Masalah Umum Pemancing Laki-Laki

Saya kenal seseorang, yang lebih suka memancing daripada berdoa kepada Tuhan. Saban hari sibuk mengelus gagang pancing daripada paha bininya. Lebih banyak menghabiskan waktu di sungai atau danau dibanding di ranjang. Serta lebih rutin memberi makan ikan daripada memberi makan dirinya sendiri.

Tubuhnya kering, hitam, dan lebih mirip pohon meranggas daripada manusia. Namun wajahnya mengisyaratkan senyum mentari bersinar. Orang itu selalu berbahagia di mana pun juga --tentunya selama bersama joran pancing. Entah mendapat ikan atau tidak.

Saya bertemu dengan orang itu di sebuah sungai kecil aliran lahar dari Gunung Kelud. Airnya berwarna cokelat yang pekat, dia bilang bahwa air model begitu malah membuat ikan-ikan cepat makan. Dari kata-katanya saya tahu, orang ini memiliki keyakinan berupa pengetahuan dari pengalaman yang lama.

Kami bertukar nomor ponsel. Saling kontak jika hendak memancing. Dan kehidupan bahagia itu terus berlanjut. Sampai saya tahu bahwa sebenarnya, di balik wajahnya yang seterang mentari itu, tersimpan kegelisahan menggunung.

Permasalahannya begini: dia ingin menambah joran pancing tetapi oleh bininya tidak diberi izin.

Permasalahan tersebut barangkali dialami oleh nyaris semua pemancing yang sudah punya bini. Saya belum, sehingga belum tahu persis bagaimana rasanya. Jelas itu bukan sesuatu yang baik-baik. 

Saat bertemu di sungai yang sama, dia sudah selesai memasang dua joran yang diberi lonceng pertanda. Saya mempersiapkan satu joran dan memasangnya pula. Lantas kami menunggu. Saat itulah, dia mulai bercerita.

"Saya ingin menambah joran. Sudah lama mengidamkan joran itu. Toh, uang dari kerja masih cukup saja untuk makan. Masih cukup untuk beli bensin kalau mau pergi mancing. Juga cukup untuk beli dua bungkus rokok. Tapi itu loh sama bini enggak dibolehin.
"Katanya, mending uang yang mau dibuat beli joran pancing dipakai beli baju. Atau buat nyicil motor baru. Atau buat beli emas hitung-hitung investasi masa depan. Ya, meski tolol begitu dia itu tetap bini saya.
"Saya ngikut saja. 'Iya, saya enggak beli pancing sesuai perintah Anda' saya bilang begitu ke bini saya. Kemudian keadaan seperti kembali seperti sedia kala. Tapi dia tidak tahu, kalau sampai sekarang saya ini masih punya keinginan buat beli joran pancing baru.
"Kalau saya ngeyel tetap beli, dia pasti bilang 'Itu joran pancing sudah selusin! Mau saya bakar dulu joran-joran Anda?!' dan pasti sambil marah-marah. Tapi setelah malam, dia pasti akan menangis.
"Sebagai pemancing yang berjalan di jalan kebaikan, kita tidak harus mengikuti pedoman 'Lebih baik minta maaf daripada minta izin' tetapi kita juga mesti memikirkan perasaan bini.
"Anda belum punya bini ya, Mas? Pasti belum tahu rasanya bagaimana. Seminggu ini saya memikirkan itu sampai pusing tujuh keliling. Saya ingin beli joran baru, di sisi lain saya tidak ingin bini saya menangis.
"Mas punya saran?"

"Bagaimana kalau Anda membelikan perhiasan untuk bini Bapak?"

"Uangnya enggak cukup Mas."

"Bagaimana kalau Anda mengajak bini Bapak untuk mancing bareng?"

"Mustahil Mas."

"Hmm, sulit juga ya Pak. Atau bagaimana kalau Anda sekarang buka grup media sosial, dan membaca cerita para pemancing yang jauh lebih ngenes daripada cerita Bapak? Misalnya pemancing yang semua jorannya dijual murah oleh bini, terus uang hasil penjualan dibuat nyewa kamar untuk dia selingkuh?"

"Wow! Memang ada cerita semacam itu?"

"Mungkin saja ada. Atau cerita pemancing yang ingin beli joran, terus bekerja siang malam selama dua bulan tanpa henti, pas joran sudah terbeli terus dibuat mancing pertama kali, malah dirampas sama polisi gara-gara razia PSBB?"

"Wah! Kalau itu ngenes sekali!"

"Iya. Cerita Anda masih belum terlalu ngenes Pak."

Kami berdiam sebentar. Melihat lonceng di ujung pancing yang mulai bergerak. Orang itu mendapat ikan pertama. Saya berdiam untuk beberapa saat, lantas mau berkemas pergi. 

"Sudah mau pulang?" tanyanya.

"Mau menulis Pak!"

"Menulis apa?"

"Cerita ngenes para pemancing."

"Oh, benarkah?! Jangan lupa memasukkan cerita saya ke dalam tulisan Anda, Mas! Meski tidak terlalu ngenes, siapa tahu ada pemancing yang memiliki masalah serupa. Kemudian setelah baca cerita saya ini, dia berpikir positif bahwa dirinya tidak sendiri."

"Beres. Ongkosnya satu  joran pancing."

"Semahal itu?!"

"Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk keabadian, Pak!"

"Hmm... Baiklah!"

Setelah orang itu menyerahkan satu jorannya, saya bilang padanya terima kasih.

"Anda seperti pekerja teks komersial saja, Mas!"

"Anda tidak salah, Pak!"

//

Masalah Umum Pemancing Seloki Jusuf Fitroh
Photo by Brett Sayles from Pexels

Tinggalkan Komentar

0 Comments