Sial, sial benar, nasib begini buruk dan berat. 

Tidak, Sayangku, aku sekarang tengah mencoba untuk memahami bahwa manusia memiliki ego masing-masing. 

Aku tidak sedang berkeluh dan berkesah sebagaimana yang engkau pikirkan.

Namun lihatlah di sana, di daerah tanah timur wilayah ini, sedang berkumpul sekitar enam sampai tujuh orang yang bekerja sama untuk sebuah ketololan. Sayangnya, aku ikut di tengah-tengah mereka.

Agaknya benar ucapanmu waktu setengah mabuk dulu, bahwa aku adalah manusia yang terpilih untuk dianggap tidak ada.

Belakangan kala memancing aku memikirkan ucapanmu itu. Membatinnya sambil memasang umpan, menyelam lebih dalam ketika menarik ikan. 

Lebih sial lagi, aku sempat berpikir untuk terjun dari bendungan.

Engkau pasti sedih kalau aku sampai mati, begitu pula beberapa orang di rumah itu. Selebihnya, mereka yang lainnya mungkin akan sedih lima menit saja, kemudian melupakan bahwa aku pernah ada di dunia.

Mereka yang lain itu akan melanjutkan kerja sama tolol. Makin memupuk egonya masing-masing supaya lebih subur dan mengakar.

Misalnya aku tetap hidup dalam keadaan yang begini sial, engkau dan beberapa orang di rumah itu akan tetap sedih. 

Sebab tidak ada yang bisa diharapkan dari kesia-siaan di umur yang menginjak seperempat abad ini. 

Lantas apa, Sayang, yang membedakan antara aku ada dan tiada?

Sampai saat ini aku masih menerima, masih menahan segala ambisi purba dan sifat kebinatanganku di dalam sanubari yang busuk. //

Diabaikan dan terima