Lampu Goyang

Pukul sembilan malam, dia baru bangun. Membersihkan diri supaya tidak dihina lagi. Rasa dalam hatinya kacau belaka. Tetap kacau meski tiap gayuh air dingin mengenai kulit dengan deras. Sabun tidak lagi bisa membersihkan. Kotoran yang ada dalam dirinya, masuk jauh menancap di dasar paling sunyi, penuh kotoran dan dosa.

Orang semacam dia banyak belaka. Yang telah menyerah karena terlalu lemah. 

Setelah berbersih tadi, dia memakai kembali baju yang sama. Perlu penciuman yang biasa saja, guna mengendus apakah baju bekas masih layak dipakai atau tidak. Jangan hanya karena baju yang dikenakan, dia dihina lagi.

Berjalanlah dia ke ruangan selanjutnya. Tidak ditemui orang lain. Jelas saja, dia hidup sendirian. Maksud saya, benar-benar sendirian. Tanpa teman satu pun yang mau menemaninya menjalani hari-hari, kecuali ada maksud tertentu seperti pangkal selangkangannya.

Wanita itu telah selesai. Lunas dan bebas. Dia menyiapkan tahu goreng, pisang goreng, dan secawan kopi hitam super panas. Mengantar semua jajanan itu dalam satu keberangkatan. Dia dapat membawanya dengan aneh dan misterius. 

Lima orang laki-laki desanya yang seolah-olah berjaga demi keamanan atas maling terbangun. Sepuluh menit sebelum itu, kesemuanya mencoba bermimpi. Sebab desa itu, sebagaimana desa lainnya, selalu sepi apalagi pada jam-jam demikian.

Sebuah pos penjagaan dadakan dibuat sehabis lebaran. Berada tepat di persimpangan jalan setapak desa. Lengkap dengan tikar sumbangan, lampu sumbangan, bahkan kabel dan banner bekas aktivis pergerakan yang sama-sama sumbangan. Atap pos penjagaan dari potongan esbes yang sudah cukup menghalau cahaya lampu tiang listrik yang berada tepat di atasnya.

Saya melihat perempuan itu mengantar jajanan. Kemudian saya juga ikut bersama empat laki-laki lain menggoda perempuan itu. Memandang pantatnya saat dia buru-buru berbalik masuk rumah. Wanita yang benar-benar lemah, dalam waktu bersamaan benar-benar kuat. 

Barangkali dalam kamar, atau sofa, atau kakus, perempuan itu akan menangis. Tidak tidur semalaman karena kejahatan yang kami lakukan. Saya masih dapat tersenyum, tidak menyadari kesalahan yang benar-benar fatal ini, sebelum saya memandang lampu tiang listrik yang bergerak-gerak.

Lantas bagaimana lampu yang goyang dapat menyadarkan saya? Itulah urutan cerita yang sedang saya pikirkan. Saya terlanjur menulis cerita sampai lampu goyang, dan sekarang kebingungan melanjutkan. Kalau pembaca di sini memiliki saran, dapat ditulis dalam kolom komentar. //

Lampu Goyang
Dokumen pribadi

Tinggalkan Komentar

0 Comments