Besok Adalah Hari Bahagia

Sehari sebelum dia mendapat kebahagiaan, mesti didahului dengan kebinalan pada perbuatan dan perkataan. Seorang perempuan itu, sedang terbujur lemas mirip mayat yang baru saja mati. Dia bukan mayat, sebab masih bernapas, dan nyawa belum lagi keluar. Napasnya tenang dan lembut, berbeda dua belas menit yang lalu sebelum dirinya tertidur.

Napas itu menderu saling mengejar! Dia sangat bersemangat sampai tidak tahu bahwa polisi moral sedang bersiap menggerebrek di depan pintu kamar hotel yang si perempuan sewa. Lelaki yang lumayan gemuk di atasnya bukan masalah besar, dia sudah sering melakukan hal serupa dengan laki-laki gemuk mirip babi seperti itu.

Saat itu, yang harus dia lakukan hanyalah pura-pura menikmati segala perlakuan. Baik disodok dari depan maupun belakang, atas maupun bawah, bahkan harus menikmati saat dia disuruh untuk melumat torpedo hitam sampai ke biji-bijinya yang jarang sekali dicuci sampai bersih. Saat melakukan itu, si perempuan cukup menahan napas barang sebentar.

Hari yang sudah lalu itu sempat terbayang di benak si perempuan sebagai hari yang mengubah hidupnya. Kehidupan yang sulit itu dibentuk oleh banyak sekali permasalahan amat kompleks! Pertama kali dia melakukan persetubuhan dengan lelaki tanpa kemauan, dia diperkosa oleh teman karibnya waktu sekolah menengah.

Cerita ini akan menjadi sangat panjang bagi perempuan itu hingga bertemu gundik gendut yang disebutnya sebagai Mama. Mama jugalah bagaimana lusinan perempuan serupa di sana menyebut. Namun tidak lama kemudian si perempuan memutuskan untuk melarikan diri. Dia terpaksa mengangkat daster sampai ke paha, kemudian adu lari bersama anjing penjaga dan penjaga anjing berwujud manusia laki-laki.

Selamatnya adalah dengan menceburkan diri ke dalam kolam ikan milik seorang dosen kampus kota itu. Dia menahan napas sampai paru-parunya seakan meledak, dan setelah semenit berada di bawah air, akhirnya keluarlah dia. Nyawanya belum juga keluar, artinya masih banyak kehidupan sulit yang menunggunya di depan. Kehidupan yang gelap sebagaimana malam itu.

“Yah, belum... mati...,” katanya seperti berbisik pada diri sendiri.

Tanpa menunggu lama, kehidupan sulit datang juga. Namun berkat Mama, dia berhasil melampauinya dengan melakukan pekerjaan dengan amat profesional. Satu persatu laki-laki memuntahkan sesuatu di atas tubuhnya yang telanjang, pernah juga keluar di dalam, seketika itu pula dia tampar keras-keras pipi tanpa meminta bayaran. 

Sehari sebelum kebahagiaan yang diidamkan datang, dia harus melayani seorang laki-laki berperut buncit itu. Lengan kekarnya tidak sekuat torpedo, sebentar saja sudah lemas. Namun pura-pura menikmati harus tetap dilakukan, setelah itu dia harus pura-pura tertidur di lengannya, sambil menahan keringat yang baunya mirip kaus kaki basah.

Tidak berselang lama, pintu didobrak dari luar. Salah seorang polisi moral laki-laki menodongkan pistol seolah-olah dia adalah penjahat yang membahayakan keamanan negara, kemudian tiga lainnya langsung menahan tangan dan kakinya. Dia sempat berpikir akan digilir orang-orang itu, ternyata tidak, dia dipandangi dengan mata yang tajam. Tiap lekuk ke lekuk lainnya.

Kemudian seorang buncit yang telanjang di sampingnya bangun, memakai baju dan bergabung dengan para penggerebrek. Dia kebingungan, kemudian menyadari sebuah jebakan. Beberapa pertanyaan dari mereka mesti keluar dengan nada marah bahkan sebelum sempat tangannya dilepaskan untuk memakai baju.

Malam itu menjadi yang amat panjang dan menyakitkan.

Besoknya, hari bahagia itu telah tiba di sana. Di dalam sel kandang kerangkeng. Perempuan itu benar-benar berbahagia, sebab tidak perlu ditindih atau dipaksa mengulum torpedo menjijikan. Saban pagi mendapat makan meski rasanya tidak jauh berbeda dengan aroma ketiak lelaki terakhir. Dan mesti melakukan beberapa pekerjaan yang katanya untuk memperbaiki moral. 

Namun semua itu masih jauh lebih baik dibanding harus melayani laki-laki semalaman dan tidur di sebelahnya, meski setelahnya akan dibayar. //

Besok Adalah Hari Bahagia
Gambar oleh Dieter Robbins dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments