Kehidupan adalah Sumber Abadi Kesedihan

Kehidupan adalah sumber abadi kesedihhan. Kehidupannya dimulai belum lama. Namun sudah berkali-kali dijalani dengan demikian; kesedihan. Dia pernah bertanya –untuk tidak menyebut terlalu sering—kepada antah-berantah apapun itu. Mengapa pada kehidupannya selalu dimulai dengan kesedihan hingga terus sampai mati dan hidup kembali.

Saat itu bulan puasa. Dia berdiam di kedai kopi sendirian, beberapa teman yang seolah peduli ingin datang, namun olehnya, dengan kasar, ditolak agar tidak mengganggu harinya. Namanya Jusuf, wajahnya memang lumayan tampan sebagaimana cerita Jusuf sang orang suci yang pernah dia dengar  waktu mengaji Al-Quran. 

Itu soal wajah, beda lagi dengan akhlak dan tingkah laku. Meski tidak pernah melakukan taruhan pada adu ayam seperti yang dilakukan Hari, atau bermain togel online 4D Hongkong seperti Bejo, atau menyayat dirinya sendiri di kamar yang gelap seperti Asri, Jusuf tetap manusia tidak berguna sebagaimana orang-orang itu.

Saya beritahu kepada Anda, siang di kedai kopi itu dia sedang menulis sesuatu. Dia mengutuki tentang koneksi internet yang lemot, es bersoda pesanannya yang memiliki selisih harga 2000 rupiah lebih mahal dibanding kedai kopi lain, serta banyak sekali orang-orang yang sama-sama tidak puasa dan berisik sambil main gim.

Salah satu teman Jusuf yang paling berengsek memiliki kehidupan yang lebih menyedihkan. Pada saat yang bersamaan, kisah sedih temannya adalah penyemangat untuk hidupnya sendiri. Entah bagaimana mengukur tingkat kesedihan, bukankah kesedihan setiap manusia itu berbeda dan muskil dilakukan pengukuran? Jusuf tidak ambil pusing, temannya, Kusein Jago, adalah laki-laki yang paling banyak mengurung diri di kamar tanpa cahaya, lebih banyak menangis untuk hal-hal sepele dibanding seluruh orang di muka alam semesta, bahkan lebih banyak dibanding si Asri tadi.

Kusein Jago pernah menangis hanya karena dia memanggil ibunya dan tidak ada jawaban. Mungkin ibunya tidak mendengar, mungkin suara Kusein Jago kurang keras, apapun alasannya dia tetap menangis. Kemudian menganggap bahwa dirinya adalah satu-satunya anak dari tujuh bersaudara yang dianggap tidak ada.

Selepas maghrib dia datang ke rumah Jusuf. Kemudian mengeluarkan semua tabungan untuk membeli minuman keras. Jusuf geleng kepala, pasalnya uang tabungan itu berbentuk koin semuanya. Mereka berdua lantas datang ke penjual tuak di depan lapangan sepak bola itu membawa kantong plastik untuk membungkus semua tabungan Kusein Jago.

Malam itulah Jusuf tahu, bahwa alasan Kusein Jago mengajak mabuk sekadar memanggil ibunya dan tidak ada jawaban, kemudian menganggap bahwa dirinya adalah satu-satunya anak dari tujuh bersaudara yang dianggap tidak ada. Jusuf menghafal setiap kata dan susunannya, Kusein Jago mengulanginya sebanyak tuangan tuak murahan dalam seloki.

Esok paginya Kusein Jago pergi ke kedai kopi, tanpa mengajak siapa pun. Dia berniat untuk menebus dosa karena mabuk saat bulan puasa. 

“Besok pagi aku ke warung kopi Tante Lisa! Jangan datang! Aku mau taubat saat salat Jumat!” pesannya kepada Jusuf.

Seperti bayi yang tidak jelas urusan mentalnya, Kusein Jago bisa membuat masalah yang lebih besar. Oleh karena itu, Jusuf, sebagai teman sekaligus tetangganya datang ke kedai kopi pada siang hari. 

Benar saja, Kusein Jago sudah berada di sana. Sendirian, seperti patung, tidak menyentuh kopi pesanan mungkin sejak kopi itu diantar kepadanya. Jusuf mengamatinya, melihat bahwa Kusein Jago ternyata masih seperti sebelumnya, serta belum terlihat tanda-tanda akan melakukan bunuh diri.

Dugaan Jusuf salah, Kusein Jago tidak berangkat salat Jumat bahkan setelah lewat pukul satu siang. Orang itu tetap murung, Jusuf mulai menyusun cerita tentang Kusein Jago pada waktu itu. Berharap tulisannya dibaca banyak orang, serta cerita sedih tentang Kusein Jago menjadi abadi.

