Perempuan di Titik Nol: Kebenaran Sama Dengan Kematian

Perempuan di Titik Nol adalah novel. Ditulis oleh Nawal el-Saadawi, seorang dokter bangsa Egypt. Melalui perjalanan panjang hingga diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Dan buku yang saya terima adalah cetakan ke 13 tahun 2018. Alih bahasa oleh Amir Sutaarga.

Karena novel, maka tulisan di dalamnya berupa narasi. Secara sederhana menceritakan tentang perjalanan seorang perempuan bernama Firdaus. Namun, ceritanya sama sekali tidak sederhana.  

Novel ini, bagi saya bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk penggambaran yang jelas akan budaya patriarkal. Mengambil latar di negeri Egypt yang sarat tradisi kental Arab.

Anda bisa membayangkan bagaimana wujud perempuan berani bernama Firdaus itu. Sebab Nawal menggambarkannya dengan amat detail, bahkan pada beberapa deskripsi lebih terkesan berlebihan.

Barangkali naskah asli novel ini tidak demikian, terjadinya proses alih bahasa sedikit banyak mempengaruhi dalam penyampaian maksud.

Kita tidak mempermasalahkan bahasa, yang jauh lebih penting adalah bagaimana cerita tentang Firdaus dalam isinya.

Diambil dari riset sungguhan, sehingga sosok perempuan ini benar-benar ada. Firdaus divonis hukuman mati karena telah membunuh seorang laki-laki.

Mempunyai kehidupan sulit sejak dilahirkan sebagai perempuan: sejak kecil mendapat pelecehan, sangat miskin sekali, diperlakukan sebagai yang 'tidak berharga' dan 'serba salah' sehingga kehidupan dalam keluarganya dipenuhi oleh kekerasan fisik.

Tidak hanya itu saja, tanpa Firdaus tahu, dia disunat perempuan yang mengakibatkan tidak bisa merasakan kenikmatan dalam bercinta. Anda bisa menjadikan The O Project sebagai rujukan yang lebih jelas tentang sunat perempuan.

Setelah menginjak usia dewasa, pengalaman demi pengalaman semakin membuat dirinya sadar atas ketimpangan budaya antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mendapat segalanya. Sedang perempuan, jika beruntung, juga bisa mendapatkan sisa laki-laki.

Akhirnya dia tahu bahwa pekerjaannya sebagai pelacur. Perkenalannya dengan germo di Sungai Nil menambah pengalaman lagi. Pada usia 25, dia menjadi bebas, seorang pelacur sukses, dengan kesadaran utuh.

"Kini saya dapat menentukan makanan apa yang saya ingin makan, rumah mana yang saya lebih suka tempati, menolak laki-laki yang menimbulkan rasa enggan, apapun alasannya, dan meraih laki-laki yang saya inginkan, sekalipun hanyalah karena dia itu bersih dan kukunya terawat baik." (Hlm. 112)

Anda bisa menyaksikan perjalanan bagaimana seorang Firdaus menerima dirinya sebagai pelacur dalam novel ini. Sebelumnya, dia sempat mempunyai suami setelah dikawinkan pasca-lulus-sekolah-menengah.

Kemudian kabur ke jalan raya karena pamannya pun tidak mau membantu. Pernikahan yang penuh kekerasan, kecurigaan, dan jelas-jelas memposisikan perempuan sebagai kelamin kedua. Pernikahan yang demikian merupakan gambaran yang cukup jelas bagaimana keadaan di neraka.

"Saya tahu sekarang bahwa kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga, dan bahwa seorang pelacur yang mahal jauh lebih baik daripada seorang pelacur yang murahan." (Hlm. 125)

Dirangkai dengan alur maju. Perempuan di Titik Nol membuat saya berpikir ulang, dan seharusnya menyadarkan kita semua. Bahwa masih teramat banyak perempuan yang mendapat ketidakadilan hanya karena dia perempuan.

Bagian akhir novel ini amat menusuk. Firdaus mengatakan bahwa yang ditakuti oleh aparat penegak hukum bukanlah karena dia membunuh, tetapi kebenaran kenapa dia melakukanya. 

Seorang perempuan tidak akan memilih menjadi pelacur. Terdapat desain dari budaya yang mengagungkan jenis kelamin laki-laki. Firdaus ingin menolak desain raksasa itu, dia kini telah benar-benar dewasa, benar-benar berani, dan benar-benar ditakuti.

"Dan untuk sampai kepada kebenaran berarti bahwa seseorang tidak lagi merasa takut mati. Karena kematian dan kebenaran adalah sama dalam hal bahwa keduanya mensyaratkan keberanian yang besar bila orang ingin menghadapi mereka." (Hlm. 171)

Jika setelah membaca tulisan ini, Anda masih bisa makan ayam dengan enak sementara di luar ibu Anda, istri Anda, atau anak perempuan Anda dalam kesulitan untuk menghidupi keluarga, mungkin jika Anda menjadi semut akan lebih baik. 

Untuk Firdaus, alfatihah... //

Perempuan di Titik Nol: Kebenaran Sama Dengan Kematian
Dokumen pribadi

Tinggalkan Komentar

0 Comments