Tidak Sengaja Membuka Instagram

Selasa adalah hari menuju penghidupan di Rabu. 

Hari ini saya tidak sengaja membuka kembali media sosial yang telah sekian tahun saya tinggalkan. Instagram menjadi momok yang menyakitkan, saya akan iri melihat progres teman-teman saya dahulu. Demikian pula dengan Facebook.

Dengan dalih ingin ketenangan, saya meninggalkan beberapa media sosial. Dan dalih tersebut baru terbongkar ketololannya sekian tahun kemudian. Hari ini saya tidak sengaja membuka kembali.

Zaman dulu ternyata saya lumayan berguna, pikir saya. Setidaknya menjadi patokan untuk anak-anak kecil yang ingin belajar tentang anu. Walaupun sekarang, bocah-bocah yang dulu cupu dan menjadi bahan olok-olok tiada tara, telah melampaui segala kemampuan saya dalam segala bidang untuk segala masa.

Saya telah lama beristirahat pada stagnan di tingkat mengerikan. Berkumpul bersama para bajingan yang tidak melakukan apa-apa, yang saban pagi selalu hilang karena tidur, yang malam dihabiskan dengan lembur nir-manfaat. Kadang mabuk, kadang bersambat, sering menggerutu tentang cara mendapat uang yang cepat dan mudah.

Lantas waktu sekarang ini, saya akan kembali ke dunia yang anu dan tidak jelas itu? Entahlah, selama ini saya telah meninggalkan dunia itu atau belum. Dan mengapa harus kembali jika tidak pernah meninggalkannya?

Tulisan ini sekadar menjadi pengingat, bahwa tidak ada proses yang sia-sia. Mengingatkan untuk kepercayaan diri, bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan (tentunya secara pribadi).

Mari ingat kembali: dari mana engkau dibentuk, untuk apa engkau ada, sebab apa engkau lupa. Kita bukan kalangan sembarangan! Setelah itu, kita tutup kembali media sosial dengan dalih yang sama, ketenangan.

Tidak Sengaja Membuka Instagram
Photo by Samuel Silitonga from Pexels


Tinggalkan Komentar

0 Comments