Hari Impian

Selamat sore. Menyenangkan sekali bisa mabuk lagi. Terlebih pada tahun-tahun keputusasaan seperti ini. Tidak punya uang bukan soal, yang penting masih ada teman yang pengertian. Teman macam begitu hanya perlu diberi kesabaran. Akan kita dapat sesuatu yang diinginkan, sebotol anggur misalnya.

Dua hari lalu kamu mendapat kabar salah satu novel milik temanmu diterima penerbit besar. Kamu sebenarnya tidak teramat bahagia, tidak juga sedih. Mengingat bahwa temanmu akan senang jika kamu puji, kemudian saat senang bisa memberimu anggur, kamu terpaksa memujinya.

"Akhirnya teman! Aku telah lama mendoakan kamu!" Katamu memulai saat berjumpa di warung kopi tengah sawah. "Akhirnya!!!"

Kamu sangat pandai memasang wajah paling meyakinkan. Ikut organisasi drama saat kuliah dulu ternyata tidak sepenuhnya sia-sia. Orang-orang di sana tidak sebanyak biasanya. Sekarang ini ada wabah yang sedang menyebar ke seluruh negeri. Udara siang tidak panas, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

"Wah! Dari mana kamu tahu?!" Tanyanya terkejut.

Apa kamu bodoh?! Sudah empat hari berturut-turut kamu buat story WhatsApp tentangnya! Pikirmu. "Aku tidak sengaja melihat pengumuman yang kamu bagikan," katamu akhirnya.

"Bagaimana dengan karir menulismu?" Tanya temanmu.

Wajahmu murung tiba-tiba. Itu adalah strategi agar mendapat iba. Kamu tidak benar-benar ingin menjadi penulis sebagaimana tidak benar-benar ingin murung. Satu-satunya tujuanmu adalah mendapat --setidaknya-- sebotol anggur. Wajah murung itu dilihat temanmu, seolah dukun yang merapal mantra, dia tepuk-tepuk pundakmu sambil kasihan. Kamu bersabar.

Sempat berpikir untuk segera menghilangkan bekas tangan temanmu di pundak, khawatir dia menyebarkan wabah kebodohan atau sejenisnya. Namun sekali lagi, kamu mesti bersabar.

"Adakah kamu mau menurunkan keahlian menulis itu kepadaku?"

"Tentu, kawan! Bakatku tidak akan habis jika sekadar untuk dipindahkan kepadamu!"

Kalian langsung tertawa bersama-sama. Tetapi kamu sebenarnya tidak merasa ada yang lucu. Mengikuti keinginan temanmu yang sedang berbahagia akan mempercepat capai tujuan, sebotol anggur.

Tidak lama kemudian, semobil polisi dari Polsek mendekat, seorang memberi imbauan memakai pengeras suara tentang bahayanya wabah ini, dua orang lain sibuk mendokumentasikan seorang tadi. Setelah itu orang-orang yang berkumpul, termasuk kamu dan teman kamu, diminta bubar dengan baik-baik. 

"Polisi datang tidak pernah membawa kabar baik," katamu menirukan kutipan di salah satu novelet.

"Tidak apa-apa. Ikutlah ke rumahku, di sana kita lanjutkan kopi ini."

"Tentu saja. Biar aku bisa tahu kebiasaan seorang penulis andal!"

"Hahaha..."

Sesampainya di rumah, kamu tidak berhenti memuji apa saja. Mulai dari jalan yang mulus, pintu depan yang bisa dibuka, kolam ikan yang ada airnya, sampai kursi kayu yang kamu katakan sebagai sofa paling empuk. Temanmu hanya tertawa, memintamu duduk sebentar sambil disodorkan rokok, lantas dia ke belakang membuat kopi.

"Kalau mau cari bokep, pakai saja WiFi!" Teriaknya dari belakang. "Password-nya ojongemiscok tanpa spasi."

"Hahahaha!" Teriakmu keras biar bisa terdengar. 

"Bajingan!" Bisikmu pelan.

Dia kembali, membawa dua cangkir kopi. Rokoknya kamu sulut setelah dia duduk. Dia menjelaskan bahwa laptopnya baru, rasa khawatirnya atas baju dan celana lenyap sebab bisa beli baru, dia bersyukur naskahnya diterima dan menghasilkan uang banyak sekali untuknya.

Setelah kopi tinggal setengah, dan obrolan nyaris habis, kamu bertanya apakah dia sudah mengadakan pesta atas keberuntungan beruntun itu? Dijawab oleh temannya bahwa belum.

"Kamu harus mengadakannya agar keberuntungan tidak berakhir. Harus! Tidak boleh tidak!"

"Pesta, ya--"

"Kamu tidak perlu khawatir, kamu cukup butuh uang 100 ribu!"

"Cuma itu?! Bagaimana bisa?"

Kamu mendekatkan wajah ke kupingnya, "beli anggur."

"Hahaha... Aku tidak perlu keluar uang sama sekali, meski hanya 100 ribu."

"Hah? Maksudmu?"

Dia berjalan ke lemari pendingin, lebih dari satu krat anggur merah dingin bersarang di dalam sana. Kamu melihatnya sebagai surga! Kagum! Takjub! Yang tidak dibuat-buat sebagaimana sebelumnya!

Diambilnya satu botol, beserta seloki indah, duduk kembali mereka berdua di kursi kayu yang tadi.

Hari itu menjadi sore yang cepat. 

Kamu mulai benar-benar menyukai lelaki itu bukan karena dia seorang penulis andal, rumah besar, apalagi karena kopi apek buatannya. Tetapi hanya karena dia punya harta itu! Lemari pendingin itu! Yang berisi sepenuhnya dengan anggur.

Dalam keadaan paling purna lepas kesadaran, kamu merasa begitu bahagia. Amat bahagia. Kamu tidak merasa khawatir terkait sesuatu. Rasa putus asa dan ambisi bunuh diri permisi. Kamu tidak lagi mempermasalahkan kegagalan menjadi penulis. 

Rasa sakit ditinggal orang-orang kesayangan tidak terasa. Bahkan, pada kenikmatan yang kamu rasakan melebihi apapun itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan! Kamu ingin menjabat tangan kematian, membisikkan di telinganya bahwa ini belum waktu untukmu. 

Imajinasi paling indah muncul, kamu merasa bisa bercinta dengan siapa saja. Harapan yang selama itu mustahil, memiliki lemari pendingin berisi penuh botol anggur, seakan jadi kenyataan. Dan ambisi-ambisi itu, menjadi penulis yang jujur dan anonim sebagaimana Enny Arrow, seperti sudah tercapai. 

Kebahagiaan yang purna dalam dunia fantasi itu terus berlanjut. Selepas isya kamu tersadar. Wajahmu sangat puas! Kamu mencoba berdiri, sambil berbisik pada diri sendiri, "Waktunya habis." 

Kamu melangkahi temanmu yang masih kelenger sambil ngiler. Membuka lemari pendingin dengan pelan, membawa satu botol, melangkahi lagi untuk pergi. Sudah terbayang malam yang panjang dan hebat dan penuh kebahagiaan luar biasa di kamar kumuh sendirian. Tidak. Bersama sebotol bagian surga.

Tinggalkan Komentar

0 Comments