1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Memegang Nokia, Menggenggam Masa Lalu

10 tahun menjadi waktu yang cukup singkat. Lebih dari 10 tahun lalu saya sudah memiliki handphone, dari merek Nokia.

Saya masih ingat sedang bermain di gundukan pasir membuat gua. Di bawah pohon kersen yang rindang.

Usia saya waktu itu belum genap 10 tahun.

Saya dipanggil nenek saya untuk menemaninya pergi ke pasar.

Tidak naik sepeda motor, saat itu masih jarang orang punya motor. Dan jarak empat kilometer menjadi hal biasa untuk ditempuh dengan sepeda pancal, bahkan berjalan kaki.

Ketika pulang, sebagai cucu yang baik dan patuh, saya dibelikan handphone pertama.

Tentunya setelah merengek di hari-hari sebelumnya; bahwa teman-teman sepermainan sudah punya HP. Setelah menunggu sekian bulan. Setelah saban malam tidur sambil berandai-andai punya HP seperti milik teman-teman yang lainnya.

HP Nokia lawas yang dulu dianggap sangat mahal, sekarang malah tidak lebih mahal daripada harga satu kaus.

Setelah dibelikan, saya senang bukan kepalang. Saya ingat, saya menjadi cucu yang jauh lebih baik, lebih patuh, lebih bahagia daripada sebelumnya.

Saya kemudian membawa HP baru tersebut secara diam-diam ketika mengaji Quran di Tempat Pendidikan Quran (TPQ) di musala desa.

Di sela waktu istirahat, saya masuk ke tempat persembunyian di salah satu ruangan musala tersebut bersama teman-teman.

Kemudian mengeluarkan HP Nokia jadul, teman saya ada yang punya Motorola, ada pula yang punya Sony Ericsson (Soner).

Saat itu seseorang yang punya HP Soner dianggap yang paling kaya raya.

Saya mengagumi HP mereka, begitu pula mereka mengagumi HP saya.

Tidak ada yang spesial jika mengingat kejadian tersebut di usia yang lebih dari 24 tahun ini, kecuali kenangan.

Saya ingat pernah bangga memamerkan tema HP Nokia jadul yang bisa diubah. Saya juga ingat begitu bangga membagikan ‘pesan gambar’ berbentuk pixel yang biasa saja.

Ketika ustaz datang ke ruangan tersebut. Kami segera menyembunyikan HP masing-masing.

Entah kenapa kami menyembunyikannya, sebab sang ustaz akan tetap tahu.

Ustaz itu merampas HP kami, membuat memar telinga dan lengan kami, dan sebegitu takut kami untuk pulang ke rumah.

Pasti nenek akan sangat marah dan justru menambah siksaan di telinga dan lengan kami, atau di tempat yang lainnya.

Benar saja, sampai rumah ternyata HP rampasan sudah ada di sana. Di sebelah nenek, di sebelah sapu lidi yang sangat mengerikan.

Saya dimarahi benar-benar. Saya disuruh tengkurap di pangkuannya, kemudian dengan sigap nenek ambil satu atau dua batang lidi.

Saya kena cambuk yang cukup untuk membikin jera bawa HP ke TPQ.

Setelah hari itu, saya tidak lagi membawa HP keluar rumah. Saya begitu semangat untuk segera pulang TPQ dan bermain dengan HP tersebut.

Meski tidak ada permainan di HP yang saat ini menyenangkan, kecuali kenangan.

Tidak ada hal aneh yang saya lakukan saat kecil. Foto porno, anggur merah super, media sosial, internet, game? Tidak ada di zaman itu.

Saya hanya menjadi anak baik-baik yang suka mencari ikan di kali. Bermain di gundukan pasir bawah pohon kersen. Atau memancing di waktu-waktu tertentu, yaitu ketika dibelikan senar dan kail oleh nenek dari pasar.

Toko pancing hanya ada di pasar.

Pergi ke pasar sendirian merupakan tindakan jahanam. Jadi saya tidak berani membantah larangan itu.

Pergi ke pasar adalah kegiatan orang dewasa. Sedangkan anak kecil tidak perlu melakukannya. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Namun kita hidup di zaman sekarang, sayang.

Semua menjadi masa lalu dan pada beberapa hal, masa lalu itu bisa digenggam.

Seperti ketika saya membeli HP Nokia jadul ini barusan, kemudian menulis beberapa catatan yang sangat pendek ini.

Meski tidak lebih dari 10 menit, waktu-waktu yang sudah terlewati lebih dari 10 tahun lalu berhasil saya pegang.

Setidaknya, saya merasa hangat. Sangat hangat.

Nokia 3100


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar