1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Kejadian Mengharukan Saat Memancing

Kamis pada minggu ini menjadi salah satu hari yang cukup sibuk. Seseorang mesti merapikan rambut, membereskan rumah, dan memasak untuk hidangan nanti malam. Sedangkan, saya buru-buru pusing karena sejak pagi belum memancing.

Lantas menyempatkan diri mampir ke pinggir kali sebagaimana hari-hari setiap hari pada pagi. Kali ini agak kesiangan, biasanya pukul 6 saya sudah siap dengan tangkai pancing. Sekarang sudah hampir pukul delapan, saya agak menyesal.

Beberapa bentar matahari mulai terik. Siapapun tidak ingin terpapar terlalu lama, bukan karena takut menjadi gelap. Melainkan khawatir jika tiba-tiba pingsan lantas tercebur ke dalam sungai. Jika hal demikian sampai terjadi, niscaya terluka, dan yang terburuk tentu saja meninggal dunia.

Saya menepi di tempat yang agak teduh. Datang tiga orang bocah usia sekolah dasar. Mereka membawa masing-masing satu tangkai pancing. Saya bertanya pakai umpan apa. Lantas salah satu dari mereka menjawab bahwa memakai cacing.

Saya kembali menambahi kalau memancing ikan kecil menggunakan cacing cukup sulit, serta menyarankan supaya memakai umpan racikan dari roti dan kuning telur. Bocah yang tadi menanggapi lagi, bahwa yang mudah dicari cacing.

Mereka melihat saya selalu mendapatkan ikan uceng dalam satu lemparan. Kemudian bocah yang tadi bertanya ukuran kail saya. Lantas saya jawab menggunakan kail merek Sasame tipe Sode ukuran 0,3. Mereka bertiga tidak tahu, saya tanya balik mereka pakai kail ukuran berapa. Bocah yang tadi menjawab bahwa ukuran kailnya 1, serta menambahi belinya di toko pancing Mbak Amel.

Saat sedang membara menangkap banyak ikan uceng, seorang lelaki yang agak lebih tua dari saya datang. Dia membawa alat setrum dan saya sudah mau beranjak untuk memasang kuda-kuda buat baku hantam. Lelaki itu justru melempar senyum, mengatakan bahwa yang dia cari bukan ikan melainkan kodok.

Tentu saja saya tetap mengamatinya, mustahil mencari kodok di siang bolong macam begini. Sejauh mata saya menatapnya, lelaki itu tidak turun ke sungai. Lantas ketiga bocah tadi mengabarkan kalau tukang setrum tidak mencari kodok, namun turun ke sungai dan mencari ikan di bagian timur.

Sialan benar, pikir saya. Sejak kemarin ketemu tukang setrum. Tampaknya untuk saat ini, potensi terbaik dari Kabupaten Blitar daerah paling barat adalah tukang setrum. Kemampuan yang sangat tangguh; tahan caci dan maki, niscaya kelelahan, dan siap menerima risiko yang mempertaruhkan nyawa.

Sebab kejadian yang demikian, intensitas mendapatkan ikan menurun drastis. Ketiga bocah tadi sudah pergi entah ke mana. Suasana sudah pengap dan panas luar dalam.

Pada sungai ini, banyak ranting dan sampah. Hal-hal itu sudah membikin senar pancing saya dua kali putus. Saya lantas merapikan alat-alat pancing dan hendak pulang.

Tiba-tiba ketiga bocah datang lagi dengan sepedanya. Memberikan kepada saya satu plastik es teh yang mereka beli. Saya hendak menolak, mereka terus memaksa katanya tidak apa-apa. Namun akhirnya saya benar-benar menolaknya dan mengatakan untuk tidak menjadi orang nirmanfaat seperti tukang setrum ikan.

Di perjalanan pulang, saya merasa bersalah. Harga es teh kira-kira 2.500 saja, namun usaha membelinya dan niat baik atasnya bernilai tidak terhingga. Tiga bocah usia sekolah dasar, semoga kalian memberi manfaat kepada semua makhluk ciptaan Tuhan pada usia yang masih panjang. Semoga. //

Kejadian Mengharukan Saat Memancing


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar