Kisah Paling Sedih

Malam sehabis hujan ia melangkah seorang diri demi bertamu pada seorang kenalan yang dipercayanya akan dapat mengubah nasib hidupnya yang centang perenang. Onggokan sampah di tengah jalan ditendangnya hingga membentuk jalinan tak beraturan dan menguarkan aroma busuk dua puluh kali lebih menyebalkan daripada lelehan uap air di ketiaknya. Ia menyisir gang dan masuk ke gang lebih kecil sebelum menemukan gang lain yang lebih kecil yang membawanya berbelok ke kiri sekira dua ratus tujuh puluh derajat dari posisinya sebelum ambil belok. 

Dua ekor anjing yang kiranya adalah sepasang kekasih tiba-tiba menyalakinya secara bergantian kala ia hendak mengetuk pintu. Untuk mengetuknya ia memerlukan perasaan halus sehalusnya laiknya seniman memerlukan perangai yang bijak demi membentuk sebuah karya adiluhung. Lagipula pintu itu telah tua dan purba dan dingin hingga watak berangasan sedikit saja akan merobohkannya dan meruntuhi salah satu atau dua orang yang berada di baliknya.

Seorang lelaki membukakan pintu dengan tergopoh seraya sebelah tangannya masih memegang cangkir kopi yang menguarkan aroma tajam robusta. Bau tanah basah dari pekarangan berpusing di antara wangi bunga sedap malam dan disusul bau asap tembakau kemudian. 

Si tamu yang langsung duduk tanpa dipersilakan sempat melongok ke kedalaman rumah di mana istri si kenalan tengah menyusui bayi yang berumur lima bulan lebih dua puluh empat hari. 

Puting sewarna jelaga di ujung payudara seukuran buah cempedak sempat terlihat beberapa bentar sebelum perempuan itu merapatkan kembali kancing-kancing dasternya. Si tamu menelan ludah beberapa kali saat ujung payudara itu tampak mencuat dengan begitu perkasanya. Nyaris menyerupai batu cadas yang dengan teramat angkuhnya menghalau musim demi musim yang bermaksud merongrong dan menjadikannya lapuk. 

Ketakjuban akan payudara yang sehat dan muda itu mesti diakhiri dengan telanan ludah terakhir saat si tuan rumah menanyai keperluannya seraya berharap tak ada perkara nyeleneh yang dihadirkannya malam ini. Si tamu dengan hati-hati berucap dan menerangkan maksud dan dalam seketika anjing-anjing di luar rumah menyalak dalam nada sahut-menyahut yang memilukan. Tak kurang dari setengah jam mereka menunggu hingga segelas air kopi dan tiga batang rokok tandas jadi abu.

“Bisa kau ulangi apa yang barusan kau katakan?”, pinta si tuan rumah sesaat setelah anjing-anjing di seputar gang rumahnya benar-benar berhenti menyalak karena kelelahan.

“Aku butuh kerja. Mungkin aku bisa ikut denganmu.”, jawab si tamu dengan perasaan rendah diri dan wajah memelas.

“Apa aku tak salah dengar? Kau yakin?”

Si tamu mengangguk pendek sebagai tanda mengiyakan tanpa ragu. Si tuan rumah menyulut lagi sebatang rokok sambil sesekali menatap wajah tamunya yang lusuh dan dipenuhi jerawat dan tampak membosankan itu. 

Ia mengetuk-ngetukkan ujung jari pada lengan kursi sambil berpikir dan meraba-raba dan menimbang-nimbang soal kerja apa yang kiranya dapat ia perbantukan untuk tamu yang telah lama jadi sahabatnya itu. Beberapa menit berpikir rupanya tak membuatnya dapat menemukan jalan keluar yang diharapkan. Niat baik untuk menolong sahabat yang nyaris dianggapnya saudara itu  tinggal jadi kejumudan yang kemudian tak ragu ia sampaikan

“Kau tahu aku cuma kerja jadi penarik karcis retribusi di pasar. Sungguhkah kau mau ikut kerja denganku? Pikirkanlah lagi sebelum menyesal.”

Tak ada jawaban bahkan hingga beberapa detik kemudian hujan turun lebih lebat dan menguarkan hawa dingin dua kali lipat dari sebelumnya. Si tuan rumah menanti dengan sabar sambil sekali-dua menengok istri dan anaknya yang berangsur-angsur memutuskan tidur tanpa menunggu si tamu undur diri. 

Si tamu bahkan belum menampakkan gejala hendak minta diri atau memutuskan apakah ia menerima tawaran si tuan rumah. Pikirannya menerawang jauh menembus atap rumah sempit itu demi menimbang-nimbang tawaran kerja sebagai penarik karcis retribusi di pasar induk. Entah mengapa ia merasa punya gengsi cukup tinggi sebagai sarjana fakultas pendidikan yang merasa layak mendapatkan kerja lebih baik dan lebih terhormat daripada sekadar penarik karcis di pasar.

“Tak adakah tawaran kerja selain itu?”, tanya si tamu tiba-tiba.

“Jika ada pasti aku mengabarimu. Aku tahu beban hidupmu amat berat, lagipula kau tak boleh sembarangan memilih kerja.”

