Selamat malam para manusia yang merasa dirinya adalah yang paling kikuk di antaranya semuanya. Manusia yang merasa bernasib paling sial, penuh kegagalan, sering terjatuh dan mati-matian mencoba bangkit. Nahasnya, kesemua usaha tersebut gagal belaka.

Sekarang saya di sini, berada di tengah-tengah kalian. Mari menikmati sengsara ini sebaik mungkin, dengan rasa syukur yang besar sebagaimana mendapat makanan gratis. Mari bersyukur pula atas pikiran tolol dan mesum, bahwa hidup amat menyebalkan lagi menyedihkan.

Malam ini kita harus merdeka dari semuanya.

Hanya malam ini saja. Besok kita harus bangun pagi, bekerja keras untuk sesuatu yang nirmanfaat. Menahan caci maki dan rasa takut. Merasakan perih yang lama kelamaan sudah terbiasa. Namun yang paling sakit daripada semua itu adalah kesendirian.

Bekerja untuk Uang

Kita adalah orang tersesat. Orang yang mencari uang dan membayar semuanya dengan umur. Masalahnya sekarang berada dalam pikiran kita. Semua barang, kerja, dan jasa dihitung dari uang. Uang menguasai segala. Tuntutan dari sini dan sana, yang serangannya jauh lebih banyak daripada jumlah semua arah mata angin itu, juga menuntut tentang uang.

Pikiran kita sudah bermasalah. Hati kita akan mati lambat laun. Seiring berjalannya waktu, kita makin melangkah ke dunia yang lebih gelap, kelam, dan sama sekali tanpa pertolongan.

Rasa Iri yang Bertubi

Ponsel pintar itu membodohi kita semua. Kita sadar telah dibodohi, namun justru kita mengemis untuk menjadi budak dari kebodohan. Dari benda itu muncul berbagai macam kabar tentang prestasi mengesankan orang lain. Kita menjadi iri, dan membuat waktu kematian hari semakin dekat lagi.

Dia umur belasan sudah memiliki perusahaan yang maju. Dia yang masih muda telah menjadi panutan banyak orang. Dia mempunyai mental yang kuat, senyum yang tetap, serta pribadi bersahaja. Dia di tengah kesibukan memperjuangkan kemanusiaan ternyata menulis bagus sekali. Dan prestasi-prestasi lain yang jauh membanggakan daripada sekadar mencari uang.

Sementara kita, sekali lagi, tersesat dalam jeratan mencari uang yang nirmanfaat. Bahkan kita tidak dapat menikmati sama sekali uang yang diperoleh tersebut.

Tanggung Jawab dan Rasa Ikhlas

Saya peringatkan jika merasa kehidupan kalian sudah baik-baik saja, maka segera hentikan membaca tulisan ini. Lebih baik membaca tulisan dari Enny Arrow, melihat video dewasa terbaru, atau menulis cerita yang akan menjadi embrio buku bestseller.

Saya peringatkan pula, jika kalian sudah merasa cukup dengan orang-orang baik di sekitar. Maka tutuplah tulisan ini juga. Sebab dicoba berapa kali pun, kalian tidak akan bisa merasakan apa itu kesendirian.

Rasa ikhlas ini rumit, apalagi dijalankan dengan hati yang sudah mulai mati. Kita akan mencoba bekerja keras berhari-hari selama sekian waktu yang lama. Mengumpulkan tabungan yang entah gunanya apa. Namun tiba-tiba ada keadaan di mana semua tabungan harus diambil. Seketika pula habis tanpa sisa. Kita harus ikhlas.

Bertanggung jawab atas semua perbuatan dan dosa. Kita harus ingat pula, bahwa ketika melakukan dosa secara sadar akan menerima konsekuensinya. Lantas kita ini tolol belaka, sebab ketika konsekuensi itu datang, kita justru makin mengeluh dan terpuruk lebih dalam.

Alhasil

Alhasil yang mengerikan adalah kehilangan kepercayaan, tetap sendirian, dan menyia-nyiakan proses serta waktu. Kita tetap di titik yang sama dengan empat tahun lalu: tidak berguna. Sementara orang-orang yang berada di depan kita sudah tidak kentara. Mereka telah melesat amat jauh ke depan, amat cepat.

Dalam bayang-bayang yang semakin buruk di malam ini. Sekali lagi, kita mesti bersyukur. Tentu saja karena kesialan hidup ini, tentang kesusahan yang selalu merangkul. Kita mesti bersyukur, untuk apa saja yang belum jelas. Kita tetap harus bersyukur.

Sebab pada besok malam, mungkin saja kita tidak lagi memiliki pikiran semacam ini. Mungkin saja kita benar-benar akan menuntaskan bunuh diri.

Selamat Malam Para Pecundang, Saya Menyapa Kalian