Ulasan The Alchemist: Menyesal Sudah Selesai Membaca

Saya mesti menyesal karena mendapatkan buku ini tidak dari toko buku. Tetapi dikirim oleh teman dalam bentuk buku elektronik, kemudian saya cetak dalam biaya paling murah. Kelakuan itu bukan karena saya ingin berhemat, melanggengkan buku gratisan, atau menabung untuk pergi ke Mesir, melainkan semata-mata tidak memiliki uang. Setelah selesai mencetaknya, saya harus puasa seharian sampai mendapat suaka di indekos teman lainnya pada besok harinya.

Alasan itulah yang mendorong saya untuk tidak menuliskan identitas buku. Jika Anda bertanya jumlah halaman, penerjemah, ukuran huruf, atau bahkan jenis kertas yang dipakai, mohon maaf data-data itu tidak saya jumpai di sini.

Saya bisa menyebutkan identitas lainnya, misalnya penulisnya siapa. Dia adalah Paulo Coelho. Saya bertemu dengan Paulo Coelho secara kebetulan belaka. Yakni melalui perantara dari pembatas buku berjudul Brida. Gambar pembatas buku tersebut dapat Anda lihat di sini. Saya tertarik dengan kalimat yang tertulis di pembatas buku tersebut.

Lantas saya bertanya kepada teman apakah mempunyai buku Coelho, kemudian dia menjawab bahwa mempunyai satu, bukan buku, sekadar buku elektronik yang tersimpan di folder kumpulan buku elektronik dalam komputernya. Dia juga menambahkan bahwa buku satu itu sangat cocok untuk saya, dan saya ingin memaki teman saya setelah selesai membaca The Alchemist.

The Alchemist dan perkataaan teman saya yang mengatakan, bahwa buku ini cocok untuk saya memperjelas kalau saya adalah orang yang tersesat dan putus asa. Serta perlu motivasi yang agung untuk keluar dari pusaran keterpurukan. Buku ini bisa membangkitkan beberapa semangat dan ambisi, yang di sini disebut sebagai Legenda Pribadi.

Ulasan The Alchemist: Menyesal Sudah Selesai Membaca seloki
Sumber
Ada prolog di awal, isi, dan diakhiri dengan epilog. Prolog menceritakan tentang Sang Alkemis yang menemukan buku salah seorang kafilah. Membacanya dan menemukan cerita berbeda tentang Narcissus. 

Pembukaan yang apik di prolog tersebut mengisahkan Danau menangis karena Narcissus meninggal. Tapi ada plot twist menarik, Danau menangis bukan karena ditinggal Narcissus yang selalu bercermin di airnya.

"Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri."
"Kisah yang sungguh memikat," pikir Sang Alkemis.

Membuka isi saya bertemu lagi dengan Santiago. Nama tokoh yang sama dengan buku The Old Man and The Sea. Namun, nama Santiago yang ternyata adalah tokoh utama itu hanya disebut beberapa kali saja. Selanjutnya akan dipanggil sebagai Si Bocah saja.

Secara keseluruhan, menceritakan tentang Santiago, Si Bocah itu, yang 2 kali bermimpi sama tentang harta karun di dekat piramida Mesir. Sehingga novel The Alchemist menceritakan tentang petualangan Si Bocah.

Yang menarik dari petualangan tersebut adalah adanya sisi spiritual yang kental sekali. Disampaikan oleh Coelho dengan halus.

Orang tua Si Bocah menginginkannya menjadi pastor, namun dia lebih memilih untuk berkelana. Si Bocah kemudian menjadi penggembala domba berkat uang pesangon yang diberikan oleh ayahnya.

Latar tempat ketika Si Bocah menggembala domba mesti ditandai: di gereja terbengkalai yang tumbuh pohon sikamor sangat besar di tempat sakristi.

Tokoh kedua yang muncul adalah anak perempuan dari pengepul bulu domba. Kemungkinan besar pembaca bakal mengira bahwa Si Bocah kelak --setelah bertualang-- akan kembali untuk menikah dengan perempuan itu. Sebab deskripsi dan alur yang dipasang oleh Coelho mengarah pada anggapan tersebut.

Tokoh selanjutnya, yang menjadi sebab dia hendak mewujudkan mimpi mendapat harta di piramida, adalah seorang Raja. Raja tersebut muncul untuk membantunya menggugah kesadaran akan pentingnya Legenda Pribadi yang dimiliki setiap manusia.

Percakapannya dengan Raja yang berpakaian biasa itu seperti orang yang mendapat wahyu. Si Bocah adalah penggembala domba, ditemui raja, dan diberi semacam kesadaran tentang rahasia-rahasia alam semesta.

"Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan." (Raja)

Si Bocah diberi dua buah batu yang berada di tengah penutup dada Raja itu. Batu berwarna hitam dan putih yang disebut sebagai Urim dan Thummim. Setelah itu, seiring berjalannya waktu, Si Bocah belajar tentang tanda dan pertanda yang ditunjukkan oleh semesta kepadanya. Dia juga menyelami Jiwa Buana yang berisi kesatuan ilahi.

"Dan, saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya." (Raja)

Kalimat di atas akan terus diingat oleh Si Bocah. Maka dia menjual dombanya (dalam arti yang lebih mudah: seluruh harta benda yang dimilikinya saat itu) untuk ongkos naik kapal. Sebagian domba tersebut diberikan kepada Raja, bahwa ada sesuatu yang harus dibayar untuk mendapat tujuan yang murni.

Awal cerita didominasi dengan kemelut batin dari Si Bocah. Apakah dia benar-benar hendak menuntaskan keinginan untuk berkelana atau mengikuti hasrat untuk menetap di satu tempat. Si Bocah sering melakukan tapa di bukit sendirian, kemudian menyelam dalam diri yang lebih kental, dan memutuskan untuk berkelana.

Berkelana --bagi Si Bocah-- akan mendapat tempat dan teman-teman baru, dia memikirkan hal-hal menyenangkan ketika melakukan petualangan, seperti tidak perlu meluangkan seluruh waktunya untuk teman-teman baru itu. Sebab dia akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, meninggalkan temannya dan bertemu teman baru yang lainnya.

Hobinya membaca menumbuhkan hasrat lain, yakni ingin menulis buku juga. Dia berkeyakinan bahwa, Jika suatu saat dia menulis buku, pikirnya, dia akan menampilkan satu orang saja pada satu waktu, sehingga pembaca tidak perlu repot mengafal banyak nama. Namun sampai cerita berakhir, Si Bocah tidak benar-benar akan menulis buku.

Kata-kata Raja tua selalu diingat, terutama saat Si Bocah dihadapkan dengan banyak sekali pilihan dalam perjalannya.

"...Tapi aku selalu muncul dalam satu bentuk atau lainnya. Kadang-kadang aku muncul dalam bentuk solusi, atau ide bagus. Di waktu lain, pada saat genting, aku mempermudah terjadinya hal-hal yang muskil..." (Raja)

Seorang yang mempunyai impian, kemudian impian ini meredup, bangkitkan kembali impian tersebut dengan membaca buku ini. Di sela percakapan antara tokoh satu dengan lainnya sering terdapat pelajaran berharga. Si Bocah mendapat banyak nasihat dari Raja tua. Misalnya saja begini:

"Jika kau mulai dengan menjanjikan apa yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk bekerja guna mendapatkannya." (Raja)

Coelho menampilkan tokoh-tokoh secara apik dan berurutan. Jumlah tokohnya pun tidak banyak disebut. Memudahkan para pembaca guna memahami alur yang disajikan. Di sisi lain, tidak mengurangi sedikit pun keseruan dalam membaca narasi ini. Tak ayal memang sudah terjual sekitar 150 juta salinan buku The Alchemist.

Sebelum Si Bocah pergi menggunakan kapal, dia ingat-ingat kembali apa saja yang dikatakan oleh Raja tersebut. Tidak dijelaskan mengapa ada Raja di sana, yang berpenampilan seperti orang tua biasa, namun memakai penutup dada di dalam jubahnya. Penutup dada tersebut terbuat dari emas dan berlapis batu-batu mulia.

...Dan jika tiap hari sama belaka dengan berikutnya, itu karena orang lupa menyadari hal-hal baik yang terjadi setiap hari dalam hidup mereka, misalnya terbitnya matahari.

Dalam perjalanannya sebagai rombongan kafilah, Si Bocah mencoba memahami Bahasa Universal. Dia akan bisa berdialog dengan gunung, angin, gurun, bahkan cangkang kerang mati. Ada bahasa yang dipakai setiap benda, dan benda pun memiliki jiwanya sendiri. Terdapat Jiwa Buana yang bisa memberikan petunjuk atau bisikan.

Sebagian besar narasi dalam The Alchemist memang menceritakan tentang pergolakan batin seorang bocah yang sedang 'mencari'. Diracik menggunakan bahasa serta pemahaman filsafat. 

"Jangan lupa bahwa segala yang kamu hadapi hanya satu hal tunggal. Dan jangan lupa bahasa pertanda. Dan, yang paling penting, jangan lupa mengikuti Legenda Pribadimu sampai ke kesimpulannya." (Raja)

Si Bocah menyeberangi gurun selama 40 hari untuk sampai ke Oasis. Tujuannya hanya satu, yakni mencapai Legenda Pribadinya sendiri. Namun, di tengah perjalanan, semua uang yang diperoleh dari menjual domba sebelum berangkat tadi, habis dirampok orang asing. Dia sempat frustasi, namun memutuskan untuk bertahan.

Coelho memakai bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Sampai saat ini pun Si Bocah belum bertemu dengan Sang Alkemis. 

...Si Bocah tahu bahwa di dalam uang ada keajaiban; siapapun yang punya uang tak akan pernah merasa sendirian.

Maka dari itu, dia kemudian meminta bekerja di toko gelas kristal karena sangat kelaparan. Berkat usaha Si Bocah membersihkan setiap gelas kristal, kemudian memperbesar usaha dengan membuat kedai teh di bukit yang disajikan dengan gelas kritas, membuat para musafir tertarik. 

"Kamu tidak perlu membersihkan apa-apa," katanya. "Al-Quran menyuruhku memberi makan orang yang lapar." (Pemilik toko gelas kristal)

Berkat itulah pemilik toko kristal menyukai Si Bocah. Namun di tengah kejayaan mendapat kekayaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, Si Bocah teringat kembali dengan Legenda Pribadinya dan Raja. Setelah genap setahun, Si Bocah berpamitan meninggalkan pemilik toko gelas kristal menuju Piramida di Mesir.

Si pemilik toko gelas kristal sendiri punya Legenda Pribadi. Namun dia sengaja untuk tidak mewujudkannya. Sebab menganggap, jika mimpi itu terkabul maka dia tidak mempunyai ambisi, semangat, dan gairah untuk terus hidup. Legenda Pribadi si pemilik toko adalah pergi haji.

Coelho menampilkan si pemilik toko gelas kristal itu sebagai orang tua yang bijaksana. Tersirat jelas kedalaman pemahaman akan pengalaman-pengalaman. Bahwa dia setiap hari selalu melihat orang pergi ke Mekah untuk haji, dia setiap hari juga membayangkan pergi ke sana, membayangkan siapa orang di depan, di kiri, di kanan, dan di belakangnya. Dia juga membayangkan melantunkan doa-doa ketika mengitari Ka'bah. Namun sekali lagi, dia sengaja untuk tidak mewujudkan Legenda Pribadi itu.

