Pertanyaan Kesepian

Dan sekali lagi, tanpa bosan bertanya, apakah ini yang dinamakan dengan kesepian? 

Yang satu ini benar-benar mengerikan. Saya nyaris menangis padahal hanya merasakan dua menit empat puluh dua detik saja. Saya ditinggalkan orang-orang dalam artian yang sebenarnya. Seluruh penghuni rumah keluar provinsi dalam sebuah acara, teman-teman sepermainan hengkang mencari penghidupan di luar pulau, dan rasanya saya telah kehilangan diri sendiri.

Kemarin, seorang perempuan mewanti-wanti bahwa saya harus ikut pergi bersama keluarga ke luar provinsi supaya tidak kesepian. Saya menolak, dan berpikir dengan cukup sembrono, kesepian macam apa yang tidak mampu saya hadapi? Ternyata karma datang lumayan cepat. 

Perempuan yang menyarankan kebaikan tadi juga menghilang. Nyatanya sudah berada di kota seberang bersama teman-temannya. Semoga jalan-jalan menyenangkan. 

Lalu si berengsek Asri lebih menjengkelkan. Dia adalah satu-satunya manusia yang dengan terang-terangan menghancurkan hidup saya berkali-kali. Dia memotong jalur pemasukan uang saya dengan mulutnya yang besar! Meremehkan segala hal tentang menulis artikel hanya karena dia seorang editor penerbit indie! Menyebarkan racun tidak terlihat melalui sifat pamer yang mengerikan! Dan malam ini, di malam saya sendirian, dia ternyata sedang menyusun strategi baru agar saya putus asa dan benar-benar bunuh diri. 

Belum lagi para manusia menyebalkan yang lebih baik segera mati saja. Ambil saja contoh penagih hutang, yang sama-sama kebingungan mencari kontak saya. Atau orang yang datang tiba-tiba untuk meminta bantuan, dan pergi secepat dia datang ketika sudah mendapatkannya. 

Dalam tulisan ini, saya mencoba memposisikan diri sebagai seorang antagonis. Saya akan mengutuk setiap orang untuk segala tindakan sia-sia yang mereka lakukan. 

Lihat, orang-orang suci itu, yang justru takut menasihati orang macam saya. Justru membiarkan saya makin terpuruk pada kesepian, kemarahan, hingga dosa-dosa yang sudah tidak tertanggungkan. 

Ya ya, mungkin seperti inilah yang dinamakan kesepian. Dan menulis, meski menyebarkan keburukan orang, adalah salah satu peredam rasa sepi yang muncul.

Pertanyaan kesepian seloki
Photo by Sofia Garza from Pexels
 

Tinggalkan Komentar

0 Comments