Boncos

“Joran tegek, joran antena, joran sambung, reel satu dua tiga, umpan racikan, jaring ikan, senar, cagak, kotak pancing,” dia menghitung seperangkat alat memancing dalam tas pancing, kemudian tersenyum. “Siap uncal, ngamisi senjata baru.” 

Sudah dia prediksi sejak seminggu lalu, bahwa hujan selalu turun ketika sore hari. Dan berhenti sebelum petang datang. Maka dari itu, air Sungai Brantas pasti sedang meluap. Pemilihan waktu pagi-pagi juga akan menentukan, menunggu air yang meluap lumayan surut. 

Nyaris dua bulan dia libur memancing, namanya Jusuf, hobinya memancing. Namun di zaman sekarang, memancing menggunakan tulang daun salak kering, memakai senar dari benang jahit, timah pemberat dari batu, serta kail dari peniti, akan bisa mendapat ikan setelah hari kiamat berakhir. 

Waktu dua bulan sebelumnya, dia gunakan untuk mencari uang guna membeli seperangkat alat pancing. Bahkan dia sudah puasa sebelum hari puasa itu datang. Tujuannya jelas saja, untuk menghemat pengeluaran sebanyak-banyaknya. 

Tidak ada pekerjaan yang dapat diharapkan dalam keadaan sekarang. Apalagi Jusuf tidak memiliki keahlian apa-apa. Pernah terpikir untuk mendapat uang tambahan dari mengirim tulisan ke media cetak seperti temannya, namun setelah tulisan selesai ditulis, Jusuf meminta kambing betina warna putih peliharaannya membaca. Besoknya kambing itu mati. 

Jusuf sedih, terlebih tahu bahwa tulisannya masih terlampau jauh dari kata layak, lebih sedih lagi karena kambing betina warna putih itu mati. Setelah dua minggu tidak keluar rumah karena merenungi kesedihan itu, dia bertekat mendapat uang secara benar, halal, dan tentunya yang paling mungkin dilakukan olehnya. Jusuf seperti terlahir kembali. 

Saat itu adalah malam selesai saat Isya berjemaah, dia mengobrol bersama teman yang berada di dua meter sebelah kanannya. “Aku butuh uang! Kau ada kerjaan?” 

Temannya itu geleng-geleng saja. 

Lantas teman lainnya yang berada di dua meter sebelah kirinya menyahut, “Aku ada!” 

“Sungguh?!” 

“Sungguh!!” 

“Kerja apa?!” tanya Jusuf semangat. 

“Ini ada proyek bikin kedai kopi,” jawab Kusein Jago. 

Kusein Jago adalah yang paling sering memasang wajah senang. Meski semua orang tahu, bahwa dialah yang paling menderita sejak kelahirannya dimulai. Kusein Jago orang yang jujur, pekerja keras, walau lumayan bodoh. 

“Mau puasa begini malah membangun warung kopi?” 

“Targetnya selesai setelah lebaran.” 

“Terus kita kerjanya apa? Cari barang atau pelanggan?” 

“Itu terlalu sulit Bos! Kerja kita mudah. Cuma membantu membangun kedai kopi itu.” 

“Tukang bangunan?” 

“Kurang lebih.” 

*** 

Tidak ada halangan untuk mentari bersinar. Jusuf mesti segera bangun sendiri karena belum ada orang yang berani mendekatinya. Dia harus bangun untuk mandi dan sarapan (saat itu belum puasa), kemudian berjalan ke rumah Kusein Jago bersemangat, membawa bekal makan siang di tas belakang. Tidak lama kemudian mereka keluar, naik motor berboncengan. Kusein Jago merasa senang ada yang menemani berangkat dan pulang bekerja, Jusuf senang pula karena sekarang punya pekerjaan. 

Siang pukul 12 sampai satu para pekerja akan beristirahat. Peran bekal makanan adalah pada saat itu. Dikeluarkan satu-satu yang dibawa oleh para pekerja tersebut, ada yang membawa bekal seperti Jusuf dan Kusein Jago, ada yang hanya bawa air, ada yang cuma merokok, dan ada yang tidak punya malu meminta nasi dan lauk dan air dan rokok kepada satu-satu dari para pekerja. 

Selain makan, bagi yang ingin salat dipersilakan. Setelah waktu mengaso habis, mereka berdiri dengan malas, dan mulai bekerja dengan keras sebelum pulang pada pukul lima sore. Jusuf akan kelelahan melakukan pekerjaan kasar macam begitu pada minggu pertama, Kusein Jago sudah terbiasa, dan Jusuf yakin bahwa dirinya juga akan terbiasa. 

Sialnya, saat dia hampir terbiasa dengan kebiasaan bekerja seperti itu, jadwal mandi dan sarapan seperti itu, waktu tidur seperti itu, bulan puasa pun datang. Mereka berdua, bulan puasa dan wabah, bersalaman. Setidaknya itulah yang sedang berada di bayangan lelaki usia dua lima tersebut. 

Jadwal dan kebiasaannya menjadi tidak teratur. Dia tidak lagi sarapan dan terlalu lelah untuk bangun sahur. Dia tidak semangat bekerja sebagaimana biasanya, lebih sering tidak puasa, dan tidur entah kapan saja. 

Tak terasa waktu bergulir begitu saja, dan waktu nyaris dua bulan itu selesai dengan cara kurang menyenangkan: Jusuf diberhentikan. Kusein Jago mengatakan bahwa dirinya tidak menyangka akan terjadi seperti itu. Jusuf menepuk bahunya lantas tersenyum dan menenangkan pada Kusein Jago bahwa semua ini bukan salahnya. 

Tidak ada rasa sedih diberhentikan. Rasanya malah lega. Jusuf tertawa seperti orang gila saat berjalan sendiri untuk pulang dari tempat bekerja. Dia terus tertawa, tertawa, bahkan membuat iri para jin yang menonton dari balik pohon beringin tua. 

“Seorang lelaki mesti punya tujuan dan ambisi! Hahaha! Sekarang, uangku sudah terkumpul!” katanya bahagia. 

Bekerja yang sedemikian berat, lama, dalam panas dan debu. Pada waktu bersamaan dia mesti menahan ambisi itu, tujuan untuk membeli seperangkat alat pancing. 

Tidak menunggu lama, Jusuf berlari pulang. Membersihkan diri sambil bersenandung Di Batas Kota Ini sambil keramas. Tidak seperti hari-hari biasanya, dia terlalu bersemangat sekadar untuk istirahat, maka dia cari pakaian paling rapi dan bersih untuk dikenakan. Mengambil semua tabungan! Dan sore itu dituntaskan, pergilah dia ke toko alat pancing desa seberang. 

janganlah kau sesali, janganlah kau tangisi 
aku pergi untuk kembali lagi 
... 

*** 

Pagi pukul enam di hari berikutnya, dia sudah mengabsen semua alat pancing. Semuanya baru, dibeli kemarin sore sampai malam. Mesti dia pilih joran paling bagus dengan harga paling murah, atau setidaknya yang memiliki ketenaran di mata para pemancing biar sewaktu-waktu kalau dijual lagi mudah jadi uang kembali. 

“Siap uncal, ngamisi senjata baru,” katanya kemudian setelah mengabsen. 

Nggak wedi boncos*!” lanjutnya sembari melangkah keluar. 

Sungai Brantas sudah ramai dihuni banyak pelapak memancing. Mulai dari ujung timur sampai ujung barat. Begitu pula dengan seberang sungai, ada yang memakai payung, jaket dan helm, atau sembunyi di bawah rumput gajah. 

Sebagian besar dari mereka sedang merokok. Jusuf ingat hari ini masih puasa, maka dia ikut merokok, sebab ingat juga bahwa sebelum-sebelumnya dia tidak pernah puasa. Alat pancingnya dikeluarkan satu persatu, disusun rangkaian dasaran untuk arus deras. 

Senar dengan ukuran diameter 0.28 sudah terlalu kuat. Timah paling besar berbentuk segitiga di atas kili-kili yang terhubung langsung dengan rangkaian ombyok kail nomor empat berjumlah sembilan. Ditutup menggunakan wadah jelly bekas dari anak tetangganya yang dibuang dua hari lalu. Semua sudah disiapkan jauh-jauh hari, telah direncana dengan rapi. Rangkaian itu pakai timah atas, kedua pancingnya dirangkai begitu. 

Sedangkan satu tegek dengan satu tokos itu dipasangi umpan rumput gajah. Entahlah, dia sedang memancing ikan atau sapi. 

Semua sudah selesai, waktunya duduk dan menikmati merokok. Namun tiba-tiba kejadian itu bermula, dari ujung timur para pemancing lari terbirit-birit seperti disapu tsunami. Ada joran patah karena terinjak, teriakan, keringat, dan ketakutan. 

Ternyata nyaris sepeleton polisi sedang menertibkan. Jusuf tidak kabur. Tidak tahu apa-apa. Ketiga joran yang sudah terpasang diambil salah satu dari polisi. 

“Kamu ini! Sudah diimbau berkali-kali tetap bandel!” ucap polisi dengan tegas. “Alat pancing ini kami sita!” 

“Ada apa... ini... Pak?!” 

“Kamu tidak tahu sekarang musim korona?! Kamu jangan bikin gaduh, jangan mencoba menularkan virus!” 

Saya hanya memancing Pak, menularkan virus dari siapa? Ikan?” Jusuf membatin. 

“Tapi Pak—“ 

“Pekan lalu kami sudah mengingatkan!” 

Saya tidak tahu Pak! Lagian di sini saya tidak saling pegang apalagi saling peluk.” Masih membatin. 

Melihat Jusuf bengong saja, polisi itu benar-benar membawa alat pancing. Mengumpulkannya bersama puluhan perangkat alat pancing yang disusun menggunung. Seperti harta karun, ya! Harta karun yang telah diperjuangkan mati-matian, harta karun yang dirampok! 

Setelah keadaan cukup hening, Jusuf menangis sesenggukan. 

Akhirnya, dia pulang tidak membawa apa-apa. Orang-orang menyebutnya sebagai boncos. Namun, boncos kali ini lebih parah, dia juga kehilangan apa-apa, kehilangan semuanya. Pekerjaannya direnggut, kini semangatnya dirampas, justru oleh pihak yang seharusnya melindungi orang bodoh dan miskin seperti dirinya. 

Suasana rumahnya menjadi sebagaimana dulu: kelabu dan murung. Matanya berbinat tidak berkedip. Kemudian tekad itu menjadi bulat kembali, seperti purnama di malam ini. Pukul sebelas malam di hari yang sama, di bawah sorotan cahaya bulan yang sangsi, dia mendatangi rumah Kusein Jago. 

“Anak buah berengsek! Ikut aku!” 

Kusein Jago sudah paham. Jusuf telah menjadi seperti dulu: penjarah. 

Malam itu dan malam-malam berikutnya menjadi yang paling tidak aman di kampung tersebut. Malam pertama induk ayam yang sedang mengerami telur hilang, malam kedua seekor anak kambing lenyap, malam ketiga orang-orang berjaga di setiap sisi desa dan melihat dua orang laki-laki dalam kegelapan. 

Sejak saat itu rumah Jusuf dan Kusein Jago kosong.** 


* Istilah untuk menyebut 'tidak dapat ikan' 
** Tulisan ini sempat diikutkan LCP Anda Enterprise 2020 pada 14 Mei 2020 dan mendapat kabar kegagalan sepekan kemudian 

boncos seloki
Photo by Jaymantri from Pexels

Tinggalkan Komentar

0 Comments