Perempuan Gagal

Sore itu berubah menjadi petang dengan cepat. Dalam suatu negeri antah berantah hiduplah seorang perempuan yang sedang berduaan dengan keperempuanannya. Dia amat khusyuk berada di kamar kos itu meski sendirian, meski di luar sana dunianya sedang terkena sebuah wabah, meski tidak ada makanan selain dua galon air sebagai persediaan nutrisi seminggu.

Kadang-kadang perempuan itu bersenandung lirih tentang lagu kesedihan, tidak jarang dia membuka buku catatan di tumpukan buku-buku catatannya. Kemudian membaca secara acak sambil mengingat kejadian di latar yang tertulis dalam buku. Itulah hiburannya, lantas dia akan terbawa dengan suasana masa lalu yang seakan-akan terasa di masa kini.

“Apakah kamu pernah merasakan oksigen yang sama selama seminggu?” dia bertanya kepada dirinya.

“Tentu pernah! Aku merasakan apa saja yang sedang kamu rasakan.” Jawab dirinya.

“Termasuk oksigen yang sama selama seminggu?”

“Betul. Mungkin kamu perlu membuka jendela untuk membiarkan udara masuk?”

“Kamu suka bercanda ternyata. Tidak ada jendela di kamar ini. Jika ingin mendapat oksigen segar kita harus keluar lewat pintu yang terkunci itu, setelah itu berjalan di lorong sejauh lima belas meter ke arah kiri, dan turun tangga empat kali sebelum bertemu aula besar, yang terakhir adalah pintu utama. Oksigen segar berada di sisi lain balik pintu utama.”

“Kuamati kamu tidak pernah berpindah dari tempat ini.”

“Tidak. Tidak perlu, kurasa. Bahkan jika kita mati di ruang ini, aku tidak yakin akan ada orang yang tahu meski mayat kita telah jadi bangkai.”

“Terus mengapa kita tidak mencoba keluar? Dahulu kamu sangat suka naik gunung, berkemah di tepi sungai kemudian memancing ikan untuk dibakar, kamu juga suka berkunjung ke tempat-tempat nun jauh di sana.”

“Itu dahulu.”

“Apa karena wabah di negeri ini?”

“Hmmm...” dia membenarkan letak poni, “Mungkin. Itu salah satunya.”

“Ada yang lain?”

“Ada. Kamu pasti tahu, satu-satunya dan yang paling besar, aku telah gagal untuk menjadi penulis.”

Percakapannya bersama kaca selebar buku itu mesti berhenti karena azan magrib. Dia mendengarkan nyanyian orang yang jauh itu, yang meminta untuk salat di rumah, sebagaimana imbauan dari pemimpin negeri untuk tidak keluar rumah.

“Ah, omong kosong, aku tidak sedang berada di rumah sekarang, bahkan sejak satu setengah tahun yang lalu.”

Dirinya yang lain sudah tidak muncul baik dalam cermin maupun dalam pikirannya. Dia sedang memikirkan sesuatu yang sudah bulat. Pikirannya harus terus berjalan meskipun berada di ruang pengap dengan oksigen sama selama seminggu. 

Kemudian itulah yang terjadi, dia mengambil salah satu dari tumpukan buku-buku catatan, dilihatnya catatan paling baru, tertanggal 27 Maret 2020, itu adalah hari ini, dia lantas ingat pagi tadi menulis panjang tentang dirinya yang telah berhenti menulis.

Dan petang ini, dia akan menulis tentang kegagalannya dalam pendidikan. Ditambah catatan kecil tentang apa yang sebenar-benarnya disebut orang-orang sebagai rumah dan bagaimana gambaran rumah di benaknya, meski sedikit ragu.

“Kamu perempuan penulis gagal, bahkan untuk berhenti menulis pun kamu juga gagal.”

Dia tidak mendengarkan ocehan dirinya yang lain. Segera bibirnya bergerak, raut wajahnya ceria, bersenandung lirih tentang lagu-lagu kesedihan. Melupakan dirinya dan juga wabah dalam negeri itu. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments