1lBn3oUcMXadgYplTY9quoFOh2yQQsKaYuogpOlq

Peguam Itu Berkata Saya Terduga Korban Kekerasan Seksual

Sudah berbulan-bulan saya mengamati dimar yang kian memudar. Sesekali, ngengat-ngengat itu menempel di sana, kemudian jatuh tepat di wajah saya yang masih merona. Rasanya, saya kembali merasakan gerayangan tersebut, dari pusar ke atas, jemarinya mencubit salah satu payudara saya yang mengeras. Cepat-cepat, di ruangan pengap ini, saya memeluk tubuh saya sendiri, merasakan dinginnya lantai melalui karpet usang berwarna biru.

Namun, ngengat lain kembali jatuh seperti hewan-hewan yang putus asa, tetapi kini ada di sisi tubuh saya. Ingatan itu tiba-tiba kembali, tentang tangannya yang terus memaksa membuka selangkangan yang saya kunci, sebab itu adalah harta karun yang tidak ingin saya korbankan. Tanpa sadar, air mata ikut mengalir seperti cemeti, membuat bercak-bercak basah di karpet Nyonya Besar sampai umpatan-umpatan Gramakasi yang mengambang sampai saat ini.

“Apa yang harus kulakukan, Mas?” Cepat-cepat saya letakkan kopi robusta di meja, lalu kembali ke bilik Angkringan Untukmu Indahku guna menggulung karpet biru untuk terlelap. Suara lain terdengar memanggil malam ini, seorang pria yang memakai celana ombre memesan kopi robusta di meja delapan. Dia tampak bukan seperti akademisi, melainkan hanya orang-orang marginal yang kerap menghabiskan malam dengan sia-sia. “Maaf, Mas, aku layani dulu,” ujar saya pada Adrian sambil melongokkan kepala.

Namun, entah kenapa pria itu mengedipkan sebelah netranya sebelum menemui teman-temannya di meja delapan. Saya tidak merespons, hanya mencampur kopi dengan gula pasir seperti pesanan-pesanan yang lain. Lalu, melirik Adrian yang memeriksa berkas-berkas dari stopmap berwarna coklat. 

“Cepat ya, Sayang!” teriak pria yang memakai celana ombre sambil terkekeh. 

Cerpen Peguam Itu Berkata Saya Terduga Korban Kekerasan Seksual

Dia tampak memetik gitar dan bernyanyi dengan teman-temannya yang memiliki rambut bergaya mohawk. Sedangkan, di sisi lain, saya lihat bagaimana Adrian menatap saya, sebelum mulai tersenyum iba pada risiko profesi saya sebagai penjaga Angkringan Untukmu Indahku. Akan tetapi, tidak masalah, selama saya tetap didengarkan beberapa orang sebagai perempuan, kan?

Dengan gugup, saya mulai perbincangan seperti permulaan, “Apa yang harus kulakukan, Mas?”

Tanpa mau menjawab, Adrian menyodorkan selembar surat somasi dengan khidmat. “Kamu hanya terduga korban kekerasan seksual.”

“Maksudnya?

“Sejak awal aku mengatakan agar kamu mau mengikuti nasihat-nasihat Pak Mutawalliman.” Adrian membenarkan posisi duduknya dengan nyaman. 

Kini, dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada saya yang ada di seberang meja. “Tapi kenapa kamu malah membawa-bawa kasus ini sampai pada media?” tanyanya lirih.

Saya hanya menekan jari-jari saya ke gagang kursi sampai memutih.

“Harusnya kamu tahu, barang siapa yang melaporkan sesuatu berarti dia wajib membuktikan, sedangkan barang siapa yang menuduh, dia juga wajib untuk membuktikan,” terang Adrian. “Sebenarnya, ini semua karena ulahmu sendiri, kini kantorku menjadi kuasa hukum atas terduga pelaku.”

Bibir saya hendak mengucapkan sesuatu, tetapi entah kenapa terasa begitu kelu.

Baca juga:

“Dan,” itu Adrian, “Aku sebelumnya sudah memperingatkan kamu, ya,” nada suaranya terdengar sangat rendah. 

Kemudian, saya melihat kekecewaan yang dalam di netranya. “Jika sudah seperti ini,” katanya, “sebaiknya kamu bicara pada Pak Mutawalliman untuk mencari solusi.”

“Mas ...,” kalimat saya terputus menjadi air mata.

“Nanti,” Adrian terus bicara, “kamu sebaiknya membuat surat pernyataan untuk meminta maaf, sebab telah mencemarkan nama baik Gramakasi. Soalnya, sampai saat ini kamu belum bisa membuktikan semuanya.” 

Pria itu menyeruput kopinya sebentar, sebelum kembali menatap saya dengan tatapan yang sendu. 

“Aku paham apa yang kamu ceritakan sebelumnya,” ujarnya, “tetapi mau bagaimana lagi, sampai sekarang belum ada bukti sama sekali. Apalagi, dalam Pasal 184 KUHP hal ini telah diatur, di mana kamu harus memenuhi dua barang bukti sekaligus.”

