Salah Satu Malam di Hari Raya Idul Fitri

Saat ini masih hari raya Idul Fitri kedua. Hari raya yang sangat berbeda di pandangan orang-orang. Sebab tidak ada satu pun yang berani melawan aturan lockdown dari pemerintah desa. Dan pemerintah desa tidak berani melawan aturan dari petinggi di atasnya. Di desa ini setiap hari justru berjalan sebagaimana hari biasa lainnya. Tidak seperti hari raya tahun sebelumnya.

Bagi saya, hari raya sama saja. Tidak merasakan bahagia, tidak juga bersedih. Inilah sikap orang yang lumayan tersesat dalam kegelapan. 

Namun pada tulisan ini, saya tidak hendak mengeluh tentang kejamnya kehidupan. Melainkan tentang malam ini karena saya bertugas berjaga di pos. Tempatnya tidak jauh dari rumah, hanya berjalan barang 50 meter ke timur saja.

Seperti yang sudah terjadi belakangan ini: banyak maling. Para maling yang susah ekonomi, mengambil barang atau ternak dari orang-orang yang susah ekonomi lain. Ini konflik yang sangat kompleks pada rakyat jelata seperti saya, meski sebenarnya maling raksasa uang negara di luar sana bebas dan aman.

Awalnya saya tidak percaya menjadi bagian dari kelompok berjaga di jadwal malam itu. Saya sendiri menyadari, tidak pernah terlibat dengan kerja masyarakat apapun juga. Tidak pernah keluar rumah selain untuk ngopi dan memancing. Tidak kenal tetangga yang jaraknya lima rumah di sisi kiri dan kanan.

Saya datang saja, membawa makanan ringan dan air, sekaligus sebungkus rokok yang nyatanya langsung dihabiskan orang-orang. Orang-orang itu, para tetangga saya, masih saya ingat wajahnya. Namun pada beberapa bentar, saya tidak ingat namanya.

Mereka berbincang seperti seorang pendongeng andal bercerita. Rakyat jelata ternyata memiliki bakat yang sedemikian besar, pikir saya. Mengobrol tentang kesibukan berternak ayam yang surut, mencari rumput, tetangga yang hamil duluan, kasus maling di desa-desa lain, kecelakaan motor yang terjadi tadi sore, dan masih banyak hal-hal picisan yang dibicarakan dengan penyampaian luar biasa.

Sedang saya sendiri diam saja. Mengamati mereka yang duduk di depan-depan saya. Saya tidak tahu mesti mulai dari mana. Dari situ saya menyadari bahwa pendidikan yang saya peroleh dari perguruan tinggi sebenar-benarnya memang tidak dibutuhkan sebagaimana kata Tan Malaka.

Saya merasa asing di sini. Pembicaraan bersama anak-anak kampus di warung kopi dari sore hingga pagi, atau mabuk saban malam di ruang organisasi, atau berkunjung ke banyak orang penting penggerak massa, benar-benar kesemuanya tidak diperlukan.

Pada pukul 11 malam mereka berhenti bicara. Kemudian mengajak saya untuk berkeliling desa. Salah satu mengingatkan kepada saya bahwa jangan menyalakan senter atau berbicara keras-keras kalau tidak ada hal-hal mencurigakan. Pada saat ini, pendongeng andal tersebut berubah menjadi penyusun strategi perang sungguhan.

Orang pertama membawa kentongan yang terbuat dari besi, orang kedua membawa parang panjang mirip samurai, orang ketiga membawa pentungan bekas setang motor, orang keempat yakni saya, membawa segelas kopi di tangan kanan dan sebatang rokok di tangan kiri. Kami berjalan dengan pelan sambil mengamati sekitar yang gelap gulita, berharap tidak ada kejanggalan, tidak ada maling.

Setelah selesai berkeliling, kami duduk kembali di jembatan sebelah persawahan. Mengobrol dengan lebih pelan karena malam sudah larut benar. Sesekali saya bertanya tentang prosedur interogasi jika ada pengendara atau orang lewat, bagaimana menggebuki maling, dan yang terakhir bertanya tentang cara memberi tahu atau menerima berita jika di salah satu pos ada maling.

Lantas seseorang menjawab bahwa jika ada kejadian maling di pos lain maka orang di pos ini akan langsung tahu, begitu pun sebaliknya, jika ada kejadian maling di pos ini maka orang di pos lain akan langsung tahu. Saya tidak paham dengan jawaban tersebut, kata-kata orang itu lebih rumit dibanding dosen filsafat waktu kuliah.

Pada pukul setengah satu dini hari kami berkeliling lagi, tidak ada jam tertentu yang mengharuskan kami berkeliling. Orang-orang lebih suka berkeliling jika merasa sudah mulai mengantuk. Rutenya sama saja, mengelilingi desa. Sekaligus masuk ke persawahan yang gelapnya lebih hitam dibanding sebelumnya. Juga dinginnya. Juga ngerinya.

Hampir pukul empat saya minta diri pulang dulu. Mereka masih di sana, bersiap juga pulang ke rumah. Sementara itu, pekerjaan saya menulis artikel sampah makin menumpuk dengan waktu yang makin sedikit. Sementara itu lagi, para petinggi dan pembuat kebijakan negeri ini, belum bangun sejak sore tadi. //

Photo by Simon Robben from Pexels

Tinggalkan Komentar

2 Comments

  1. Setiap saya pulang pukul 11, ayah saya sudah tidur. Kemudian dia harus meronda seperti Anda. Rasanya saya ingin bilang, biar saya saja, toh saya sering tidak tidur semalaman. Tapi saya tau orang-orang tidak mengerti apa yang dipelajari mahasiswa, perihal feminis khususnya. Lantas saya diam, membayangkan bagaimana Bapak saya bisa melalui malam rondanya. Sesungguhnya rasa asing dalam rondamu seperti rasa asingku ketika ikut rewang bersama para tetangga bermata 1000megapixsel dan pendengaran super serta lidah lentur kayak atlit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita mesti membuang keformalan dari sekolah formal. Lantas belajar dari dasar kepada kehidupan.

      Delete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)