1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Satu-Satunya yang Serius dalam Kehidupan Adalah Kematian

Dia adalah seseorang yang bersepakat untuk tidak terlalu berhubungan dengan orang lain. Bukan memutuskan, hanya membatasi.

Setiap orang, menurutnya, membawa masalah sendiri-sendiri. Dia menganggap sikap egois orang lain akan menyulitkan kehidupannya. Kehidupan yang sudah cukup berat menjadi lebih berat lagi. Namun, pada suatu pagi yang masih dingin, saya mendengarkan dia bercerita. 

“Kurasa manusia memiliki sisi yang masih murni,” katanya memulai. “Kamu pernah melihat seorang anak yang pergi dari kampung halaman meninggalkan orang tuanya, Rum, misalnya jadi tentara di perbatasan atau punya pekerjaan di tempat yang jauh? Kemudian setelah sekian waktu, anak itu tumbuh menjadi orang yang dewasa. Pulang, yang mana kedatangannya tersebut menjadi sebuah kejutan luar biasa bagi kedua orang tuanya. Lantas dengan sikap spontan; orang tuanya memeluk, menangis terharu, dan tidak menyangka orang dewasa di depannya –yang kapan saja akan selalu dianggap sebagai anak-anak olehnya—sudah berada di depannya. Sikap orang tuanya semacam itu yang aku rasa merupakan sisi murni manusia. Terlepas dari apa yang dia kerjakan di tempat yang jauh itu.”

“Aku pernah melihatnya di video Facebook.”

“Tepat! Aku juga melihat dari sana. Sampai sekarang pun tidak pernah lupa.”

Dia yang duduk di samping saya, lebih memilih berhubungan dengan ikan daripada manusia. Setiap pagi pukul enam, dia mengajak saya memancing di sungai.

Kalian tidak akan pernah tahu bagaimana anehnya perasaan memancing ikan di sungai yang jelas-jelas tidak ada ikannya.

Namun kita berdua tetap berangkat. Selain menganggur, saya juga tidak ada kegiatan yang cukup penting di setiap pagi hari.

“Rum, aku mau mengatakan sesuatu padamu—”

“Aku tahu!”

“Tunggu, sabarlah dan dengarkan seperti biasa.”

“Baiklah.”

“Satu-satunya yang serius dalam kehidupan adalah kematian.”

“Kamu benar.”

Saya sudah sangat hafal dengan kalimat itu, satu-satunya yang serius dalam kehidupan adalah kematian, sebab akan selalu dia katakan setiap kali memancing. Setiap saat-saat menunggu pelampung bergerak, setiap saat-saat sudah mulai membicarakan tentang persoalan hidup dan manusia.

Orang yang dengan nama-nama tetangganya saja tidak tahu itu tiba-tiba berdiri. Memutar pinggang dan punggung. Lantas duduk lagi di atas batu bulat yang bentuknya seperti pantat.

Wajahnya tampak muram seperti biasanya. Mirip air yang tidak bening dan tidak keruh, air yang mengalir pelan berwarna biru tua di depan kami berdua.

“Saat mendengar kabar tentang kesehatan seseorang, siapa saja, menurun. Aku selalu bersedih.”

“Ya, aku juga tahu itu.”

“Hari ini sebenarnya aku mendapat kabar kurang baik soal kesehatan kakek dan nenek, juga soal kesehatan orang tuaku.”

Saya diam sejenak, pembicaraan macam begini bisa berakibat pembunuhan jika salah menanggapi.

“Tapi memang konyol semuanya, haha,” lanjutnya. “Pada detik itu aku menyadari kesehatan benar-benar penting dan ingin merawat kesehatan dengan sebaik mungkin. Bergerak di tiap pagi, tentunya selain memancing, melakukan aktivitas yang bermanfaat, makan makanan organik, sampai berhenti merokok dan mabuk. Tapi satu detik berikutnya, aku akan berpikir seberapa baik kita menjaga kesehatan, pada akhirnya tetap mati juga.”

“Kamu tidak salah, tapi waktunya semakin cepat.”

“Aduh, Rum, apa bedanya mati muda dengan mati tua?”

“Sepertinya beda.”

“Masing-masing punya kelebihannya sendiri.”

“Maksudnya?”

“Kalau mati muda bagi orang-orang yang sudah berpengaruh dan memiliki peran luar biasa di dunia, mereka akan menjadi legenda. Sedangkan mati muda bagi orang-orang seperti kita yang nirmanfaat ini, akan membuat orang lain terbebas dan tidak terbebani.”

“Astaga, pikiranmu negatif sekali.”

“Tidak, tentu tidak, aku pikir hidup yang sekarang merupakan azab dari perbuatan buruk yang kita lakukan di masa lalu.”

“Sepertinya itu hanya alibimu untuk membenarkan kehidupanmu yang penuh mendung dan bermalas-malasan saja.”

“Kata-katamu, lumayan tepat sasaran juga.”

“Eh, kalau mati tua?”

“Kalau mati tua bagi orang-orang yang sudah berpengaruh dan memiliki peran luar biasa di dunia, bukan menjadi sesuatu yang buruk. Sedangkan mati tua bagi orang-orang seperti kita yang nirmanfaat ini, akan membuat orang lain lebih lama terbebani.”

“Sialan, lama-lama kata-katamu meracuni—"

“Pelampungmu bergerak!” tangkisnya.

Saya buru-buru menarik gagang pancing, ini luar biasa, seekor ikan dengan perlawanan antara hidup dan mati menarik senar sampai berbuni mirip tebasan pedang. Dengan tangan gemetar, tampak ikan Mujair ukuran lima jari, mulai membuat arus di permukaan air.

Beberapa detik kemudian ikan tersebut sudah masuk ke dalam ember plastik bekas cat. Kami berdua kaget, bagaimana di sungai ini bisa ada ikannya.

Tiga jam sudah berlalu dengan menunggu dan berbicara ngalor-ngidul, seperti yang kami bayangkan, tidak ada sambaran lagi. Pelampung diam seperti bersemadi, matahari mulai terik dan membakar kulit yang pada hari-hari sebelumnya sudah terbakar. Kami memutuskan untuk pulang.

Di perjalanan pulang, saya berpapasan dengan tetangga yang namanya saja tidak saya ketahui. Lantas terbesit pikiran yang benar-benar membuat perasaan kacau; tentang keadaan kesehatan keluarga.

Setiap pagi pukul enam, memancing sendiri bisa membuat saya benar-benar sinting.

Satu-Satunya yang Serius dalam Kehidupan Adalah Kematian
Pexels
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar