Sebenar-benarnya

Sebenarnya-benarnya saya ingin mengadu. Sebenar-benarnya saya ingin bercerita sangat panjang. Sebenar-benarnya saya hanya sendirian. 

Sebenarnya, untuk apa segala kerja yang keras ini? 

Sebenarnya, mengapa hidup di suatu wilayah tidak ada jaminan dapat sejahtera?

Sebenarnya, saya ingin menikmati libur setiap hari, bekerja hanya di waktu saya ingin bekerja, mendapat uang secukupnya guna kebutuhan dan mewujudkan sebagian keinginan, hidup bahagia dengan menyelesaikan masalah yang sengaja saya buat.

Bagaimana seorang manusia dapat produktif jika pada hari-harinya, pada setiap energi dari karbohidrat di perutnya, pada setiap waktu ketika masih bernapas ini, habis segala-galanya sekadar untuk bekerja?

Saya lelah menjual tulisan. Sedangkan pesanan tulisan untuk internet cukup banyak. Dengan bayaran yang sangat sedikit. Dan psikologis pembeli yang sama-sama kacaunya.

Bagaimana akan ada waktu untuk melakukan riset tentang harga anggur paling murah, menghabiskan satu botol dalam ruangan bebas dosa, dan tertidur dengan keadaan setengah sadar lapang dada?

Bagaimana kalau hidup amat berat di dunia ini, dan digempur gada berkali-kali di akhirat nanti?

Bagaimana saya bisa menuntaskan hasrat memancing pada waktu-waktu tidak kenal siang dan malam?

Atau setidaknya, kapan saya bisa menulis untuk mempertanyakan yang sebenar-benarnya? 

sebenar-benarnya seloki jusuf fitroh
Image by Arek Socha from Pixabay


Tinggalkan Komentar

0 Comments