"Justru pikiran tentang Mekkahlah yang membuatku terus hidup. Itulah yang membuatku kuat menghadapi hari-hari yang sama belaka ini, yang membuatku tahan menghadapi kristal-kristal bisu di rak, dan sanggup makan siang dan makan malam di warung jelek yang itu-itu juga. Aku takut bila impianku terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan hidup.
"...Sudah ribuan kali kubayangkan diriku melewati gurun pasir, tiba di Ka'bah. Mengitarinya tujuh kali sebelum aku menyentuhnya. Kubayangkan orang-orang yang akan berada di sampingku, dan yang di depanku, dan percakapan dan doa-doa yang kami panjatkan bersama. Tapi aku takut semua itu akhirnya akan membuatku kecewa, jadi aku lebih suka memimpikannya saja." (Pemilik toko gelas kristal)

Setiap perjalanan, dan setiap orang yang ditemui oleh Si Bocah, menambah wawasan dan pengalaman atas Si Bocah memahami rahasia alam semesta. 

The Alchemist adalah novel tentang petualangan. Lebih tepatnya petualangan dari Si Bocah untuk mewujudkan Legenda Pribadinya. Namun ada juga dibumbui dengan percintaan, adat istiadat di gurun, perang suku, dan tentu saja spiritualitas.

...Jika aku dapat belajar memahami bahasa tanpa kata-kata ini, aku bisa belajar memahami dunia.

Coelho memakai sudut pandang orang ketiga di The Alchemist ini. Kisah Si Bocah sangat seru, saya bahkan memperlambat pembacaan karena khawatir jika buku ini segera habis. Terdapat banyak hambatan dan kegagalan, di saat yang sama terdapat keajaiban dan suka cita. Dibalut menjadi sajian yang matang dan elit.

"...aku akan merasa lebih buruk daripada sebelum kamu datang. Sebab aku jadi tahu hal-hal yang mampu kulakukan, sementara aku tidak mau melakukannya." (Pemilik toko gelas kristal)
...Mereka berbincang dalam bahasa Arab, dan Si Bocah berbangga diri karena mampu melakukannya. Pernah ada saat ketika dia mengira domba-dombanya dapat mengajari segala hal yang perlu dia ketahui tentang dunia. Tapi mereka tidak bisa mengajari dia bahasa Arab.

Alkemis pada judul ini bisa bermakna dua hal. Pertama adalah cita-cita Si Bocah. Kedua adalah kisahnya bersama Sang Alkemis yang akan ditemuinya kelak. 

Dia mampu berbahasa Esperanto, dia sangat paham semua agama besar, tapi dia belum juga menjadi ahli kimia, menjadi alkemis.

Cerita Sang Alkemis mengingatkan saya kepada orang-orang suci. Misalnya dengan telunjuknya bisa mengubah buah pinang menjadi emas, berjalan di atas air, dan menjadi angin. Suku-suku di sini disebutkan, seperti bangsa Moor dan orang Badui yang Si Bocah temui.

Si Bocah menganggap semua cerita sudah tertulis di suatu tempat. Orang-orang menyebutnya sebagai 'maktub'. Si Bocah percaya, bahwa kisah hidupnya dan sejarah dunia sampai masa depan alam semesta ditulis oleh tangan yang sama. Termasuk kisah gurun, laut, manusia, matahari, dan segala makhluk lainnya yang memberi tanda dan pertanda rahasia alam semesta.

Perjalanan menuju Piramida itu makin memberi pelajaran hidup luar biasa bagi Si Bocah. Saya khawatir banyak pembaca yang menginginkan petualangan setelah membaca The Alchemist. Namun bukan jadi soal, sebab tekat dan impian kuat mempunyai energi yang selalu positif. Semua hal termasuk onta, gelas kristal, manusia, batu, tanah, memiliki sinergi untuk mewujudkan impian dengan tekat besar itu.

"Aku belajar bahwa dunia mempunyai jiwa, dan bahwa siapapun yang memahami jiwa itu dapat juga memahami bahasa benda-benda. Aku belajar bahwa banyak alkemis menyadari Legenda Pribadi mereka, dan menyelesaikan pencarian Jiwa Buana, Batu Filsuf, dan Obat Hidup." (Si Bocah)

Yang dimaksud Batu Filsuf adalah batu yang bisa mengubah segala logam jadi emas asli. Sedangkan Obat Hidup adalah cairan yang bisa menyembuhkan segala sakit. Semakin Si Bocah dekat dengan Piramida, maka semakin sulit juga keadaan serta ujian yang diberikan alam semesta. Namun Si Bocah tetap sanggup melaluinya. 

