Hidup Adalah Seperti Tangga

Mungkin harus saya akui, sebagaimana kata Asri S --seorang editor penerbit indie, pengajar ekstrakurikuler jurnalistik, mentor les privat, dan yang paling penting adalah penulis di IndoSuggest-- bahwa  hidup adalah seperti tangga.

Alasannya gampang saja. Sesuatu yang hidup pasti bergerak, jika berdiam ialah mendekati kematian. Dan yang telah benar-benar diam adalah benda mati. Namun mengapa harus tangga? Dan sama sekali bukan jalan datar?

Setiap hendak naik tangga, seseorang mesti menyiapkan segalanya. Mulai dari tenaga, perhitungan, hingga keseimbangan. Andai salah satu saja tidak berimbang, bisa jadi jatuh. Untung jika masih bisa berdiri dan mulai menaiki tangga kembali dengan lebih hati-hati. Namun ketika jatuh dan mati, itu merupakan akhir dari perjuangan dalam kehidupan.

Hidup bukan jalan datar, bukan pula jalan berlubang. Setiap tindakan (atau pergerakan) menuju ke arah lebih baik selalu menanjak. Ke atas sana, ya, jika kamu mendongak ke atas, akan kamu lihat banyak pantat orang-orang yang telah mendahului. 

Latihan yang sebenar-benarnya adalah proses menanjak itu sendiri. Jika kamu berdiam terlalu lama, sudahlah hilang pergerakan: kamu mendekati kematian dalam artian paling hakiki.

Saya berhasil menulis satu artikel dan satu cerita pendek dalam satu hari. Merupakan anak tangga paling kecil yang dapat saya raih. Saya sudah bangga dengan itu. Namun bagi para penulis luar biasa di atas saya, yang hanya kelihatan pantatnya itu, menulis satu artikel dan satu cerita pendek bukan apa-apa. Jelas saja, mereka telah melalui proses menyebalkan ini jauh-jauh hari. Sedangkan saya baru memulai dari yang pertama. Dan mereka, tentu saja, sedang menghadapi proses yang lebih luar biasa menyebalkan di atas sana. Belum lagi, oooh, belum lagi, kualitas dari tulisan saya itu bahkan (barangkali) masih jauh lebih berharga upil mereka.

Orang-orang yang berdiam dan lama berpikir, meski pikirannya sudah sampai di atas ujung tangga, namun diri mereka sebenarnya masih berdiam di tempat yang sama. Rencana akan sekadar menjadi rencana jika tidak ada gerak!

Cobalah untuk bergerak sekecil apapun, terus bergerak, dan jika jatuh, pelajari bagaimana cara bangkit kembali. Ini terdengar mudah, percayalah, mengangkat satu kaki untuk naik tangga adalah yang paling sulit. 

Peran Rekan dalam Naik Tangga

Naik tangga

Kita bisa menggandeng beberapa orang untuk naik tangga bersama-sama. Mencoba dengan usaha semampu diri. Rekan, memiliki peran saling menyokong satu sama lain. Gampangnya, kita dibantu dan membantu untuk menjadi lebih baik.

Saya selalu benci pengkhianat, dan jika sampai saya tangkap pengkhianat itu, tidak akan saya maafkan sebelum dia merasakan bagaimana neraka terjadi. Saya akan tetap tersenyum, bersikap seolah biasa saja, dan pada waktu bersamaan saya susun siasat paling buruk untuk dirinya.

Rekan yang berjuang bersama, kemudian berkhianat, yang pada awalnya itu menyokong diri supaya naik ke anak tangga selanjutnya, atau sekadar menahan kita supaya tidak jatuh dari posisi semula. Maka kita akan benar-benar jatuh, lebih dalam karena lebih tinggi, dan tentunya lebih sakit.

Namun, pembaca yang semoga bukan pengkhianat, meski hal paling buruk pun terjadi. Ingatlah bahwa ada agama yang membimbing pada ketenangan. Kita akan mendapat obat bius paling halal dalam kehidupan.

Jalan Pintas yang Dimiliki Kekuatan Besar

Jalan Pintas yang Dimiliki Kekuatan Besar

Tangga, oh, kenapa masih ada yang percaya dengan benda konvensional itu? Lihatlah, di sini ada lift. Kita bisa naik ke lantai berapa pun dengan sekali pencet. Sayangnya, tidak semua orang memilikinya. Kita bisa minta bantu orang yang punya? Tentu saja. 

Setelah berada di atas sana, percayalah, kamu akan menginginkan turun kembali dan naik melalui tangga. Atas, di sana, nyatanya sama sekali bukan tujuan. Semua perjalanan tentang perjuangan, kegagalan, kebangkitan kembali, kegagalan, perjuangan, kebangkitan kembali, dan seterusnya, dan seterusnya, inilah esensi dalam kehidupan. 

Baiklah, baiklah, saya tidak akan berbicara omong kosong. Ada satu contoh nyata di depan saya: Asri S. Dia telah menjadi penulis mapan, memiliki banyak uang, mendapat ketenaran dengan nama sebelumnya. Namun apa yang dia lakukan sekarang justru kebalikannya.

Saya sempat murka, dan mengatakan bahwa tindakannya selama ini sekadar untuk menghina saya. Nyatanya tidak, dia benar-benar turun dari puncak, membuang segala kemapanan, menapaki satu per satu anak tangga. Jatuh dan nyaris mati, bangkit untuk sekian kali, dan --sebagaimana yang saya katakan di atas-- bahwa yang paling penting dari apa yang dia lakukan sekarang adalah menulis di IndoSuggest, sebab itulah awal mula yang sebenar-benarnya tentang apa yang dikenal orang sebagai perjuangan. Sekian.


Tinggalkan Komentar

0 Comments