan memancing ikan.

Rasa-rasanya kalau gak mancing, niscaya stres berkepanjangan.

Balik lagi nih, kalau hanya mancing masih enggak puas. Jadi merasa berdosa menyia-nyiakan waktu.

Terus harus ngapain? Tetap gerak aja, siapa tahu nemu jalan. Wong saya sebenarnya juga masih tersesat.

ihdinas sirotol mustaqim...

Related Posts

Related Posts

Posting Komentar