Setelah sampai di Oasis, Si Bocah bertemu dengan seorang perempuan yang langsung memikat hatinya. Sebagian besar pikiran Si Bocah didominasi oleh perempuan tersebut. Nama perempuan gurun itu adalah Fatima. Mereka bedua membuat ikatan, dan Fatima --seperti kebanyakan perempuan gurun lain-- akan membiarkan Si Bocah pergi mewujudkan Legenda Pribadi dan menantinya. 

Ketika bertemu dan hendak berpisah dengan Fatima itulah, romansa dalam The Alchemist sangat terasa. Begitu indah dan penuh keyakinan. Si Bocah tidak akan melanjutkan perjalanan bersama para karavan, karena sedang terjadi perang suku di gurun. Dia kemudian bertemu Sang Alkemis yang sudah menunggunya jauh hari.

...dia mengerti bagian terpenting dari bahasa yang digunakan oleh seluruh dunia, bahasa yang bisa dipahami oleh setiap orang di bumi dengan hati mereka, itulah cinta. Sesuatu yang lebih tua dari umat manusia, lebih purba dari gurun.

Kisah cinta Si Bocah memiliki aroma perjuangan. Bukan kisah menye yang membuat mual. Anda akan suka dengan kelakuan lugu dan berani Si Bocah.

"Aku akan menunggumu di sini setiap hari. Aku telah menyeberangi gurun untuk mencari suatu harta yang berada di satu tempat dekat Piramida, dan bagiku, perang itu tampak seperti kutuk. Tapi sekarang ia  adalah rahmat, karena ia membawa diriku padamu." (Si Bocah)

Memang pada saat itu perang suku sedang meledak dan hanya Oasis-lah tempat netral. Para pengelana membuat tenda-tenda di sana, begitu pula dengan Orang Inggris dan Si Bocah. Orang Inggris adalah tokoh lainnya yang muncul, yang menemani Si Bocah dalam perjalanan menyeberangi gurun bersama karavan. Setelah itu pun Orang Inggris tidak dimunculkan kembali oleh Coelho.

Oasis yang dianggap daerah netral ternyata tidak selalu demikian. Meski sudah ada aturan atau tradisi yang berlaku bahwa tidak boleh menyerang Oasis, Si Bocah melihat tanda-tanda. Proses penglihatan atau vision yang diperoleh Si Bocah adalah berasal dari dua ekor elang yang bertarung di langit. Saat itu pula dia lihat gambaran para tentara yang akan menyerang oasis. Penghilatannya barusan diceritakan kepada kepala suku, dan para ketua akan memenggal leher Si Bocah jika ternyata tidak ada satu pun tentara yang akan menyerang.

Dia waspada terhadap apa yang akan terjadi. Dia telah berhasil menjangkau Jiwa Buana, dan sekarang harga untuk itu mungkin adalah nyawanya... mati besok tidaklah lebih buruk daripada mati di hari lainnya.

Berkat pembacaan tanda dan pertanda dari dua ekor elang itu, Si Bocah akhirnya bertemu dengan Sang Alkemis. Lelaki itu menaiki kuda dan bukan onta, usia Sang Alkemis lebih dari 200 tahun.

"Bila para serdadu itu tiba, dan kepalamu masih di bahumu saat matahari terbenam, datang dan temuilah aku," kata orang asing itu.

Cerita setelah itu adalah tentang mereka berdua --Si Bocah dan Sang  Alkemis. Mereka akan bertualang menuju Piramida berdua saja. Akan menembus perang suku dengan keberanian dan Jiwa Buana. 

"Saat seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya," kata Sang Alkemis, menggemakan kata-kata Raja tua itu. Si Bocah mengerti. Ada satu orang lagi yang membantunya menuju Legenda Pribadinya.