Tanpa sadar saya melempar kopi robusta pesanan Adrian ke lantai. “Apa aku harus dirudapaksa dulu untuk menuntut keadilan?” saya langsung berdiri sambil sesenggukan.

Orang-orang menatap saya dengan bingung, termasuk pria celana ombre yang berhenti menyanyi dan Nyonya Besar yang entah sejak kapan berdiri beberapa meter di belakang. 

Mereka lantas menguatkan pundak saya dengan memeganginya dengan lembut, mencoba melindungi perempuan yang tampak lemah di depan pria kekar yang lain.

“Kamu ini peguam, tetapi apa yang kamu lakukan saat ini, berengsek?” Saya menunjuk-nunjuknya dengan air mata yang tidak kuasa dibendung. 

Adrian merapikan barang-barangnya ke dalam ransel abu-abu. “Somasi adalah surat teguran yang keras, Rin,” katanya tenang. “Jika surat somasi ini tidak segera ditanggapi,” tangan Adrian menutupi selembar kertas yang ada di meja, “akan datang somasi-somasi berikutnya. Seandainya sampai surat somasi tiga tetap tidak ada tanggapan, Gramakasi berhak melakukan gugatan.”

“Kamu sinting!”

“Aku tahu kamu paham dalam hal ini.” Kini Adrian ikut berdiri. “Pasalnya, kamu sendiri juga mahasiswa hukum yang masuk organisasi kejurnalistik, kan? Namun, ingat baik-baik soal kasus Baiq Nuril. Dia dihukum karena dinilai mencemarkan nama baik terduga pelaku.”

Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala karena tidak percaya pada kalimat itu. Adrian adalah peguam kolot positivistik yang menolak menggali keadilan lebih dalam.

Kemudian, Melihat reaksi saya yang memilih tidak bicara, Adrian segera memakai ransel abu-abu di punggungnya. “Maka dari sini, kamu harus bijak. Jangan bicara dengan orang-orang yang tidak bergelut di bidang hukum. Apalagi, dengan golongan-golongan tertentu yang tidak memahami kasus ini.” 

Sebelum melangkah, Adrian kembali berkata, “Saranku, sebaiknya kamu meminta maaf pada Gramasaki.”

Rasanya, seperti dihantam gada. Saya hampir tersungkur seandainya pria bercelana ombre dan Nyonya Besar tidak memapah saya kembali ke bilik yang kerap dipakai sebagai gudang penyimpanan. Dia menggelar karpet biru dengan hati-hati, lalu menyarankan saya untuk bersandar ke dinding.

“Kamu baik-baik saja, Sayang?” tanyanya. Sedangkan, Nyonya Besar tanpa mau berkata apa-apa bergegas keluar untuk melayani pelanggan.

Sebenarnya, saya ingin menangis. Namun, saya tidak ingin membebani orang asing dengan regulasi-regulasi hukum yang mencekik. Dia memilih duduk di sisi saya sambil mendongak ke langit-langit, mengamati dimar yang redup dan tampak dikelilingi beberapa ngengat yang berwarna coklat. Lantas, ingatan-ingatan itu kembali datang seperti kereta, soal Gramakasi yang hendak merudapaksa hingga Mutawalliman yang menawarkan pernikahan.

Baca juga:

Saya hanya perempuan yang menginginkan keadilan, tetapi atas nama kehormatan, universitas menginginkan mediasi secara tertutup, bahkan menawarkan pernikahan dengan Gramakasi melalui Mutawalliman. Tubuh saya lantas menggigil, dingin, dan merinding. Cepat-cepat, pria bercelana ombre menyelimuti saya memakai kain kumal yang ada di atas lemari. Namun, ingatan itu terus mengalir, tentang Gramakasi yang menggerayangi tubuh saya, dari pusar hingga payudara yang harusnya tersembunyi di balik ikatan bra berwarna merah muda.

“Sayang,” panggilnya. “A-aku memang tidak mengerti apa masalah kalian,” pria di sisi saya mulai bicara ragu-ragu. “Tetapi hukum diciptakan untuk memberi keadilan, kan?”

Bibir saya masih tutup rapat-rapat. Kami sama-sama menyaksikan bagaimana seekor ngengat jatuh telentang di lantai yang kotor.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu, Sayangku yang manis ini?” tanyanya seraya menggoda atau mungkin dia hanya ingin menghibur seorang perempuan yang sedang putus asa.

Awalnya, saya hanya memerhatikan ngengat itu. Pada mulanya, dia benar-benar tidak bergerak, tetapi kemudian mengepak setelah bersusah payah. Dia kembali menemui teman-temannya yang tidak menyerah untuk mencari kehangatan. 

Akhirnya, bibir saya mulai terbuka, “Rini,” balas saya. *


*Keseluruhan isi dan maksud tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis.


Penulis
Asri S tinggal di Tulungagung. Penulis adalah pecinta pohon-pohon tua di alam. Dapat disapa di akun Facebook sebagai Asri S dan di Instagram sebagai asri_s1597 dan di dunia nyata sebagai bukan siapa-siapa (red)
Related Posts

Related Posts

2 komentar