Si tamu mengangguk dan ikut merokok hingga asap bergelung-gelung mengambang di dalam rumah yang sempit dan beratap rendah itu. Harga dirinya tampak kembali saat hisapan kelima dari sari-sari nikotin membikin pikirannya lebih rileks dan menemukan jalan pemecahan.

“Sebenarnya aku punya kegemaran menulis, menulis novel lebih tepatnya. Aku ingin menerbitkan novel, dapat uang, dan dengan demikian aku akan berbahagia.”, ucap si tamu kemudian.

Si tuan rumah membenarkan letak duduk sambil sesekali membenarkan lipatan sarung yang mulai kedodoran. Apa yang baru saja dikatakan si tamu membikinnya teringat pada masa lalu yang kemudian dipendamnya rapat-rapat di suatu tempat paling rahasia dalam hidupnya. 

Ia pernah mencoba melakoni hidup seperti yang pernah diutarakan si tamu berparas membosankan itu. Ia bahkan pernah menanggung kelaparan selama berhari-hari di kamar kos sambil berharap pihak penerbit sudi menerima naskah novelnya setebal tiga ratus halaman dalam kertas A4 itu. Ia bahkan masih ingat ukuran margin dan ukuran spasi masing-masing sebelum ia mencetaknya di sebuah toko fotokopi tak jauh dari kantor tempat pacarnya bekerja. 

Kisah Paling Sedih
Image by Peter H from Pixabay

Setelahnya ia menunggu dengan kesabaran dan kelaparan dan kehambaran tanpa ampun ditemani sebotol air mineral sebagai pengganjal perut yang sering bermain keroncong. Harapannya pernah timbul pada satu bulan pertama kala pihak penerbit mengabarkan bahwa naskah kepunyaannya akan ditinjau lebih teliti dan seksama. 

Ia bisa bersiul-siul sepanjang hari sambil membayangkan bahwa besok tak ada lagi rasa lapar yang meliliti ususnya. Demikianlah yang tiap hari ia lakukan hingga ia lupa bahwa ia belum membayar uang kos dalam kurun masa tiga bulan belakangan. Demikianlah yang tiap hari ia lakukan hingga ia lupa bahwa ia telah menempati kamar kos itu lima bulan tanpa sekali pun membayar. Demikianlah yang ia lakukan hingga setahun berlalu dan induk semang pemilik kamar kos yang ia tempati kemudian meninggal dunia oleh serangan jantung mendadak. Dengan demikian ia bebas tanpa perlu membayar uang kos selama setahun dan buru-buru kabur tanpa berusaha berharap lagi pada pihak penerbit yang kadung menerima naskah novelnya.

“Aku pernah melakukannya, membayangkan hidup seperti yang pernah kau bayangkan, jadi novelis, tanpa sekali pun membayangkan hidup sebagai penarik karcis di pasar yang becek dan bau.”, ucap si tuan rumah.

“Ya, aku tahu itu. Kau sudah berkali-kali mengatakannya.”

“Aku tak bisa melarangmu jika kau masih mau melakukannya.”

“Aku masih akan melakukannya meskipun telah berkali-kali gagal. Kulupakan lomba D yang tak bisa kumenangkan. Kulupakan penerbit A yang telah menolak naskahku mentah-mentah, aku baru saja melemparnya ke penerbit C.”

“Naskahmu diterima?”

“Entahlah. Aku harus lebih sabar menunggu. Aku tak mau gagal sepertimu.”

“Aku tidak gagal. Aku hanya belum mau menempuh jalan itu. Kau tahu, Pram pernah menyebut profesi yang mensyaratkan diri jadi penulis sebagai ‘jalan yang amat panjang’. Aku belum mau memikirkannya lagi.”

“Begitukah?”

“Ya. Istri dan anakku tak mungkin makan naskah novel yang kususun selama enam bulan itu. Maka dari itu aku perlu jeda. Aku mesti bekerja, demi mereka.”

“Ngomong-ngomong, apa judul novelmu itu?”

“Kisah Paling Menyenangkan.”

“Maukah kau menceritakan sedikit isinya?”

“Untuk apa? Novel itu bahkan tidak layak terbit.”

“Ceritakanlah sedikit saja. Siapa tahu ceritamu itu bisa menginspirasiku.”

“Garis besarnya menceritakan orang miskin yang bercita-cita menjadi novelis. Itu saja.”

“Lalu?”

“Baiknya kau baca sendiri. Kukirimi kau filenya.”

Berhari-hari si tamu membaca cerita dalam naskah itu tanpa sekali pun mencetaknya di atas kertas. Berhari-hari pula si tamu berdecak penuh kagum pada cerita yang dianggapnya sangat hebat dan dekat dengan kehidupannya itu. 

Lalu pada satu minggu kemudian ia kembali bertamu ke rumah yang berletak di gang sempit kota besar itu dengan mengenakan setelan pakaian yang sama dengan satu minggu yang lalu. Dengan muka sumringah namun tetap membosankan ia lalu memuji naskah kepunyaan si tuan rumah sambil menyesalkan sekaligus bertanya mengenai alasan si tuan rumah tidak mengirimkannya ke penerbit. Si tuan rumah hanya bergeming tanpa peduli bahwa si tamu sedang antusias menunggu jawaban paling logis.