Saya pribadi bahagia, dan tentu saja senang, mendengar salah satu percakapan dari mereka berdua. Terutama ketika setelah makan, ketika membicarakan tentang perjalanan menuju Piramida yang hanya berdua saja. Mereka berdua meminum anggur, minuman yang sangat disukai Si Bocah ketika masih menjadi penggembala domba.

"Bukankah di sini anggur diharamkan?" tanya Si Bocah.
"Yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk ke dalam mulut manusia," kata Sang Alkemis. "Yang buruk adalah yang keluar dari mulut mereka."

Pengetahuan Sang Alkemis tentang dunia juga sampai pada para binatang, dia memahami mana hewan yang berbahaya dan mana yang tidak. Sang Alkemis tahu cara berurusan dengan ular kobra, bahkan tahu bagaimana sikap onta.

"Besok, jual ontamu dan belilah seekor kuda. Onta itu khianat: mereka berjalan ribuan langkah dan tidak pernah kelihatan lelah. Kemudian tiba-tiba, mereka berlutut dan mati. Tapi kuda letihnya sedikit demi sedikit. Kamu bisa tahu sejauh apa kami bisa menyuruh mereka, dan kapan saat mereka akan mati."

Pelajaran hidup yang diperoleh Si Bocah dari Sang Alkemis semakin banyak saja. Sang Alkemis sudah hidup lebih dari 200 tahun dan tahu tentang rahasia-rahasia. 

"Dengarkan hatimu. Ia tahu segala hal, karena ia berasal dari Jiwa Buana, dan suatu hari ia akan kembali ke sana."

Si Bocah masih belajar banyak hal. Tentang hati dan rasa, bahasa manusia dan bahasa universal yang dipakai semua makhluk. Tentang kehidupan dan pemahaman tunggal. Perjalanannya menuju Legenda Pribadi mempunyai harga yang harus dibayar, serta derita dan ketakutan.

"Katakan pada hatimu bahwa takut menderita itu lebih buruk daripada menderita itu sendiri. Dan bahwa tidak ada hati yang pernah menderita saat ia mengerjar mimpi-mimpinya, karena setiap detik dari pencarian itu adalah detik perjumpaan dengan Tuhan dan dengan keabadian." (Sang Alkemis)

Pembicaraan tentang hati itu menjadi panjang. Hati manusia yang murni akan membantu setiap orang yang ingin mewujudkan Legenda Pribadinya. Namun tidak hanya itu, hati manusia yang murni akan membantu anak-anak juga, para pemabuk, serta orang tua. Sang Alkemis adalah orang bijak, Si Bocah telah menemukan guru yang tepat. Maka perjalanan menyeberangi gurun dan perang suku dimulai.

"Mata manusia menunjukkan kekuatan jiwanya," jawab Sang Alkemis.

Setelah menyeberangi gurun, mereka berdua sampai di markas militer. Mereka berdua ditangkap dan dikira mata-mata musuh. Sang Alkemis mengatakan bahwa Si Bocah bisa berubah jadi angin, kepala suku militer itu ingin melihat bagaimana Si Bocah berubah jadi angin. Sekaligus dia ingin melihat keagungan Allah.

Namun jika Si Bocah tidak bisa melakukannya, maka mereka berdua akan dihukum mati. Bagian akhir adalah tentang percakapan Si Bocah bersama angin, gurun, dan matahari. Anda akan terpesona membacanya. Setiap kalimat seakan mengandung kekuatan yang bisa dipakai sebagai kekuatan Anda.

...bahwa tangan itu mempunyai alasan untuk semua ini, dan bahwa hanya tangan itu yang dapat melakukan keajaiban-keajaiban, atau mengubah laut menjadi gurun..., atau manusia menjadi angin.
Karena hanya tangan itulah yang mengerti bahwa ia adalah desain yang lebih besar yang telah mengubah alam semesta ke titik saat enam hari  penciptaan berkembang menjadi sebuah Karya Agung.
Si Bocah menjangkau ke Jiwa Buana, dan melihatnya sebagai bagian dari Jiwa Tuhan. Dan dia melihat bahwa Jiwa Tuhan adalah jiwanya sendiri. Dan bahwa dia, seorang bocah lelaki, dapat melakukan keajaiban-kejaiban.

