Mengigau

Kesehariannya berbahasa Jawa. Dia hidup di salah satu kota di Jawa Timur. Sekali dalam satu atau dua minggu saya tidur di rumahnya. Dia jarang tidur sebagaimana seorang pekerja keras, sayangnya lelaki dalam cerita saya adalah penganggur. Saking kerasnya, dia tenggelam dalam pekerjaan menganggurnya, sulit bernapas, dan dia mencoba tetap hidup di dalamnya. Jam tidurnya tidak teratur, hari-harinya habis dengan membaca buku atau bengong di kedai kopi murah. Pada waktu tertentu, dia juga onani atau menulis di laptop pinjaman seorang kawan. Dini hari pukul tiga lebih 6 menit dia tidur, di kursi yang menghubungkan antara ruang tamu dan dapur, saya ingat waktunya dengan tepat sebab saat itu saya mendapat pesan dari salah satu guru bahwa saya terancam dipecat karena terlalu goblok. Tepat lima menit setelahnya, dia mengigau dengan mengutip kata-kata dari salah satu cerita dalam buku yang ditulisnya, sambil tangannya seolah memperagakan kejadian dalam mimpi dengan bahasa Indonesia. 

Kelanjutan dari cerita ini belum bisa saya tulis. Alasannya tidak lain tidak bukan, sebab saya belum menginap lagi di rumahnya. Sebab semua buku incaran sudah saya rampok dari sana.

seloki mengigau
Src: Pexels


Tinggalkan Komentar

0 Comments