Surat untuk Orang-Orang Bahagia

Jusuf mengumpulkan semua temannya yang sedikit. Suasana kedai kopi itu ramai, tetapi dia tidak peduli. Dia sudah menyusun beberapa gagasan utama yang akan diungkapkan berbalut retorika biar seolah-olah sedang berpidato. Dia juga membayangkan diri sebagai Soekarno atau Hitler atau Major Si Babi. Maka pidatonya kepada para temannya dimulai.

“Hai, temanku! Aku sudah muak dengan beberapa hal yang kita anggap menyenangkan. Pernahkah kalian pikir, bahwa hal-hal itu, bisa dianggap menyebalkan oleh orang lain? Kita sudah berada di sini, dan aku minta waktu kalian barang lima menit saja!”

Ada penekanan dalam kalimat terakhir. Dan temannya yang sedikit itu meletakkan ponsel pintar, memasang pendengaran dan nalar di otak bodohnya. Jusuf kemudian mengatakan terima kasih. Dia pandangi setiap teman itu, yang dia sangka mempunyai kehidupan bahagia.

“Kita pernah melihat orang memamerkan sesuatu! Kemudian kita iri. Kita membuka media sosial instagram! Kemudian kita iri. Kita melihat cerita whatsapp orang! Kemudian kita iri. Bahkan ketika kita tidak melakukan apapun selain memikirkan kehidupan kita amat buruk, dan membayangkan kehidupan orang lain amat baik, kita iri! 

“Iri bukan salah orang itu! Setiap manusia punya iri. Kita bisa seolah-olah kuat, menganggap rasa iri sebagai cambuk yang mendorong kita untuk maju, mendapatkan apa yang sudah didapatkan oleh orang lain. Lantas apa bedanya kita dengan kerbau?!

“Sudah saatnya kita ubah pikiran! Kita bisa mengubah dunia bahkan alam semesta! Namun, teman-temanku yang miskin, impian paling megah yang mampu kita bayangkan tidak mungkin terwujud jika kita tidak segera bangkit dari tidur melelahkan ini! Aku sudah tahu, kalian akan kebingungan ketika bangun tidur, tidak mempunyai pekerjaan, apalagi uang. Dan membayangkan aktivitas produktif saja sudah membuat kalian kepayahan.

“Hanya membayangkan saja sudah kepayahan! Maka setelah bangun tidur, kalian akan guling-guling sebelum tidur kembali. Untung seribu untung, dan kita sering kurang bersyukur, sebab setelah tidur bisa bangun. Bayangkan, kalian mati dalam keadaan paling tidak berguna seperti ini!”

Jusuf berhenti, dia mengingat beberapa kisah hidup temannya itu. Yang dilihat dari sudut mana pun sangat mengenaskan. Sialnya, mereka menikmatinya. Bertahan dalam kesibukan tidak melakukan apa-apa, setiap waktu, setiap hari, berbulan-bulan, lewat setahun.

“Aku tahu bahwa tidak semua manusia mempunyai jalan yang mulus. Analogikan begini, ada beberapa jenis manusia di dunia ini. Pertama adalah mereka yang dalam perjalanan kehidupannya naik mobil dengan udara pendingin yang membuat nyaman, melewati jalan tol paling mulus bebas hambatan. Tidak sedikit manusia yang hanya naik sepeda motor dan sepeda pancal, melewati jalan aspal dan kadang berlubang, mungkin kita tergolong dalam manusia jenis ini. Dan yang terakhir adalah mereka yang hanya jalan kaki, lewat jalan bebatuan di bawah terik sinar matahari pukul 11.50, tanpa alas kaki dan air mineral.

“Artinya apa? Kita tidak sendiri!!! Aku yakin masih ada sekian ribu, bahkan sekian juta orang bernasib sama. Merasa dirinya paling tidak berguna sepanjang sejarah manusia, dan bingung hendak melakukan apa. Namun, dalam waktu yang bersamaan, kita juga harus bersyukur! Sebab masih banyak orang yang lebih sial hidupnya. 

“Mereka para orang paling sial, tidak punya waktu untuk iri kepada para orang paling bahagia, apalagi menulis surat untuk mereka. Mereka sibuk untuk melangkah, meski kaki linu dan nyeri, perih dan berdarah menginjak batu dan tanah. Mereka terus bangkit, berjalan maju, lambat, dan bagi yang beruntung tidak akan mati di tengah perjuangan!”

“Apakah kita hanya akan berhenti di sini?!” teriak Jusuf keras.

“TIDAK!!!” jawab teman-temannya yang sedikit, cukup keras.

“Lantas kita mesti apa sekarang?”

Tidak ada yang menjawabnya. Jusuf dihadapkan dengan keadaan paling tak terduga, teman-temannya yang baru saja mendengar kembali lagi dalam individual memainkan ponsel pintar. Jusuf murka dan memukul meja, “APA KALIAN TIDAK INGIN BERUBAH?!!!”

Salah satu dari temannya menjawab, tenang dan santai, “Waktu 5 menit milikmu sudah habis.”

Lainnya menanggapi, “Kami lambat laun pasti berubah, kami sudah punya pekerjaan, dan sengaja tidak mengabarimu. Malam ini adalah liburan, lumayan ada tambahan: melihat dan mendengar badut berbicara.”

Jusuf lemas. Dia hampir berniat menjadi orang jahat. //

Surat untuk Orang Bahagia Seloki
Image by StartupStockPhotos from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments