Kiamat

Pagi itu hadir cukup cerah. Matahari berjalan ke atas sesuai jalurnya. Belum kiamat ya? Tanya seorang lelaki kepada diri. 
Pacarnya berangkat ke sekolah untuk mengajar, mengirim pesan pamit yang benar-benar membosankan. Pasalnya, pesan demikian sudah diulangi ribuan kali.
Dia juga bersiap berangkat. Bukan mengajar, sama sekali bukan bekerja. Dia mau berangkat memancing. Pacarnya pada awalnya menerima. Lama-kelamaan menolak, makin jelas dan nyata.
Belum kiamat ya? Tanyanya lagi kepada diri.
***
Sesampainya di sungai, dia merenung seperti orang dirasuki setan. Setan sungai yang sangat jahat. Sebab semua pikiran nakal, rencana busuk, dan anggapan negatif muncul tiba-tiba. 
Dari pagi sampai malam dia tidak bergerak. Para pemancing lainnya tidak lagi beranggapan bahwa dirinya dirasuki setan, tetapi menganggapnya telah mati. 
Air sungai cukup besar, juga dalam, serta menggiurkan untuk diselami. Dua langkah saja dia berjalan ke depan, pasti hanyut, pasti mati.
Dia juga berharap tidak hidup sebagaimana anggapan pemancing lain. Ingin segera kiamat datang, mengganti kehidupan penuh bencana di dunia menjadi kehidupan penuh siksa di neraka.
Bunuh diri sama sekali bukan jalan keluar, pikirnya. Sebab dosanya sudah terlampau banyak sekali. Dia tidak ingin menambah dosa itu dengan dosa yang lebih besar. Dan dia bangkit, para pemancing malam hari kaget bukan kepalang. Dikira dia hantu atau mayat hidup, atau semacamnya.
Ditinggalkan peralatan memancing di pinggir sungai. Berjalan lemas pulang. Tidur di kursi depan rumah reyot tanpa mencuci apa pun lebih dulu. Berusaha mengundang mimpi tentang kehidupan yang lebih indah.
***
Dia bangun keesokan harinya, masih di tempat yang sama. Semalam tidak ada mimpi yang datang. Semua gelap belaka. 
Belum kiamat ya? Tanyanya kesekian ratus ribu kali. //

kiamat seloki
Dokumen pribadi

Tinggalkan Komentar

0 Comments