Kulitnya terbakar lantas jadi merah setengah hitam. Saya bisa menebak apa yang ada dalam pikiran hadirin sekalian. Mengapa orang itu benar-benar totalitas dalam melakukan sesuatu yang nihil manfaat? 

Kulitnya gemetar dan jadi keriput sebab kedinginan. Saya juga bisa menebak apa yang ada dalam pikiran hadirin sekalian. Mengapa orang itu benar-benar totalitas dalam melakukan sesuatu yang nihil manfaat?

Orang itu, saya, yang dua hari ini mengalami cuaca ekstrem dalam memancing.

Kemarin panas seolah matahari dan bumi dalam jarak sekian senti. Sedangkan hari ini hujan sangat deras, diantar oleh angin dingin, serta petir di ujung sana.

Barangkali memang kegiatan memancing yang demikian radikal ini lebih baik disudahi. Akan sangat sayang kalau orang-orang yang melihatnya kemudian menanggung dosa sebab gunjing dan cela.

Kepanasan dan kehujanan tampak benar-benar nirmanfaat kala engkau memancing sendirian, di sungai tengah hutan, serta pada waktu yang jauh lebih nyaman untuk tidur dan ber-kelon.

Tapi saya tetap berangkat, menuju spot mancing paling sunyi dan sepi. Yang angker hingga curam. Tergelincir dan jatuh waktu berjalan menjadi salah satu kejadian buruk yang selalu ada.

Kini luka di tubuh laki-laki ini kian banyak pula. Kulitnya kusam, tenaganya hilang, jiwanya sinting, ikannya nihil, dan temannya tidak ada.

Sampai sekarang semua kerja keras dalam memancing itu masih menjadi pertanyaan belaka. Apakah benar-benar ada manfaat yang diperoleh daripadanya?

Saya jadi agak setuju dengan gunjing dan cela orang-orang itu. Tampaknya apa yang saya lakukan dalam memancing hanya kesia-siaan saja.

Aih, sebenarnya tidak hanya memancing, semua yang saya lakukan dalam hidup merupakan kesia-siaan. Ini memang pikiran yang cukup buruk. Setidaknya, oooooh sungguh setidaknya, dalam waktu panjang memancing yang sendirian itu, tidak ada orang celaka tersebab ulah saya.

Pesimis sekali nada bicaramu?

Setiap ada harapan, kecewa selalu mengekor. Saya belajar dari memancing kala berharap mendapatkan ikan yang besar-besar dan banyak sekali. Waktu harapan yang demikian berbenturan dengan kenyataan yang sebaliknya, tidak dapat ikan sama sekali, ketika pulang rasanya lemas dan capai. Mirip tentara kalah perang, laki-laki yang ditolak lamarannya, atau raut wajah seseorang 10 menit sebelum menuntaskan bunuh diri.

Aih, mungkin agak berlebihan. Namun cukup menjelaskan bagaimana mental seorang pemancing kena. Jika dirinya selama tiga bulan berturut-turut, setiap hari, sepanjang waktu, ketika memancing tidak pernah mendapatkan ikan sama sekali. Itu sangat sakit. Makanya tidak perlu harapan yang tinggi. Pulang dari memancing selamat atau berdoa tidak dipatok ular saat di lokasi saja sudah syukur.

Banyak binatang yang akan kita temui di lokasi masih perawan. Kalau tidak terbiasa melihatnya, kamu niscaya jijik dan bergidik.

Misalnya, kamu pernah melihat cacing parasit yang membuat inangnya menjadi zombie? Wujud cacing ini mirip bulu yang panjang atau lidi yang lentur. Seolah-olah ranting saja, tetapi waktu dipegang tiba-tiba bergerak, ini makhluk hidup bukan benda mati.

Pasti kamu akan kaget! Kemudian muncul pikiran aneh jika kamu berenang dalam sungai itu, bagaimana kalau cacing parasit itu masuk ke dalam lubang kelamin dan membuat torpedo kamu jadi zombie? 

Nama cacing yang mirip lidi dan bergerak super lamban ini adalah Nematomorpha atau Horsehair Worm

Kamu pernah duduk berjam-jam dan di sekitar pantatmu ada banyak sekali kaki seribu atau keluwing? Ini bukan kelabang yang punya racun, tetapi melihat keluwing yang berkumpul banyak begitu ngeri-ngeri sedap juga.

Atau misalnya tentang cerita-cerita tentang hantu dan penunggu lokasi memancing yang amat kental dalam masyarakat kita. 

Jadi sebenarnya, memancing membutuhkan kenekatan dalam titik lumayan mengerikan. 


Pemancing laki-laki maupun perempuan
yang memancing seperti berperang
bersenjata lurus joran andalan
berpeluru butir timah kail tajam
berbaju rompi anti hujan
kalian telah terlatih
lebih daripada apa yang bisa
diajarkan oleh grup media sosial
untuk mengetahui apa bedanya
antara tarikan dengan sambaran
antara umpan alami dengan tiruan
antara ikan dengan sangkutan
antara murung dengan tenang.
(Modifikasi puisi Roem Topatimasang dalam buku Sekolah Itu Candu di bagian 7, Sekolah Anak-Anak Laut pada Mei 2021).


Dan inilah jalan yang saya pilih dengan sepenuh hati. Saya akan tetap memancing meskipun panas atau hujan. Sendiri atau ada teman. Di pinggir jalan raya atau pedalaman. Dapat ikan atau boncos berkepanjangan.

Pada waktu-waktu tertentu, saya berterima kasih kepada orang-orang yang mengkhawatirkan. Itu menjadi semangat tersendiri. Sebab memancing, bagi saya mirip berperang.

Memancing adalah berperang lawan ikan; hidup, mati, atau berakhir sebagai tahanan di kolam. //

Pemancing Radikal, Kemarin Panas Hari Ini Hujan Deras