Dulu kita memimpikan punya ponsel layar sentuh, sekarang kita memilikinya.

Banyak keinginan di masa lampau yang sekarang terwujud. Contoh di atas adalah bukti. Bahwa materi akan datang dengan sendirinya, dengan atau tanpa kita mengejar. Uang, mainan, peralatan, dan lain sebagainya.

Lantas saat ini, pertanyaannya adalah: apakah kita merasa senang dan puas?

Inilah Senang dan Puas

Saya akan menjawab dengan tegas bahwa, BELUM! Kita, atau, saya, sama sekali belum puas dengan segala pencapaian apapun tentang materi. Tentang uang.

Tidak ada kepuasan yang benar-benar bisa dibanggakan. Saya masih terus mencari kepuasan itu; memancing dengan joran seharga 2 juta rupiah, ponsel pintar 7 juta, laptop 8 juta, bahkan sekadar korek api seharga 800 ribu.

Ya, memang, awal mendapatkan rasanya begitu senang dan puas. Serasa satu dari sekian miliar mimpi yang didambakan terwujud. Hanya sebentar, lantas besok, atau lusa, atau besoknya lusa, rasa senang dan puas yang diperoleh di awal tadi memudar. Makin samar dan benar-benar hilang.

Sebulan yang lalu, saya membelikan adik sebuah sarung. Terbuat dari kain biasa, harganya hanya 100 ribu. Ketika barang itu tiba, dia buka dan wajahnya tampak demikian senang. Lantas rasa senang tersebut merambat melalui entah apa ke dalam hati saya. Hanya 5% dari harga joran pancing saya, senang dan puas itu sampai sekarang bahkan tidak berkurang sama sekali. Justru makin bertambah ketika dia memakainya untuk beribadah.

Akhir tahun 2020 lalu, saya memberi uang THR untuk beli kembang api ke seseorang. Dia berterima kasih dengan cara yang sangat aneh. Benar-benar dilebih-lebihkan. Padahal hanya 50 ribu, bahkan tidak sampai 1% dari harga laptop saya! Karena sihir apa, senang dan puas yang saya rasakan itu sampai sekarang juga tetap utuh!

Dua tahun yang lalu, ketika seorang teman sedang pusing-pusingnya, saya menemani dia duduk di kedai kopi semalaman untuk mengerjakan tugas akhir. Kalian tahu, saya hanya duduk dan bermain ponsel, sesekali minum kopi dan menyulut rokok, sedangkan dia dengan raut serius dari awal sampai akhir tetap menatap laptop. Saya tidak ngapa-ngapain, dan dia berterima kasih kepada saya karena telah menemaninya. Ucapan terima kasih itu, yang tulus itu, benar-benar membuat saya jauh lebih puas daripada mampu membeli ponsel seharga 7 juta.

Semua ini soal rasa senang dan kepuasan, nyatanya tidak segalanya dapat diraih dengan mengejar uang. Tenaga, uang, atau apapun itu yang kita miliki, akan meningkat hingga tak hingga manfaatnya jika dibagikan bersama orang lain.

Itu hanya pendapat saya saja, sebab sampai sekarang saya ingin merasai senang dan puas untuk selamanya.

Namun ada pula golongan manusia yang berengsek. Yang tidak tahu apa itu minta tolong dan terima kasih. Yang wajahnya layak menjadi sarang dari tinju-tinju amarah. Saya akan tetap mencoba sabar menghadapi manusia yang demikian, sebab mungkin saja, sebenarnya saya masuk dalam golongan itu.