1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Melatih Kesabaran dalam Memancing

Satu-satunya hal yang membutuhkan kesabaran saat memancing, bagi saya, bukan menunggu ikan menyambar umpan. Melainkan ini: bertemu tukang setrum berengsek yang tidak punya malu.

Persetan dengan alasan lapuk orang-orang itu melakukan ilegal fishing. Alasan seperti, untuk memenuhi kebutuhan.

Saya bertanya, apakah benar-benar tidak ada hal yang bisa orang-orang itu lakukan guna memenuhi kebutuhan hidup selain mencari ikan dengan setrum?!

Nyaris semua aliran sungai di daerah Blitar disasak mereka. Para tukang setrum, saya akui, adalah orang yang tangguh.

Mereka mampu menahan caci dan maki, punya mental yang besar waktu hendak berangkat, nahasnya, ketangguhan tersebut berada di jalan yang niscaya keliru!

Mulai dari Sungai Jati di Kecamatan Udanawu, Sungai Termas di Kecamatan Ponggok, Sungai Kerjen di Kecamatan Srengat, dan sepanjang aliran Sungai Brantas, sudah dijamah dengan cara demikian tersesat!

Tulisan ini bukan sekadar omong kosong. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, para tukang setrum yang menjadi budeg waktu diperingatkan itu, telah benar-benar merusak ekosistem sungai.

Kalau kalian tiada percaya, wahai para pembaca yang semoga budiman, kalian mesti melihat kenyataan di sungai. 

Saya sebagai seorang pemancing ikan, merasa sakit hati dengan kelakuan itu. 

Tolong, benar-benar saya minta tolong, meskipun kehidupan kalian tiada pernah berguna, menjadi sampah masyarakat, atau putus asa sepanjang waktu, tetaplah hidup tapi jangan coba-coba jadi tukang setrum ikan!

Saya sangat berharap setidaknya ada peraturan yang nyata diterapkan di daerah Blitar tentang larangan nyetrum ikan. Tentu saja, hingga pada wilayah desa secara masif.

Bagaimana dengan hukuman yang nyata setelah sosialisasi di desa-desa? Dengan menerapkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 8 Ayat (1) tentang Perikanan juncto Pasal 100 B Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 Tentang Perikanan?

Setahun saya pikir cukup membuat orang-orang itu berpikir dua kali. Menjadi berpikir seribu kali sebelum nyetrum ikan di sungai jika sudah ada penerapan hukuman yang nyata.

Baca juga:

Satu hal lagi tentang kesadaran.

Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai "merasa" memiliki hak dan kuasa atas sungai dan isinya. Mereka sangat mungkin melarang siapapun yang berasal dari luar desa yang akan melakukan penyetruman ikan di sungai, bahkan dengan mengancam yang ngerinya nauzubillah.

Namun sialnya, mereka sendiri akan melakukan eksploitasi lingkungan sungai dengan setrum dan tiada siapapun yang mampu melarang.

Realita ini cukup lama saya lihat. Sebagai seseorang yang menghabiskan lebih banyak waktunya di pinggir sungai, saya kerap bertemu dengan tukang setrum. Melempar pandangan saling benci dan dengki. Pada saat bersamaan, kaki menyiapkan kuda-kuda kalau-kalau hendak adu jotos.

Namun buru-buru saya ingat, ini adalah satu-satunya melatih kesabaran dalam memancing. //

nyetrum ikan

nyetrum ikan

nyetrum ikan


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar