Bagaimana Memaafkan Manusia yang Sudah Berkali-Kali Menghancurkan Hidup Saya?

Entah mengapa, kehidupan seakan menggencet saya. Hidup yang melelahkan, miskin, lapar. Hidup yang berada dalam lingkaran penuh kata-kata cabul, hinaan, cacian. Hidup dalam kubangan dosa yang benar-benar kelam. Setiap saya ingin keluar, akan ada kejadian yang menyeret saya kembali. Jika kejadian yang demikian tidak muncul, satu-dua manusia berengsek akan menyeret saya juga.

Dia salah satunya.

Saya ingin bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mengikuti arus raksasa lingkungan terkait penampilan. Lihatlah pakai matamu, rambut ini sudah rapi sebagaimana kalian inginkan. Saya sudah mandi setidaknya sekali dalam sehari. Tidak merokok selain di dalam kamar mandi dan kamar tidur. Dan yang paling terasa, satu lemari buku bekas sudah saya jual demi membeli baju baru yang entah apa pula pentingnya, sesuai keinginan kalian. Sakit!

Dengan senyuman, sikap paling ramah, serta semua sikap yang menunjukkan bahwa saya adalah orang baik, tetap saja di mata kalian ada celah yang mengerikan. Mengapa kalian, dan kau, tidak membiarkan diri ini menuju ke arah yang lebih baik?

Sekarang adalah kali keempat kau menghancurkan hidupku. Memotong pangkal mata pencaharian, mencerabut akar-akar semangat, dan di atas semua keterpurukan dalam sendiri ini, kau tertawa dan berlibur bersama para berengsek yang tidak ada kuharapkan selain kematian kalian.

Mengapa kau begitu bersemangat menjadi iblis, wahai manusia?

Saya ingin berdamai, dengan harapan yang samar dan kecil ini bahwa, saya ingin lingkungan yang baik. Saya sudah tidak kuat dengan kalian. Saya ingin perhatian dari orang-orang, dengan bahasa dan tutur yang sopan. Saya ingin para manusia memaafkan, tidak mendendam, menyadari kekhilafan dan segera bertaubat dengan sungguh-sungguh. Mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, mengajak ke arah yang sedemikian lurus bersama-sama, dan mengingatkan untuk tidak melakukan dosa lagi.

Omong kosong!

Selama kalian masih hidup! Saya akan selalu menjadi korban! Sejak empat tahun lalu sudah saya harapkan keadaan yang demikian tersebut. Omong kosong! Tiada yang terwujud, saya masih menjadi manusia yang disalahkan atas sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak tahu.

Yang paling menyiksa dari semua ini adalah kesepian.

Mungkin satu-satunya jalan adalah berdamai dengan kesepian itu. Saya harus mendatangi kesepian, yang hakiki, tentu saja. Dengan pisau, tambang, atau jurang?

Baiklah, baik, kita hapus semua ceramah saya di atas. Barangkali yang sesungguhnya benar adalah kalian. Dan kebenaran mengatakan bahwa, saya adalah pihak yang salah, layak diperlakukan sedemikian rupa buruk, sangat layak dianggap tidak ada.

Pun kebenaran mengatakan demikian bahwa saya yang salah atas semuanya. Adakah nurani kalian, dan nurani milikmu, membenarkan perlakuan kepada manusia yang lain dengan amat jahanam?!

Tolong, perlakukan saya sebagaimana manusia hidup yang sama-sama punya nurani. Lihatlah, dengan matamu, saya sudah memohon untuk ratusan kali. Jika benar, dukunglah. Jika salah, ingatkan. Tidak dengan cacian, hinaan, pukulan, pemerasan, atau –yang paling mengerikan— pengucilan.

Melainkan dengan dekapan yang hangat, senyum yang tulus. Dengan sikap yang benar-benar berasal dari nurani, dan jauh dari ego sendiri.

Tinggalkan Komentar

0 Comments