Setelah berhasil mengubah diri menjadi angin, Si Bocah, Santiago itu, berpisah dengan Sang Alkemis. Banyak sekali pelajaran dari perjalanan panjang bersamanya. Si Bocah akhirnya sampai pada tujuan, perwujudan Legenda Pribadinya. Tempatnya adalah di sebelah Piramida. Dia bersyukur, dan menangis, dan air matanya jatuh pada satu titik di pasir itu.

Titik yang dijatuhi air matanya adalah tempat di mana dia akan menemukan harta dari Legenda Pribadinya. Maka digali pasir itu menggunakan tangan, sampai lama digali terus, hingga tangan Si Bocah terasa gemetar namun tidak dijumpai apapun selain pasir dan pasir.

Beberapa waktu kemudian ada beberapa orang datang. Bertanya apa yang sedang dia lakukan, dan para pendatang itu menghajar Si Bocah untuk merampoknya. Si Bocah hampir mati, tetapi tidak mati. Hanya babak belur, baju robek, dan sangat lemah.

"Kamu tidak akan mati. Kamu akan hidup, dan kamu akan belajar bahwa seorang lelaki tidak boleh bodoh. Dua tahun lalu, tepat di sini, aku juga mendapat mimpi yang berulang. Aku bermimpi bahwa aku harus berkelana ke ladang-ladang di Spanyol dan mencari sebuah gereja yang rusak tempat para gembala dan domba-domba tidur. Dalam mimpiku, ada pohon sikamor tumbuh di reruntuhan sakristi, dan aku diberitahu bahwa, jika aku menggali akar simakor itu, aku akan menemukan harta terpendam. Tapi aku tidak begitu bodoh sampai mau menyeberangi gurun yang luas hanya untuk mimpi yang datang berulang." (Perampok)

Yah, begitulah akhir ceritanya. Si Bocah jauh-jauh melakukan perjalanan, selama bertahun-tahun, hanya bertujuan untuk dirampok dan mendengar mimpi berulang perampok itu. Yang sebenarnya mengarahkan dirinya untuk kembali ke kampung halamannya, sebab di sanalah hartanya terseimpan. Perwujudan dari Legenda Pribadi.

Harta yang dikatakan di awal, benar-benar harta sungguhan. Pada bagian Epilog, Si Bocah kembali ke kampung halamannya. Di ladang Spayol di gereja rusak tempat dirinya dan domba-dombanya tidur, di sana, di bawah pohon sikamor yang tumbuh tepat di sakristi, dia menggali.

Si Bocah menemukan harta sungguhan, harta benda, berupa emas dan perhiasan lainnya. Dia memasukkan batu pemberian raja di sana juga. Angin kemudian datang, angin yang membawa aroma serta ciuman dari Fatima. Mendarat mulus dan dirasakan oleh Si Bocah tepat pada bibirnya. Kalimat terakhir di novel ini begini:

"Aku datang, Fatima," katanya.

Saya seperti melewatkan beberapa bagian penting. Seperti unsur-unsur yang berada di dalamnya, atau bahkan kejadian yang menjadi inti dari perjalanan Si Bocah. Buku ini ditulis cukup lama oleh Coelho. Dalam salah satu tulisannya, dia mengatakan bahwa menulis The Alchemist selama 39 tahun + 15 hari.

Menyimpulkan buku yang kompleks seperti ini amat sulit. Namun barangkali bisa ditarik satu garis merah, bahwa buku ini mengajak para pembacanya untuk meraih mimpi terbesar, impian paling agung, Legenda Pribadinya.

Buku wajib baca untuk semua orang --terutama yang tersesat dan putus asa dengan kehidupan. //

Tinggalkan Komentar

0 Comments