Dan alasan utamanya adalah ini: jika Kusein Jago lahir kembali menjadi Kusein Jago lainnya di masa mendatang, dia tidak melakukan hal-hal buruk sebagaimana beberapa kehidupannya sebelum itu. Pukul empat sore Kusein Jago pulang, dan esoknya, tersiar kabar dia mati.

**

Seminggu penuh Jusuf direpotkan dengan urusan pemakaman temannya. Seminggu kemudian dia harus mencari orang dengan tingkat kesedihan yang melebihi kesedihannya. Seminggu kemudian lagi dia menemukan orang itu, namanya Mak Diana yang tidak lain adalah ibu Kusein Jago sendiri.

Terkait alasan mati Kusein Jago menjadi rahasia umum paling menggelikan. Orang-orang tidak pernah sedih dengan kematiannya, sebab saat hidup pun, Kusein Jago tidak pernah berhubungan dengan siapa pun. Waktunya selama 25 tahun itu dihabiskan tanpa arti, seperti pada kehidupannya sebelum ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Mak Diana adalah orang paling sedih, bukan karena kematian anak sulungnya, Kusein Jago, namun sedih karena Kusein Jago mati gantung diri menggunakan bra dan celana dalam super jumbo milik Mak Diana yang dipilin sedemikian rupa. Semua alat mati tersebut dimasukkan kantong plastik putih dan dijadikan barang bukti polisi, membuat Mak Diana makin bersedih tidak keruan.

“Astagfirullaaaah!!! Anakku!!! Sudahh mati pun kau tetap membikin masalah untuk emakmu ini!!!” Mak Diana menangis tak terkendali di atas kuburan Kusein Jago.

“Mengapa kau tidak mati menggunakan cara lain?!!! Astagfirullaaah anakku!!!” lanjutnya mirip orang kesurupan.

Beberapa orang yang ikut ke proses pemakaman itu, yang mendengar keluh kesah Mak Diana, menahan tawa. Tidak elok tertawa pada kematian orang, meski orang itu memang lebih baik mati saja.

**

Mak Diana sekarang tidak pernah terlihat keluar rumah. Dia tidak pernah membeli apapun di tukang sayur keliling langganannya, anak-anaknya yang lain pun akan lari jika ditanya tentang keadaan ibunya, bahkan halaman rumahnya sudah mirip kuburan Kusein Jago yang tidak pernah disapu dan dibersihkan.

Urusan Mak Diana bukan lagi urusan Jusuf. Mereka tidak pernah saling bertemu dan bersapa sebelum Kusein Jago mati. Maka dari itu, hari-hari Jusuf dihabiskan dengan berkumpul bersama teman-temannya yang sama-sama tidak berguna, Hari, Bejo, dan Asri. Mereka saling menumpahkan keluh kesah tentang hidup di meja, membiarkan siapa pun hendak mengambilnya.

Meleset dari perkiraan, cerita-cerita orang-orang itu malah tentang kejayaan. Cerita Hari diterbitkan dalam media cetak paling kondang seantero negeri, Bejo menang togel online dan sekarang tidak kesulitan uang sama sekali, sedangkan Asri menjadi editor freelancer salah satu penerbitan besar.

Jusuf langsung pulang. Sejak sore sampai malam dia merenungi kesialan hidupnya di depan rumah. Kemudian melihat Mak Diana sedang berjalan sambil merunduk ke barat. Dia buntuti orang gemuk itu, dan sampailah di penjual tuak depan lapangan. Mak Diana menghilang di sana.

Keesokan harinya tersiar kabar bahwa Mak Diana mati tenggelam di Sungai Brantas. Keesokannya lagi, Jusuf dikabarkan mati kelaparan di kedai kopi. Cerita yang ditulisnya tidak lagi bisa dilanjutkan.

Saya melihat notebook-nya diunggah ke grup jual beli dengan harga sangat murah. Kemudian membelinya untuk dijual lagi dengan harga wajar. Saat pandemi seperti ini semua orang butuh uang, saya sendiri kelar dipecat dari pekerjaan membersihkan taman sebuah universitas kota ini. 

Sialnya, data-data tulisan yang belum selesai itu masih ada. Mohon maaf untuk pembaca, jika saya lancang meneruskan cerita, mohon maaf untuk Jusuf, Kusein Jago, dan Mak Diana. Semoga di kehidupan selanjutnya, kalian tidak marah kepada saya. Ngomong-ngomong saya setuju, bahwa kehidupan adalah sumber abadi kesedihan.*

Kehidupan adalah Sumber Abadi Kesedihan
Image by Robin Higgins from Pixabay

*ditolak ideide pada 6 Juli 2020

Tinggalkan Komentar

0 Comments