Pada suatu ketika...

Saat saya tidak sengaja memegang ponsel pintar, kemudian membuka media sosial. Dalam gua yang dingin dan gelap ini, saya merasa heran dengan kehebohan yang ditampilkan.

Seseorang sedang berambisi menulis dan membagikan kata-kata caci dan maki kepada seseorang yang lainnya.

Lantas orang yang dicaci tersebut membalasnya, dengan caci dan maki yang sama-sama mengerikan.

Dibalas oleh orang yang sama sekali tidak ada hubungannya (mungkin karena dirinya mengetahui adegan caci maki tersebut), dengan caci dan maki yang serupa.

Dibalas lagi oleh orang lain dengan tindakan heboh dan mengerikan hingga negara tempat orang-orang itu hidup binasa.

Untung bukan kepalang, untung sekali, kejadian macam di atas hanya terlintas di benak saya.

Ini pasti karena saya sudah lama berada dalam gua yang dingin dan gelap.

Yang tidak ada cahaya selain dari bara api di ujung jari. Selebihnya hanya hitam belaka.

Saya pasti sudah edan.

Belakangan saya berpikir untuk pergi keluar dari gua persembunyian. Memancing seperti biasanya, menghabiskan waktu dengan canda dan gurauan. Menggerutu pada beberapa hal, kemudian hilang akal karena anggur murahan.

Polos-polos begini saya adalah pendosa yang andal. Ya, walaupun tidak ada yang dapat dibanggakan dari sikap berdosa macam begitu.

Setidaknya, saya hanya merusak diri sendiri. Saya akan mempertanggungjawabkan kerusakan diri kepada yang maha punya. Tanpa melibatkan orang lain sama sekali.

Semoga adegan caci dan maki di media sosial sebagaimana tergambar di kepala saya segera berakhir.

Untung bukan kepalang, hal demikian tidak terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Iya, kan?

seloki jusuf fitroh