Tembok Miring Depan Rumah

Sore itu saya pulang. Melewati jalan yang sama dengan sepuluh tahun lalu. Tidak ada yang berubah selain rerumputan yang makin tumbuh, pohon makin tinggi, dan tembok depan rumah menjadi miring. Mungkin saja sebab tanah di sini bergerak. Orang-orang menyebutnya sebagai tanah gerak.

Tidak ada yang ganjal sampai saya masuk ke dalam rumah. Saya ucapkan salam seperti yang pernah diajarkan oleh guru SD saya dulu. Tidak ada sambutan sama sekali. Ini aneh, mengingat keluarga saya adalah penyembah Tuhan yang taat.

Saya berkeliling ke belakang, ternyata bapak baru saja pulang bekerja. Pakaiannya kotor belaka, saya tidak ingat kami mempunyai tanah untuk digarap. Saya salimi dan rangkul bapak, tidak ada yang terjadi selain keharuan. Saya meminta maaf kepadanya karena baru bisa pulang sekarang.

Kepadanya saya berkata bahwa maafkan anakmu ini karena tidak mempunyai waktu pulang. Kemudian bapak mengatakan tidak apa-apa. Dan maklum karena saya di kota orang bekerja. Dia mengajak saya untuk masuk ke rumah, saya bertanya di mana keberadaan ibu. Bapak menjawab bahwa ibu masih berada di sawah.

Kami duduk di ruang tamu, saya letakkan ransel keras ke lantai. Kemudian bapak mengatakan akan melanjutkan pembicaraan nanti malam. Dia kemudian buru-buru keluar sambil menepuk pundak saya. Saya merasakan banyak tekanan di pundaknya, meski tidak ada ransel keras seperti ini.

Saya ingin bercerita banyak, berkumpul dengan keluarga secara utuh, kemudian kami saling merangkul satu sama lain dalam kasih sayang. Namun di sisi lain saya merasa apa yang dikatakan bapak barusan benar adanya. Perjalanan 230 kilometer benar-benar menguras tenaga. Saya maklum, dan menanti malam dengan istirahat sebentar.

Azan magrib terdengar dan saya telah terbangun. Namun rumah masih gelap belaka: lampu-lampu belum ada yang dinyalakan, tidak terdengar suara orang beraktifitas, dan sialnya saya takut akan kegelapan. Segera saya  raba tembok untuk menemukan saklar lampu, nihil. Saya membuka pintu depan biar aroma dan cahaya sore masuk ke dalam rumah.

Depan rumah saya adalah perempatan, di sana ada angkringan yang dibangun dari bambu. Empat pemuda memakai kaus hitam tanpa lengan duduk bersama, mabuk. Badan orang-orang itu besar belaka, ada tato di lengan salah satu dari mereka, mungkin ular piton, mungkin penis yang berpilin. Entahlah, dari jarak segini tidak mudah melihat secara detail gambar itu.

Saya membatin, mengapa masih sore orang-orang itu sudah menggilir minuman. Mengapa tidak nanti malam waktu sepi, dan pertanyaan saya menemukan fragmen lainnya. Tidak ada orang desa mau lewat di depan mereka, seakan hendak menemui aura kematian atau sejenisnya. 

Salah satu dari mereka menatap saya, telunjuknya mengarah lurus tepat ke sini. Kemudian beranjak dengan buru-buru. Sebelum keempat orang tadi berada di depan saya, bapak menarik saya dari dalam. Menutup pintu dan menguncinya, wajahnya mengisyaratkan ketakutan.

Azan magrib sebentar saja sudah selesai. Lampu-lampu dinyalakan dan keempat orang tadi hilang entah ke mana. Bapak menepuk pundak saya lagi dan mengatakan bahwa saya harus beradaptasi kembali dengan lingkungan di sini. 

Saya melihat ibu muncul dari pintu belakang. Kemudian saya cium tangannya, saya peluk ibu, dan ibu sama-sama menepuk pundak saya seperti bapak. Makan malam itu tidak seperti yang saya bayangkan, tidak terjadi apa-apa selain kesendirian. Bapak segera tidur setelah salat magrib, dan ibu membereskan peralatan mulai dari cangkul sampai arit di ruang lain.

Baca juga:
Lihat Cerpen Lainnya (Leg Repot Rausah)

Makan malam yang hanya sendiri itu sepi. Ingatan ketika berada di kota orang itu mendatangi saya lagi, seharusnya saya tetap berada di sana. Saya menepis ingatan itu, meyakinkan diri bahwa berada di rumah sendiri lebih baik daripada apapun. Termasuk bekerja sebagai asisten tuan tanah meski bayarannya sungguh lumayan.

Dari uang yang banyak itu, saya belikan beberapa pakaian yang kira-kira pas dipakai ibu juga bapak. Serta beberapa benda lain yang saya kira bakal menyenangkannya. Namun ketika pakaian-pakaian dan barang-barang lain saya keluarkan dari ransel keraas, bapak mengatakan bahwa tidak mungkin bisa memakainya sekarang. Ibu yang berada lima langkah di belakangnya hanya tersenyum dan manggut-manggut.

Lantas bapak tidur kemudian. Setelah merapikan barang-barang itu ibu menyusul. Mereka tidak bercinta seperti yang sering saya dengar di kamar teman. Mereka sekadar tidur. Istirahat.

Tidak ada yang akan saya lakukan selain menata beberapa pasang pakaian di lemari. Tidak ada yang berubah sama sekali dalam sepuluh tahun ini, baik dari dalam maupun luar rumah. Semuanya terlihat sama, hanya rerumputan yang makin tumbuh, pohon makin tinggi, dan tembok depan rumah menjadi miring.

Pagi buta setelah azan subuh pertama terdengar, dalam tidur ini saya mendengar ada aktivitas. Ibu dan bapak mengambil barang-barang yang dirapikan petang lalu. Kemudian keluar melalui pintu belakang. Saya ikuti dari belakang, saya takut dengan kegelapan namun lebih takut diburu rasa penasaran. Dan sampailah saya di sana, lautan sawah yang amat luas di bawah rembulan malam ini.

Tidak hanya ibu dan bapak yang berada di sana. Melainkan puluhan, atau ratusan, orang lain di desa. Saya mengenal beberapa, setidaknya pernah melihatnya. Terutama empat orang besar berkaus hitam tanpa lengan yang salah satu dari mereka mempunyai tato ular piton di lengannya. Mereka melihat ibu dan bapak dengan tatapan kurang ajar!

Saya hendak murka, namun rasa penasaran makin besar saja. Saya tahan murka itu, mengamati apa saja yang terjadi di desa saya ini. Mereka semua bekerja, laki-laki dan perempuan, menggaruk tanah, membabat rumput, menata tanaman. Tidak ada anak muda seperti saya, dan fajar di sebelah timur itu seakan meminta saya untuk pulang.

Bisa gawat jika terang, orang-orang dapat melihat saya dengan mudah. Saat saya berbalik, dua orang dengan senapan laras panjang dan arit menatap saya heran dan bertanya, “Kenapa kau tidak bekerja? Ingin mati seperti Jusuf, Hari, atau seperti Ilham?” Saya mengingat nama-nama itu, teman saya waktu SD dulu! Saya hendak rubuh, namun kaki ini masih miring dan bertahan, seperti tembok depan rumah.*


Tembok Miring Depan Rumah
Image by Free-Photos from Pixabay

*ditolak ideide pada 29 Juni 2020

Tinggalkan Komentar

0 Comments