Melankoli Mashabi

Oleh Hari Niskala (penulis buku Vita Brevis Suwung Longa)


Di suatu ketika seloki.com membikin sebuah rubrik baru yang hendak diisi perihal entah. NISKALAESQUE, namanya. Jika harus mengisinya dengan kategori spesifik, maka biarlah rubrik ini gugur dan tak menelurkan tulisan sama sekali. Atau jika kamu meminta rubrik ini dibikin bagus, maka mari kita berkelahi saja! Cukup? Jika sudah cukup, sekarang saatnya kamu diam dan menyimak rubrik ini baik-baik. Prolog kali ini mungkin agak panjang, dan kamu tidak perlu mengeluh jika ada kesalahan teknis dalam penulisan. Namun jika ada kesalahan yang ada hubungannya dengan data atau perihal substansial lain, saya harap kamu angkat tangan sebagai wujud interupsi, dan kita duduk sembari mengobrol baik-baik untuk membenarkan kesalahan tersebut. Setuju? Setujulah!

Kedamaian di bumi belum menunjukkan gejala paling paripurna, tapi tetap ada saja hal yang perlu ditulis, ya, setidaknya untuk mengenang dan merenungi perihal yang silam. Adakah yang penting? Pertanyaan itu mengemuka jadi pertanyaan pertama. Dan sah saja jika seorang mengatakannya penting, namun dianggap tak penting oleh seorang lain. Pertanyaan berikutnya bergulir, dan seloki.com tak mau bermain-main lagi dengan pertanyaan yang tak jarang membikin repot dan merintangi “proses kreatif yang tidak benar-benar kreatif” ini. Pikiran mengenai hal penting dan tidak penting adalah satu hal, tapi perkara di antara keduanya adalah perjalanan jutaan tahun cahaya yang semestinya jadi alasanmu untuk belajar (apakah kalimat ini hiperbolis?).

Muhammad Mashabi

Paragraf kedua dan pertama biarlah demikian. Adapun di paragraf ini saya ingin lebih masuk pada perkara yang sesungguhnya, yakni mengenai Muhammad Mashabi dan pencapaian-pencapaiannya dalam kurun masa hidupnya yang singkat. Ia mati muda, antara tahun 1963 atau 1967 (mana yang benar? data dari berbagai sumber mengatakan demikian). Sementara tahun lahirnya diketahui pasti, yakni tahun 1943. Kendati masa hidupnya singkat, ia benar-benar meninggalkan sesuatu bernama melankolia panjang. Ia tidak merengkuh melankolianya seorang diri, melainkan menyalurkannya ke dunia musik. Bakat bermusiknya merupakan gen hasil pewarisan dari sang ayah, Salim Mashabi, yang merupakan pemusik anggota Orkes Melayu Al-Wardah. Sedangkan Muhammad Mashabi sendiri merupakan anggota Orkes Melayu Kelana Ria. Kamu yang keranjingan bermain Tik-Tok barangkali tak mengenal grup musik itu.

Sejurus mendengarkan lagu Kesunyian Jiwa, kamu akan digiring memasuki sebuah intro yang muram. Permainan melodi yang aneh namun menggigit akan memberitahumu di kemudian hari bahwa itulah lagu gubahan Muhammad Mashabi. Sekali lagi, itulah jalan melankolianya. Adil Albatati, seorang pemusik dan pengelola situs Arabische Kamp menyebut lagu-lagu gubahan Mashabi “...kayak orang merana, merintih, kenapa dunia ini kejam sekali. Kayak begitulah. Melankoli, bluesy,". Lagu-lagu yang ber(pra-)kondisi patah hati itu adalah brand sekaligus wujud lokalitas Mashabi yang pernah benar-benar patah hati di kehidupan nyata. Pahitnya kenyataan, dibarengi dengan pedihnya patah hati nyatanya melahirkan musik-musik yang berumur panjang dan menggetarkan. 

