Tampaknya, saya harus benar-benar bersyukur atas hari-hari selama ini meski monoton begitu-begitu saja. Berangkat memancing pukul tiga, pulang nyaris maghrib, kemudian menceritakan apa saja kejadian saat memancing kepada ibu.

Waktu-waktu yang menurut saya, tentu saja, sangat hangat. 

Terlepas dari berapa usia saya sekarang. Atau seberapa memusingkan urusan pekerjaan, seberapa raksasa tanggung jawab, atau urusan dunia lain yang remeh temeh. 

Memancing menjadi amat menyenangkan, sendirian, masuk-keluar tempat yang benar-benar belum pernah saya kunjungi. Sebenarnya, ada satu hal yang akan membuat saya langsung putar balik untuk pulang. Bukan ular, buaya, atau hantu sekalipun. Saya akan langsung pulang bila bertemu dengan ulat bulu.

Entah mengapa, dengan binatang sekecil itu saya benar-benar khawatir. Merasa was-was saat memancing kalau di belakang, atas, atau kiri dan kanan, ada pohon-pohon besar. Jangan-jangan di salah satu bagian rantingnya, merupakan sarang ratusan ulat bulu jahanam?!!!

Waktu memancing, kerap bertemu dengan orang sekitar sungai atau kali di lingkungan itu. Tadi bertemu kakek tua yang merenung dan tidak melakukan apa-apa di pinggir kali. Kemarin bertemu dua bocah kecil yang kemudian saya berikan hasil memancing kepada mereka. Kemarinnya lagi bertemu orang Madura yang pindah ke Blitar, tengah memotong bambu dan menemukan sarang burung.

Tentu bukan hanya cerita menyenangkan. Saya pernah nyaris adu jotos dengan orang sekitar lingkungan itu. Yang datang dari arah hilir membawa alat setrum. Saya bertanya mengapa dia mencari ikan dengan cara setrum, dia menjawab dengan pertanyaan bahwa mengapa saya bertanya begitu. 

Dari jawaban itu sudah terasa niat kurang baik. Saya minta dia untuk naik dari air dan berbicara baik-baik. Namun dia mulai mengejek dengan untukmu ikanmu, dan untukku ikanku! Saya memakinya dengan wong koyok jancok, tuwek pekok, cok. Dia buru-buru naik dengan marah yang teramat, tentu saja, saya langsung kabur dengan motor. Pulang sambil misuh-misuh.

Sampai di rumah, saya akan menceritakan semuanya kepada ibu. Termasuk kelakukan tukang setrum yang seolah-olah punya hak melakukan ilegal fishing sebab tempat tinggalnya berada di sekitar sungai itu. Demikianlah, ibu adalah satu-satunya orang tua yang saya punya saat ini.

Saya benar-benar menikmati dan bersyukur dengan hari-hari yang begitu. Berangkat memancing pukul tiga, pulang nyaris maghrib, kemudian menceritakan apa saja kejadian saat memancing kepada ibu. //

Bercerita tentang Memancing kepada Ibu