Tragedi Mandi Bareng: Buaya dan Singa Gulat di Kolam Koi

Blitar, setahu saya, jarang terjadi bentrok. Blitar ini kota yang damai belaka. Makanya saat mendapat kiriman foto motor terbakar, saya menyangsikan pelakunya adalah masyarakat Blitar. Siang tadi saya lewat kota, melihat polisi menutup beberapa jalan, namun tidak memiliki pikiran macam-macam seperti kegaduhan.

Malam ini saya ingin menulis catatan saja. Bahwa kota ini, yang sudah membesarkan saya, ikut andil membentuk pribadi saya, membuat saya seakan memiliki kewajiban untuk tidak melupakan apa yang melukainya. 

Media pemberitaan mainstream tidak luput mengabarkan, termasuk mengatakan berapa jumlah motor terbakar: ada yang mengatakan 7 motor dan 1 mobil dibakar, ada yang mengatakan 4 motor dan 1 mobil, ada pula yang memakai abstraksi dengan kata "beberapa" atau "sejumlah".

Dokumen pribadi diakses 18 Februari 2020 Pukul 20.02

Yang lebih ramai adalah berita-berita (kalau boleh disebut sebagai netizen journalism) di media sosial twitter. Bahwa laporan dan keluhan terus muncul ke permukaan. Terlepas dari siapa pemenang laganya, berapa jumlah motor gosong, toko siapa saja yang tutup, yang jelas rezeki sebagian masyarakat Blitar hari ini tersendat. 

Para pendukung yang tidak bisa masuk, digadang-gadang menjadi alasan paling kuat mereka melakukan perlawanan. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya, ketika hendak mendukung sebuah tim, namun tidak bisa masuk melihat permainan. Namun jika dilampiaskan dengan brutal, bukankah kurang bijak?

Dua pendukung tim sepak bola, untuk tidak mengatakan namanya, bertamu ke Stadion Supriyadi setelah dialihkan dari Stadion Kanjuruhan. Pertandingan tersebut adalah semifinal dari Piala Gubernur Jawa Timur 2020.

Bukan soal menang-kalah, namun yang lebih penting, menurut saya, adalah dampak dari pertandingan tersebut. Dampak buruk lebih dominan, empat sekolah dipulangkan lebih awal, toko-toko tutup dini, pemilik warung lari karena pelanggannya tidak bayar, para petani sawahnya diinjak-injak, orang-orang tidak keluar rumah karena diburu ketakutan. Bentrok pendukung tim sepak bola sudah mirip momok, lebih jauh lagi: telah menebar teror!

Ketakutan itu mewujud dalam barang-barang rusak. Dapat didengar pula dari polusi suara. Bayangkan anak kecil melihat dan mendengarnya, kemudian mendapat trauma yang akan diingatnya sepanjang hidup. 

Kita semua, mestinya menjadi lebih bijak. Olah raga mestinya menyehatkan tubuh dan menawarkan kesenangan untuk semua. Bukan sebaliknya, bukan malah meninggalkan kesan buruk karena barang-barang rusak dan menebar ketakutan ke kota lain.

Hari ini akan saya sebut sebagai Tragedi Mandi Bareng: Buaya dan Singa Gulat di  Kolam Koi. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah, yang ada hanya yang dirugikan. Itulah para penghuni kolam. //

Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)