1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Percakapan dengan Sayangku

Percakapan di suatu ruangan di tengah hujan.

Roma: Sayang, aku ingin cerita tent—

Sayang: Aduhai, engkau tidak pernah berhenti. Aku sudah tahu apa yang hendak engkau ceritakan kembali, sayang. Alur bicaramu yang demikian sama amat mudah ditebak. Pertama, engkau akan menceritakan tentang cita-cita indah yang seolah-olah dapat dengan mudah kita capai. Kedua, engkau terperosok dalam perjalanan menuju cita-cita indah yang ternyata fana itu. Lantas engkau akan menceritakan tentang uang di tabungan milikmu yang selalu habis untuk beli alat pancing, tentang dirimu yang selalu merasa tidak dipedulikan siapa saja, tentang acara mabuk di Tulungagung dengan alibi menenangkan pikiran, tentang penyesalan karena sudah menyia-nyiakan waktu selama dua puluh empat tahun, tentang rasa malas yang raksasa, tentang beban pikiran yang sebenarnya tidak ada, tentang kerja keras yang hanya di angan-angan, tentang cita-cita menemukan uang satu miliar, tentang temanmu yang mengkhianati, tentang semua masalah dunia yang sebenarnya pernah dialami setiap manusia di masa lalu. Ketiga, engkau akan memintaku memelukmu, mengelus lembut rambutmu, dan mencium pipi atau bibirmu. 

Roma: Lantas?

Sayang: Sudah jelas ‘kan?

Roma: Engkau akan meninggalkanku?

Sayang: Jangan berlagak bodoh begitu, sayangku. Engkau tahu tidak mungkin ada perempuan di muka bumi yang mampu menerima dirimu yang seluruhnya adalah keburukan itu. Sini, sini, datang ke pelukanku. Setelah itu akan kudengarkan semua keluh dan kesahmu yang tiada pernah berakhir.

Roma: Oh, sayangku, andai engkau benar-benar mengatakan itu dan tidak menjadi bagian para gerombolan yang mengkhianatiku.

Roma tidak bisa bicara lagi lantaran diapit dua buah dada ranum sampai mati. //

Percakapan dengan Sayangku
Related Posts

Related Posts

Posting Komentar