Bercengkerama dengan Alat Pancing

"Mengapa engkau datang lagi menemui saya?"

"Maafkan atas sikapku. Aku tidak bisa menyalahkan keadaan, biarkan diri ini menanggung hukuman atasnya."

"Hahaha... Saya hanya bertanya, tidak hendak menyalahkan engkau."

"Tetap saja demikian, aku merasa bersalah telah mengabaikanmu sekian waktu ini."

Percakapan dengan joran pancing yang sudah mirip tongkat tidak terpakai, berkarat, rapuh, dan tua itu berhenti. Saat itu adalah sebuah sore yang sedang hujan. Dia mengambil kembali tas pancing, kemudian mengeluarkan segala isinya.

Dalam tas itu terdapat tiga joran pancing; dua tegek dan satu joran sambung, satu reel, segulung senar, dua bungkus kail beda ukuran, beberapa butir timah pemberat, stopper, kili-kili, pelampung, bungkus cacing yang isinya tinggal tanah, dan sebait kenangan memancing.

Semua barang-barang itu kotor. Banyak tanah yang menempel, dia bersihkan dengan hati-hati sebagaimana dia merawat mereka zaman dulu. 

"Maaf telah meninggalkan kalian untuk kesibukan yang hanya menguras uang orang tuaku; kuliah," katanya lagi kepada alat-alat itu seolah mereka dapat mendengar.

Tidak lama berselang, dia pergi ke toko pancing barat jalan. Membeli kebutuhan dengan sisa tabungan yang tinggal sedikit itu. Besok pasti kesulitan makan, pikirnya. Namun pengorbanan untuk barang-barang kesayangan tidak dapat dinilai dengan besarnya usaha dan biaya. Dia tetap membelinya.

Sekarang alat-alat pancing itu telah siap digunakan dengan layak. Hatinya sedang membara semangat, diingatnya sungai-sungai dari yang paling kecil sampai yang paling besar, dari yang paling depat sampai yang paling jauh, tempat dulu menghabiskan waktunya saban hari.

Ada beberapa sasaran yang sudah menunggu. Apakah masih ada para PLN itu? 

PLN adalah sebutan untuk tukang setrum! Tidak ada yang menyukai tukang setrum, jika satu sungai telah dilalui PLN, maka bibit-bibit ikan kecil yang mestinya bisa jadi besar akan ikut mampus. Sehingga sungai hanyalah sungai, hanya air yang mengalir tanpa ikan yang banyak dan besar di dalamnya.

"Semoga para berengsek PLN sudah mampus bersama ikan-ikan buruannya," doanya sebelum berangkat.

Hari itu adalah yang pertama kali dia mencelupkan cacing ke air setelah sekian waktu. Ditemani satu teman, seorang pendidik di sebuah sekolah dasar. Mereka berdua sampai sungai pukul satu. Perolehan ikan hanya sebatas wader, ndaringan, nilem. Ikan besar sasaran utama tidak mau diselamatkan.

Pukul tiga hari itu langit menampakkan sisi muramnya. Hujan rintik turun, mereka berdua bertahan di bawah rimbun bambu. Makin lama hujan makin deras. Hingga sangat deras! Membuat mereka berdua basah kuyup. 

Masing-masing telah menyadari, bahwa torpedo yang bersembunyi di balik celana dalam telah kedinginan, menjadi mungil, dan sangat rapuh.Tetapi mereka berdua tetap di sana, di pinggir sungai tanpa jas hujan maupun payung. Saking derasnya, rimbun pohon bambu malah serupa air terjun yang memuntahkan air dari langit.

Keesokan harinya juga demikian. Mereka berdua memancing lagi di tempat yang sama, dengan hujan yang lebih hebat, ditambah angin yang sukses membikin menggigil. Tololnya, tanpa membawa jas hujan atau payung. Maka torpedonya jadi kecil kembali. 

Kedua pemancing itu, meski tampak tolol maksimal, mereka merasa puas telah mampu bersikap totalitas atas kegemaran memancing. Meski ikan yang didapat hanya untuk pakan kucing, meski torpedo menjadi kecil, atau bahkan ditemui ulat bulu atau ular air yang kadang lewat di bawah kaki mereka. 

Dan untuk hari kedua itu, di bawah rumpun bambu paling horor tengah sawah, magrib yang hujan dan sepi karena wabah, motor salah satunya mogok! Nasib buruk yang datang beruntun membuat sensasi memancing tidak sekadar mencelupkan umpan kemudian mendapat ikan. Tidak hanya itu! Semua sisi dan kejadian baik atau buruk adalah bumbu penyedap.

"Dua hari yang amat menyenangkan!" katanya pada alat-alat pancing. "Inilah bukti permintaan maafku kepada kalian," lanjutnya.

"Bodo amat! Cuk!" jawab alat-alat pancing serentak. //

Bercengkerama dengan Alat Pancing
Image by Free-Photos from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments