Pada malam-malam seperti ini, saya sempat berpikir untuk segera mengakhiri semuanya: melakukan hobi tanpa perlu melaksanakan tanggung jawab sama sekali.

Barangkali benar kata seorang teman saat mabuk kemarin, bahwa seorang laki-laki yang lelah membutuhkan istirahat.

Pada kurun waktu yang cepat, tiga bulan, saya telah melakukan berbagai upaya. Sebagian besar gagal, sisanya sekarat tidak mau jalan: terancam gulung tikar.

Ini bukan soal mengaduh. Ini tentang sebuah kekonyolan bangkit kembali meski sudah hancur lebur berkali-kali.

Saya ingat sebuah cerita tentang hidup seseorang di masa lalu. Orang itu hidupnya jauh lebih sengsara jika dibandingkan dengan yang saya alami belakangan.

Termasuk hidup para nabi dan orang suci yang penuh ujian. Mereka seharusnya tidak demikian, orang baik mestinya hidup mulia.

Pada beberapa titik saya mulai tahu, mereka memberikan contoh bahwa masalah paling berat pun bisa diselesaikan dengan amat baik.

Jika upaya manusia belum genap menguraikan keruwetan yang amat kompleks, saat itulah tangan Tuhan akan menolong melakukannya.

Teman saya yang pemabuk percaya tangan Tuhan itu Maha Kuasa, sehingga tiada masalah apapun di dunia yang remeh ini yang tidak bisa diuraikan.

Masalahnya, teman saya itu justru agak menyangsikan keberadaan Tuhan.

Dia berkata bahwa pada masa-masa belum berdosa, doanya tidak pernah dikabulkan. Terlebih doa-doa lain ketika dia tercebur dalam kegelapan dunia yang demikian, tercebur dalam kolam anggur yang memabukkan.

Namun saya bantah ucapannya bahwa dirinya sok tahu. Dia pasti tidak menyadari bahwa dalam setiap detik tarikan napasnya ada campur tangan Tuhan.

Dia justru menertawai saya bahwa bagaimana seseorang yang sama-sama pendosa dan pemabuk berkata demikian suci. Lantas dia berikan satu tuangan yang saya terima dengan hormat.

Ruangan itu sepi belaka, hanya ada suara tetesan air hujan yang jarang.

Dua jam kemudian, kehancuran itu datang bertubi-tubi. Untungnya kami sudah lumayan hilang akal. Kehancuran yang cukup membuat teman saya membanting ponselnya.

Dikabarkan melalui pesan singkat tengah malam lewat 30 menit. Bahwa listrik padam dan ikan yang diternakkan mati nyaris semuanya.

Dengan nada putus asa, dan kalau saya tidak salah lihat, ada air mata di sana, dia mempertanyakan Tuhan yang mana yang ikut campur.

Saya agak segan menjawab, saya tuangkan satu seloki takaran spesial yang penuh untuknya. Setelah dia teguk seluruhnya, saya jawab bahwa mungkin dirinya adalah salah satu orang suci yang mendapatkan ujian amat berat.

Pada malam-malam yang begini, saya masih sempat mengingat percakapan dengan teman kemarin. Lantas bertanya sedang apa yang dilakukan olehnya sekarang.

Mengurus ikan-ikan yang mati, membeli satu botol anggur yang ditenggak sendirian, atau salat taubat di musala dekat rumahnya dari isya hingga subuh.

Yang jelas dirinya tidak mungkin bunuh diri. Saya cukup mengenal orang itu. 

Ini bukan soal mengaduh. Ini tentang sebuah kekonyolan bangkit kembali meski sudah hancur lebur berkali-kali.

Apakah dia tengah berpikir di malam ini, sampai pusing, menangis, lantas tertidur saking lelahnya. Kemudian ketika bangun besok siang, beraktivitas dengan melanjutkan upaya-upaya baru yang berpotensi gagal dan sekarat tidak mau jalan, seperti yang saya lakukan?

//

Pada Malam Seperti Ini - Seloki