1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Hubungan Remeh Temeh yang Menyulitkan

Akan saya ceritakan sedikit kepadamu, tentang sebuah hubungan remeh temeh yang menyulitkan.

Dini hari pukul 00.12 di salah satu hari bulan puasa, seorang lelaki tengah duduk di pinggir jalan, di trotoar. Di bawahnya adalah tikar lusuh yang bau, di atasnya rimbun pohon entah apa namanya, di sisi kiri dan kanannya adalah kedinginan.

Dia telah lama tidak berjumpa dengan pacarnya. Usia lelaki itu dua puluh lima, masih disibukkan dengan pikiran tentang pasangan hidup. Dia bukan orang yang zuhud dan taat beragama, terbukti selama enam hari puasa, satu pun tiada yang tuntas.

Pacarnya yang perempuan itu, masih bekerja di entah berantah. Setiap hari selalu begitu: pagi sampai pagi lagi kerja. Ambil sisi positifnya, dia adalah perempuan pekerja keras yang jarang sekali mengeluh.

Namun setiap hal yang diusahakan seseorang, akan mengorbankan, atau lebih lembutnya, akan menumbalkan sesuatu yang lainnya. Dengan bekerja yang demikian monoton, tidak ada waktu lain tersisa untuk menikmati hidup sebagaimana anak muda pada umumnya.

Akhirnya, pasangan itu jarang bertemu. Sama sekali.

***

Minggu sudah menjadi bulan, dan tiga bulan adalah waktu yang cukup lama. Sebagai seorang lelaki yang ingin tampak sebagai seorang lelaki, tentu saja, dia ingin mengajak pacarnya itu berjumpa. Barang beberapa jam di waktu yang benar-benar luang, tanpa ada urusan apa-apa selain berpadu kasih berdua.

Pada pukul 00.14 di hari yang sama, dia mengirim pesan kepada pacarnya di seberang lautan itu. Mengungkapkan keinginannya untuk berbuka puasa bersama-sama. Ya, meski lelaki itu pasti tidak puasa di hari tersebut.

Ajakan yang demikian baru mendapat respons pada pukul 2.16 dengan kiriman gambar daftar pekerjaan yang harus dia lakukan seharian. Nahas, sial benar, pikir si lelaki.

Udara dingin yang tadi terasa makin gila saja setelah membaca balasan itu. Dia mematikan rokok, mencari kunci sepeda motor lapuk yang selalu saja hilang, kemudian dengan malas pulang. 

Sesampainya di rumah, dia membalas pesan dari sang pacar dengan amat hati-hati. Berusaha mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. 

Sebelum tidur, dia berdoa supaya ketika matahari muncul sampai tenggelam, keadaan benar-benar baik-baik saja.

***

Hari itu dilalui dengan tidur yang membosankan. Menghabiskan waktu dengan sia-sia. Tanpa semangat dan nyaris putus asa. Dia membuka Twitter, satu-satunya media sosial yang dia punya, dan menemukan kata-kata ini: usahaku wes tekan pasrah.

Tetiba saja semangat yang redup itu kembali menyala. Tidak ada yang perlu disalahkan pada keadaan begini, termasuk keadaan itu sendiri, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Seorang lelaki usia dua puluh lima mestinya sudah dewasa.

Sebagaimana dada yang bidang, hati yang luas dalam sanubari harus dimiliki. Sehingga mampu menangkal pikiran buruk dan anggapan negatif. Dia tenang, berdoa untuk kesekian kali agar keadaan baik-baik saja.

Firasat itu nyata. Dia mendapati pacarnya tengah sibuk dengan pekerjaan, dari pagi hingga pagi lagi. Menghabiskan waktu dengan rekan kerja lelakinya, berbuka puasa bersama yang sebenarnya, dan hal sederhana itulah yang tokoh ini inginkan.

Di tempat lain, tokoh dalam cerita ini mencoba pasrah. Sebab semua usaha untuk kebaikan, semua doa untuk kebaikan, sudah dia lontarkan seiring berjalannya waktu. Namun keadaan begini menyulitkan.

Tidak ada yang perlu disalahkan pada keadaan begini, termasuk keadaan itu sendiri.

Lelaki itu sekarang berada di depan saya. Kemudian mengatakan dengan amat menyedihkan, bahwa di dunia ini tidak ada yang dia miliki. 

Kabar baiknya, hingga kini dia enggan melakukan perbuatan buruk kepada orang lain. Buktinya? Setelah dia selesai bercerita, akan mendengarkan kisah tentang hubungan remeh temeh yang menyulitkan dari saya.

//

Hubungan Remeh Temeh yang Menyulitkan


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar