Saya Baru Saja Melihat Film tentang Binatang

Saya baru saja melihat film tentang binatang. Tokoh utama adalah seekor serigala yang sebenarnya kuat dan sangat mudah mendominasi keadaan apapun. Namun oleh pembuat cerita, serigala tersebut digambarkan sebagai seekor yang sangat lugu serta penakut. Sehingga setiap harinya menyendiri belaka.

Saya tidak melihatnya sampai tamat. Cerita itu terlalu banyak konflik pada satu waktu, saya tidak menyukai cerita yang mencoba menyamai ruwetnya hidup saya. Namun, serumit apapun sebuah cerita dalam film, tetap ada sesuatu yang dapat diambil.

Serigala tersebut sebenar-benarnya sudah cukup senang dengan kehidupan yang menyendiri tersebut. Meski teman-temannya yang tulus mencoba untuk membantunya agar mempunyai kepercayaan diri, namun si serigala tetap kukuh pada pendirian.

Dari cerita itulah saya sedikit berpikir –sesuatu yang sangat sulit dilakukan—bahwa menganggap hidup diri sebagai spesial atau diutamakan, anugrah atau yang paling berharga dibanding kehidupan manusia lain, adalah salah. Tidak melulu kodrat seekor serigala harus membunuh dengan taring dan cakar, mengandalkan penciuman atau intimidasi. Tidak seperti itu.

Hewan buas yang benar-benar berkuasa adalah mereka yang menentukan jalan dengan bahagia. Meski jalan tersebut dianggap melenceng dari kodrat dan aturan lingkungannya. Hewan berkuasa, hewan yang bebas merdeka.

Setidaknya, kita tidak perlu membuat keputusan sementara yang akan mengakibatkan penyesalan. Mari berbahagia dengan cara yang tidak merepotkan orang  lain, dengan menghilang misalnya. Tidak, tidak, maksud saya menghilang sebentar dari media sosial.

Masa depan pasti cerah dan menyenangkan. Seperti serigala yang menyukai wortel gara-gara mencintai kelinci mangsanya. Saya mencoba optimis, sebab tidak ingin tulisan-tulisan tentang kesedihan menjadi kenyataan lagi di masa depan. 😉

seloki jusuf fitroh
Image by Prettysleepy from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments