Hari ini Minggu, 30 Mei 2021, saya tengah tidur siang yang sangat nyenyak. Kemudian telepon berdering terus, mengabarkan tentang suatu peristiwa. 

Bikin saya bangun dalam keadaan kurang baik. Biasanya saya terbangun dengan alami nyaris pukul lima. 

Namun sore ini, pukul empat saya sudah mengambil kunci motor dan topi, menuju ke kali dengan buru-buru.

Di sana berkumpul sepuluh manusia yang benar-benar menyebalkan. Kegiatan mereka tidak salah: mencari ikan. Hanya saja caranya mencari, baik di dunia maupun akhirat, niscaya keliru: dengan obat (putas).

Seketika saya naik pitam, bertanya dengan nada yang benar-benar tertahan mirip bendungan nyaris jebol.

Ide ne sopo mutas ndek kene?!

Perbedatan sempat terpicu dalam waktu sangat cepat. Kemudian sepuluh orang itu satu per satu naik dari kali, pergi bergerombol seperti orang habis perang. Mereka satu per satu melewati saya yang masih berdiri di pinggir kali sendirian.

Dari tatapan mereka, tampaknya ingin menuntaskan adu jotos.

Kalaupun benar akan tawuran, saya pasti kalah. Baik babak belur maupun kalah di depan regulasi. Di desa ini belum ada peraturan yang mengatur tentang cara mencari ikan di kali. 

Regulasi apes, meskipun ada, yang jelas di desa ini sama sekali tidak diterapkan!

Saya mencoba menjaga ekosistem sungai, ikan-ikannya, kualitas airnya, dan segala macam di dalamnya. Bangsat sekali, saya jadi kelihatan seperti orang suci. 

Padahal, saya hanya geram lantaran sungai itu, yang merupakan aliran sungai depan rumah saya, merupakan tempat biasanya saya memancing ikan.

Barangkali saya juga punya kesalahan, datang dengan marah-marah kepada manusia-manusia itu. 

Terlepas dari itu semua, saya ingin mengatakan ini: sungai bekas orang mancing masih bisa diputas dan mendapat banyak ikan, namun tidak sebaliknya COK!

Tukang Putas Blitar