Mendengar Kodok Bernyanyi

Hujan turun seperti lelehan keringat kodok. Jangan salah sangka dulu, saya hanya kepusingan dan tidak benar-benar tahu bagaimana kodok bisa berkeringat. Kenyataannya di sini demikian, hujan turun sejak sore tadi dan sangat lambat, sangat lama.

Beberapa orang masuk rumah dan tidak mau keluar lagi. Lainnya keluar rumah dan tidak bisa pulang lagi. Siapa saja yang berada di warung kopi bisa memperoleh banyak berkah. Entahlah, namun rasanya lumayan sulit untuk membawa tulisan ini menuju pembahasan tentang kodok.

Saya kelaparan dan menganggur. Sehingga tidak ada kesibukan yang dapat memuaskan hati saya selain ngelantur. Jika ada yang hendak mencoba mengritik tulisan ini, tentu itu sebuah perbuatan yang sia-sia belaka. Sebab sebagaimana saya menulisnya, saya tidak peduli sama sekali.

Saya duduk di warung kopi. Mempersilakan hujan untuk minta diri. Dan setelah itu, muncul suara-suara burung, suara lelaki melakukan panggilan video bersama kekasihnya yang telanjang, dan suara kodok.

Itulah mengapa tulisan ini berjudul Mendengar Kodok Bernyanyi. Desa ini disembunyikan oleh hujan kodok, sedang hujan sesungguhnya bersembunyi dalam semak-semak penggantikan posisinya. Sekali lagi, saya benar-benar tidak peduli.

Mungkin beberapa kalimat lagi, saya akan pingsan! Kemudian bangun pada hari berikutnya dengan rasa lapar yang sama. Dengan kehidupan dan nasib sial seperti hari ini. Dan tetap merasa nasib menyedihkan selalu membuntuti.

Kodok-kodok di sana jatuh dari langit. Menghujani semua orang di bawahnya. Tahun ini akan dikenal sebagai tahun hujan kodok. Orang-orang akan mulai memasak kodok. Dan kodok yang bernyayi semakin nyaring, semakin mengiris hati.

Malam-malam tidak akan sepi. Bahkan pagi! Sebab kodok akan bernyanyi sepanjang waktu. Membuat irama kehidupan menyebalkan. Kamu akan berputar dalam alur yang sama saja, tidak berubah, tidak berpindah.

Selamat malam, dan kemudian say... (pingsan)

Mendengar Kodok Bernyanyi
Image by Uki_71 from Pixabay

Tinggalkan Komentar

0 Comments