Budaya Baca Tulis yang... Entahlah

Pernahkah Anda, atau orang yang Anda tahu, ketika ketahuan dirinya sering baca dan tulis. Entah tulisan sehancur lebur apapun juga, entah buku yang seburuk apapun juga, akan mendapat sorak sorai pujian yang aneh? Mengapa hal demikian bisa terjadi?

Contohnya begini; pada sebuah komunitas literasi, atau diskusi buku, atau diskusi teknik kepenulisan, atau yang lainnya. Ada anggota yang lumayan sering baca dan tulis, membaca semua genre buku, menulis semua ragam tulisan. Meski tidak ada satu pun yang pernah diakui oleh media bahkan lokal sekalipun. Kemudian anggota tersebut tiba-tiba dihadapkan pada pujian yang cukup ngeri. Pujian yang benar-benar dan selalu dibesar-besarkan. Alasannya satu saja: karena dia sering baca dan tulis.

Saya pikir hal demikian sering terjadi, terutama di Indonesia ini. Sebab baca dan tulis merupakan budaya yang (seolah-olah) begitu luar biasa. Andaikan baca dan tulis sebagaimana tindakan sehari-hari yang sudah mengakar, seperti makan dan minum. Orang yang bertanya, sudah makan?  Anda akan menjawab sudah dengan tenang. Dan orang yang bertanya tadi tidak akan terkejut pun memuji. Mustahil dia akan mengatakan hebat! Super hebat! Anda ternyata sudah makan! Saya belum bisa begitu seumur hidup!

Membudayakan baca dan tulis seperti makan dan minum justru membuat keadaan menjadi lebih baik. Setiap orang akan bebas membaca buku tanpa perlu menanggung malu sebab dipuji, ya karena beberapa orang merasa demikian. Setiap orang pun bebas menulis seburuk apapun tanpa khawatir saat publikasi. 

Budaya Baca Tulis Seloki
Photo by Koshevaya_k from Pexels


Tinggalkan Komentar

0 Comments