Hidup Abu-Abu

Cerita ini akan menjemukan. Segera tutup dan lupakan jika Anda bukan pecinta dan pembenci saya.

Tidak ada gunanya membaca. Sebab tulisan ini mulai ditulis ketika selesai Maghrib pada salah satu hari Sabtu di tahun 1997.

Segala kesenangan dan kesedihan ikut lahir. Catatan pertama adalah nama. Tidak ada yang salah dan jelek. Sepuluh tahun pertama, tulisan ini berisi kebaikan dan ketulusan.

Tidak hanya itu saja. Harapan indah masa depan, angan-angan terang, serta segala kebaikan dan kejayaan yang dapat dibayangkan manusia perlahan didapatkan.

Masa anak-anak itu, yang paling menyenangkan sebab belum menanggung ketololan orang dewasa itu, tidak akan pernah datang kembali.

Masuk sepuluh tahun kedua, kehidupan yang ceria dan terang perlahan padam. Menjadi hitam. Pernah hitam benar-benar legam, namun tokoh dalam cerita ini berusaha keras untuk membatalkan bunuh diri.

Maka dari itu, cerah dan gelap yang dipadupadankan menjadi abu-abu. Menjadi titik paling tidak jelas antara putih dan hitam. Dan ternyata, di titik ini kehidupan tersulit datang bertubi-tubi.

Dalam abu-abu tersebut, segalanya menjadi tidak dibutuhkan, pada saat yang sama seakan sangat diperlukan. 

Teman-temannya sangat menjemukan, ingin dia bunuh dengan cara mengikat pemberat di kaki lalu menenggelamkan di sungai Brantas. Tetapi pada saat yang sama teman-temannya menjadi alasan mengapa dia harus bekerja.

Dia tidak berselera makan, tetapi perutnya lapar dan minta tetap makan. Dia tidak mau bekerja, namun dana kenakalan harus tetap ada. 

Ketidakjelasan itu menjadikan pelaku di dalamnya merasa seperti orang paling sengsara di alam semesta. Tidak ada satu pun yang tuntas dalam hidupnya.

Permasalahan paling serius adalah ini: tulisannya jelek dan dia tetap menulis.

Tulisan yang diharapkan tentang kebaikan itu tak kunjung terwujud. Tidak ada penolong atas kehidupan yang bimbang. Dia menyaksikan gelap dan sunyi bersamaan, dalam kamar yang nyata.

Sambil merokok dan mabuk jika ada uang. Apa yang diharapkan dengan kehidupan macam begitu? Sudah teramat jauh tersesat di jalan ketidakjelasan.

Apakah hidup yang katanya merupakan anugerah dari Tuhan sekadar olok-olok menjengkelkan semata, tanpa manfaat apapun? 

Pada puluh kedua semenjak tulisan ini dimulai, pertanyaan itu selalu bergema. Tentang alasan mengapa dirinya di-ada-kan di dunia ini.

Jika Anda menganggap saya penting, sekarang adalah waktu menunjukkan. Pun jika Anda adalah orang paling benci serta menginginkan ketiadaan saya, sekarang adalah waktu menunjukkannya juga.

Dalam ketidakjelasan, menunggu utusan datang ke hidup ini tidak salah, kan? Biar saya tahu mesti condong ke putih atau terjun tenggelam dalam hitam. 

Hidup abu-abu mesti segera diakhiri.

Hidup Abu-Abu seloki

Tinggalkan Komentar

0 Comments