Saya mendengarkan puisi Daruz Armedian yang berjudul Bersepakat dengan Usia. Mendengarkan dengan baik dan benar. Tidak ada pengganggu di sisi kiri dan kanan, selain setan yang kelaparan.

Astaga, tetiba ingin rasanya segera tidur. Kemudian memimpikan puisi tersebut, memasukkan semua kata-katanya ke dalam blender. Menambah sedikit air dan gula, dan yang terakhir, meminumnya seteguk demi seteguk. 

Jujur saja, puisi Daruz Armedian satu ini ingin saya resapi luar-dalam. Mengapa begitu benar?!

Bersepakat dengan Usia

Yah, Walaupun saya juga mempunyai penyair idola seperti Hari Niskala dan Natasya Pazha.