Kamu mungkin pernah mendengar lagu Keluhan Anak Tiri. Tanpa perlu mengulang penyebutan judulnya, lagu tersebut sudah berasa demikian pedih. Konon, Mashabi membikinnya setelah melihat sendiri kejadian seorang anak yang terus menerus memperoleh lontaran caci-maki dari orang yang kemudian diketahui sebagai orangtua tirinya. Saat itu Mashabi berada di sebuah sudut kampung di Lampung. Tak butuh waktu lama bagi Mashabi mengarangnya, lalu melagukannya, hingga di kemudian hari lagu itu menjadi terkenal karena dijadikan soundtrack film berjudul Ratapan Anak Tiri di tahun 1973. 

Tak hanya dua lagu yang saya sebutkan atas, Mashabi masih membikin beberapa lagu lain yang bertema tak jauh dari kesedihan. Bersama Orkes Melayu Kelana Ria, ia kemudian merekam lagu-lagu seperti Renungkanlah, Harapan Hampa, Hilang Tak Berkesan, Ketjewa (dipopulerkan kembali oleh Iis Dahlia sebagai Kecewa), Untuk Bungamu, Kenangan Lama, dan Tjerita Lama. Sebelum menuliskan perihal lain mengenai Muhammad Mashabi, saya merasa perlu menyebutkan siapa saja anggota dari Orkes Melayu Kelana Ria yang melegenda itu. Mereka antara lain  Munif Bahasuan, Husein Bawafie, Lutfi Mashabi, Djuhana Sattar atau Ellya Khadam. Ya, kamu bisa lihat dari namanya bahwa mereka semua bermarga Arab, dan mereka memang orang-orang Arab yang justru memakai nama Indonesia untuk nama grup musik yang mereka tekuni, dan tak sekalipun memakai bahasa Arab dalam lagu-lagunya. Saya merasa perlu memberi apresiasi, sebab mereka amat mencintai tanah air Indonesia. Berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan orang-orang sok NgArab masa kini, yang doyan melabelkan kata “kafir” pada tradisi dan kebudayaan tanah air. 

Mengenai pencapaian mereka, (almarhum) Denny Sakrie dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015) menyebut bahwa musik dangdut disebut merupakan hibrida dari musik Melayu, India dan Arab. Dan menurutnya, secara umum, kehadiran generasi Mashabi, Munif Bahasuan, Ellya Khadam, A. Kadir, Husein Bawafie dan pemusik melayu lainnya, pada tahun '50-an dan 60-an, sudah menampilkan gaya lagu melayu yang disebutnya sebagai "cikal bakal dangdut".

Selama ini sudah jamak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa Rhoma Irama sebagai orang yang melakukan Revolusi Terhadap Musik Melayu dengan menciptakan dangdut. Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014) menyebut Rhoma Irama "mengatur strategi agar dangdut equal dengan rock... Dia mengatur strategi untuk mengakomodasikan dangdut dengan realitas musik pada zamannya." kata Moh. Shofan. Kini jadi jelaslah bahwa musik dangdut sesungguhnya adalah hasil pantikan dari orkes Melayu yang dipunggawai orang-orang seperti Mashabi.

Saya merasa tak perlu berpanjang lagi mengulas siapa itu Mashabi. Saya pun tak tega menuliskan cerita pribadinya. Bagi saya, cukuplah kamu tahu bahwa Mashabi telah meninggalkan warisan menyenangkan berupa lagu-lagu antik dan layak dengar. Tanpa diserimpung kepentingan apa-apa, saya harap kamu dapat meluangkan waktu mendengarkan lagu-lagu hasil ciptaan Mashabi. Semoga melankoliamu kian khusyu dan bermakna. Sebab akhirnya kamu tahu bahwa kesedihan tak harus ditebus dengan bunuh diri, melainkan dengan menorehkannya secara paripurna dalam wujud lagu atau bentuk lain yang meneyenangkan. Kendati sedih, saya tak bisa tidak untuk mendoakan Mashabi dan rekan-rekan sejawatnya di alam yang lebih baka sana. Baik-baiklah mereka di sana. Wallahu a’lam.[] 

Tinggalkan Komentar

0 Comments