Pukul Satu Dini Hari

Matamu sudah terbiasa melihat. Sekarang kamu sudah tahu, setidaknya, mana manusia yang berniat baik dan manusia yang tidak.

Mata terlatih itu menjadi buruan beberapa teman dekat. Hal itu telah membuktikan bahwa kamu sebenarnya tidak punya teman sama sekali.

Mereka amat bergairah menemuimu. Mencoba berbuat baik sebagai modal awal paling murah, kemudian jika kamu lalai, mereka akan dengan leluasa merampas apa saja darimu. Kebahagiaan, kenyamanan, tentu saja setelah harta benda.

Sadarlah! Sadarlah sekarang juga! Apa kamu sekarang menjadi buta? Apakah keadaan miskin, dingin, dan sengsara sekarang ini tidak kamu sadari sama sekali?

Baik. Kamu pasti sudah tahu dan saya minta maaf karena telah meragukanmu. Kamu pasti sudah menyusun beberapa rencana untuk membalas orang-orang berengsek itu.

Saya sebenarnya merasa kasihan kepada mereka. Sebab saya sudah tahu bahwa kamu seorang pendendam. Dan balasan yang akan mereka terima darimu pasti jauh lebih pedih dan kejam.

Bisa saja kamu membius mereka. Kemudian mengikat kencang di tangan dan kaki. Lantas menyayat beberapa bagian di kulit, bisa di wajah atau kelamin mereka.

Kamu tidak menyumpal mulut karena erang kesakitan dari mereka merupakan kenikmatan. Sedikit mengobati rasa dendam darimu. Namun kamu tidak akan berhenti hanya sampai di sana, kamu akan terus menyiksa mereka dan mengantarkan pada kematian yang lambat.

Itu yang berada dalam pikiranmu sekarang. Bahkan saya bisa menebak apa yang kamu pikirkan. Saya tidak akan menghentikanmu, sebab mereka memang pantas mendapatkannya.

Silakan, cepat lakukan!!! Saya sudah tidak sabar melihat mereka tersiksa! Segera tuntaskan! Jangan dengarkan sisi lainnya dari saya, dia yang berada di sebelah kanan itu penipu!

Dengarkan saya saja! Tuntaskan dendam itu sekarang juga!

***

Jangan lakukan! Tidak ada gunanya membalas dendam. Bahkan dendam itu sama sekali tidak perlu dirawat.

Lepaskan perlahan, tumbuhkan sabar. Kamu sudah berjuang sejauh ini. Ingatkah pada masa kecil dahulu? Kamu sering membuat onar, membikin jengkel setiap orang, namun orang tuamu selalu sabar. Belajarlah dari mereka.

Semua kesalahanmu masa kecil ditanggung oleh mereka. Sekarang, penderitaanmu tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan pelindungmu.

Kamu benar-benar tidak sendiri. Mungkin teman-temanmu sekarang ini tidak ada yang tulus, namun mereka hadir hanya agar kamu menjadi dewasa. Ini adalah rahasia dan saya terpaksa memberitahumu.

Sekarang atur napas, kendalikan emosi, mereka yang tulus kepadamu tidak akan senang melihat kamu dikendalikan sisi kiri dari saya.

Sikap yang baik akan tumbuh jadi hal baik pula. Sikap yang buruk menghasilkan keburukan yang lebih. Kamu punya banyak pilihan, tapi saya berharap pilihan yang kamu ambil berasal dari hati yang terang.

***

DIAM KALIAN BERDUA!!! AKU TIDAK SEDANG MENYUSUN RENCANA BALAS DENDAM! TIDAK JUGA MENCOBA BERBUAT BAIK BAK MALAIKAT!

AKU HANYA MENGANTUK! SEKARANG PUKUL SATU DINI HARI DAN SEHARUSNYA KALIAN BERDUA TIDAK RAMAI!

USULAN KALIAN AKAN KUPIKIRKAN PAGI NANTI KALAU BANGUNKU TIDAK KESIANGAN! SELAMAT MALAM! //

Pukul satu dini hari seloki
Gambar oleh Bessi dari Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments