Mau Bagaimana Lagi Selain Menjalani dan Mencoba Mengubahnya?


Hidup benar-benar sedang menguji saya. Setelah lulus kuliah, saya resign dari pekerjaan yang menjanjikan bayarannya. Alhasil, setelah sekian waktu, uang tabungan dari bekerja itu tandas juga.

Kehidupan masih saya lanjutkan dengan mencoba cari dan membuat pekerjaan baru. Saya tidak menyesal resign, bahkan sampai sekarang. Meski setelah itu saya menjadi gelandangan yang kere.

Sebanyak saya mencoba membuat dan melamar pekerjaan, sebanyak itu pula saya gagal dan ditolak. Sehingga kehidupan harus berlanjut dengan mengesot. 

Saya kira itulah titik paling purna dari masa-masa terburuk saya. Ternyata tidak! Sama sekali tidak! 

Hidup tidak menunjukkan belas kasihannya. Keadaan menjadi lebih buruk lagi; laptop saya jadi rongsokan, mobil juga demikian, diikuti tadi sore sepeda motor juga perlu banyak perbaikan.

Semua barang-barang di atas memang milik orang tua saya. Dan saya tidak memiliki apapun selain diri yang lusuh, dekil, miskin.

Anda boleh mengira bahwa saya kurang bersyukur, mungkin hidup saya jauh lebih mudah dibanding hidup orang lain. Sabar, Bung! Setiap orang punya kadar menderitanya sendiri-sendiri.

Alasan lainnya, berkat rusaknya barang-barang itu, ikut rusak juga hubungan saya dengan orang lain. Lain sisi, saya mengecewakan beberapa orang yang dekat dengan saya. Barangkali mereka telah mencerabut harapan atas saya hingga tuntas, memilih tidak mengharapkan apa-apa daripada merasa kecewa kembali.

Saya tidak diperlakukan sebagaimana manusia. Dan yang paling buruk adalah pada setiap malam sebelum tidur. Saya terbayang-bayang akan dibunuh. Sehingga waktu malam bagi saya untuk tidur adalah setelah subuh.

Saya terkurung di sini. Dalam ruangan kotak berukuran 3 meter persegi. Ruangan yang gelap dan bau, selama 3 bulan. Jika Anda baru pertama masuk, pasti sulit membedakan mana tempat tinggal manusia dengan gudang tikus.

Pagi adalah waktu lumayan baik. Ada aroma embun yang saya endus. Setelah siang beda lagi, saya akan mengistirahatkan mata dengan tidur. Sore akan muncul kecemasan karena pembunuh bisa saja menyamar jadi tikus.

Tanpa kendaraan dan laptop, saya seperti putus asa. Mengingat di lingkungan ini tidak ada yang saya kenal, tidak ada yang mau mengenal saya, menjadikan saya sendirian.

Sebenarnya pernah saya kuatkan hati. Membayangkan menjadi Pram yang tanpa laptop dan kendaraan bisa menulis, bahkan dalam penjara. Sekali lagi, usaha menguatkan hati malah berujung pada sadar diri. Bahwa saya tidak bisa menulis dengan baik, saya tidak hidup di zamannya, dan saya bukan Pram.

Pikiran sempat berkata bahwa kesialan bertubi-tubi ini adalah hukuman dari Tuhan. Namun segera saya tampik anggapan itu, sebab hukuman Tuhan pasti tidak sekadar ini.

Jika Anda ingin tahu alasan saya bertahan, tidak segera mengambil pisau di sebelah tikar kemudian mengiris pergelangan tangan, adalah karena saya merasa sedang dilihat oleh-Nya. Alasan yang tidak rasional. Memang. Setidaknya bisa membuat saya melupakan lapar sebagaimana saya menulis ini.

Apakah semua yang ada pada diri saya memang kesialan belaka? Bisa ya. Bisa tidak. Semoga saja segala hal menyusahkan segera lepas. Biarkan saya bebas, tidur pulas pada malam-malam yang akan datang.

Itu yang sulit, menahan bisikan sesuatu yang lain, untuk segera mengambil pisau dan menggunakannya. Namun Tuhan pasti melihat, saya tidak kuat menahan malu jika sampai melakukannya hari ini.

Saya tuntaskan saja tulisan ini sampai di sini. Rasanya aneh, menulis catatan sambil memandang laptop rongsokan dan tumpukan besi motor yang terus coba dilahap debu di ruang gelap yang bau. Sekian. //


Mau Bagaimana Lagi Selain Menjalani dan Mencoba Mengubahnya?
Dokumen pribadi



Tinggalkan Komentar

2 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)