Kopi Hitam Tanpa Gula

Tidak ada yang dapat kita banggakan, kawan
Kita telah jatuh ke dasar
Masih untung belum mampus
Sudah ribuan perjalanan kita lewati
Ternyata, hanya sampai sini
Kau pernah berkata dengan marah-marah padaku
"Sudahlah! Kawan! Hilangkan harapan itu, kita memang manusia, tetapi nasib buruk tidak juga pergi!"

Aku bertanya dan meragukan kesetiakawananmu
"Dari mana kau tahu bahwa nasib buruk sedang mengekor?"
"Aku sudah berbincang mesra dengan Tuhan."
Kau lantas turun dari tempat tidur dan masuk ke liang tanah
Membasuh muka seraya merapal mantra
Usaha mengusir nasib buruk masih sia-sia
Lantas di tempat bermain anak yang tak terawat kita susun siasat

"Kau punya harta berapa?"
"2000 rupiah."
"Cukup banyak! Aku punya seribu!"
"Kita buat apa? Tidak mungkin berjudi!"
"Kita belikan kopi hitam."
"Apakah sudah dapat?"
"Sudah! Jika kita minta tanpa gula!"

Kita jatuh ke dasar, kawan
Bersama nasib buruk yang bernasib buruk
"Aku kasihan dengan nasib buruk ini."
"Kau benar, jika dia mengekor orang besar, pasti tidak jadi sengsara."
"Bagaimana cara menghiburnya?"
"Lihat yang akan kulakukan."

"Wahai nasib buruk yang malang! Marilah sini dekat dengan kami, jangan duduk jauh-jauh di sana! Marilah mendekat, kita nikmati segelas kopi hitam tanpa gula bertiga."
"Bolehkah?" Nasib buruk bertanya.
"Tentu saja!"
"Terima kasih, kawan!"
Kita berpelukan dalam kelam di dasar

Tinggalkan Komentar

0 Comments