“Ngomong-ngomong, aku menyukai novelmu itu.”, imbuh si tamu dalam basa-basi.

“Lalu?”

“Pokoknya aku menyukainya. Dan aku sedang menyusun novel keduaku.”

“Apa judulnya?”

“Kisah Paling Sedih, ya, kurasa itu judulnya.”

“Mengapa sedih?”

“Bagaimana tidak sedih, penulis pemula macam kita ini seperti tidak punya tempat, bahkan di negeri sendiri.”

“Kau saja yang penulis pemula, aku tidak.”, timpal si tuan rumah dalam ketenangan tingkat tinggi.

“Baiklah.”

“Lalu apa masalahmu?”

“Dengar, negara kita bukan hanya mengimpor barang-barang pokok atau barang-barang mewah dari luar negeri, tenaga kerja pun impor. Karya sastra pun impor, lalu diterjemahkan ke bahasa ibu kita.”

“Soal karya sastra atau buku-buku terjemahan itu perkara lain.”

“Tidak. Itu impor. Pokoknya impor. Nasib penulis sepertiku jadi demikian terlunta. Ah, malang betul.”

“Itu perkara lain.”, timpal si tuan rumah, lagi-lagi dalam ketenangan tingkat tinggi.

“Kau lihat, penerbit-penerbit besar itu lebih menghargai karya orang macam Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Haruki Murakami, Rabindranath Tagore, Gabriel Marquez, Albert Camus, Jose Saramago, Ernest Hemingway, Toni Morrison, Franz Kafka, Knut Hamsun, James Joyce, Milan Kundera, Najib Mahfud, Orhan Pamuk, dan banyak lagi.”

“Karya-karya mereka memang bagus dan bermutu tinggi. Pantas saja jika dibaca banyak orang.”, jawab si tuan rumah sambil memberi isyarat pada tamunya untuk berbicara lebih pelan demi tidak membangunkan bayi yang sedang terlelap.

“Kau ini, pura-pura tak mengerti atau memang tak mengerti?”

“Terserah kau saja.”

Si tamu kemudian tampak mendongkol dan memandang wajah si tuan rumah dengan tatapan sebal bercampur benci tanpa pura-pura. Ia diam beberapa detik sambil bersumpah pada diri sendiri bahwa kelak ia akan bernasib lebih baik daripada si tuan rumah. Namun dalam hati ditemuinya juga rasa kasihan pada dirinya sendiri yang nyata-nyata belum menikah dan tak memiliki pekerjaan. 

Di usianya yang keduapuluh sembilan itu tak jarang ia memaki nasib yang semestinya sudah makmur dan hidup tenang bersama anak dan istri. Ia mendengus tanpa mencoba mengungkapkan sebuah isyarat apa pun yang dapat diterima lawan bicaranya. Dan didapatinya si tuan rumah yang setahun lebih tua darinya itu duduk tenang sambil mengisap tembakau dalam tuma’ninah yang nyaris utuh.

“Aku pulang saja.”, ucap si tamu tiba-tiba. Angka-angka di jam dinding warna perak di ruang tamu itu menotasikan pukul tiga dini hari.

“Baiklah. Aku bisa tidur sebentar sebelum berangkat kerja. Sampai ketemu besok.”

“Ngomong-ngomong, aku perlu uang untuk membeli obat ibuku. Aku tak akan lupakan uang yang pernah kupinjam darimu sebelumnya.”, ucap si tamu lagi.

Si tuan rumah tak menjawab apa pun sembari mengeluarkan dua lembar uang yang masing-masing bernilai seratus ribu rupiah. Si tamu menerimanya dengan malu-malu dan wajah yang berangsur memelas. Mereka kemudian bersalaman beberapa bentar disusul adu kepalan tinju sebagai tanda tos penuh keakraban. 

Si tamu dengan perasaan lega kemudian mengantongi dua lembar uang yang baru saja diperolehnya ke saku belakang. Ia dapat melangkah tenang meninggalkan gang demi gang untuk bertemu lagi dengan jalan raya yang dilalui banyak angkot. 

Namun sebelum bertemu jalan raya ia mesti menubruk sebuah kaki yang sengaja menghadang langkahnya. Dua orang berbadan dempal kemudian menghujaninya dengan tinju dan tendangan keras begitu ia mengaku belum mampu membayar hutang pada seorang rentenir yang mengirim mereka. 

Dua orang berbadan dempal yang jadi penagih hutang itu menyayangkan waktu jatuh tempo yang dikhianati dengan cara melarikan diri. Salah satu dari mereka bahkan mengambil pentungan yang kemudian tanpa ragu diayunkan mengenai kepala dan lutut korbannya. 

Si korban mengerang dan terus berteriak tanpa beroleh pertolongan dari makhluk-makhluk di gang yang rupanya masih sama pulas di bawah selimut. Ia teringat pada ibunya yang sakit dan mesti menunda minum obat sepanjang hari-hari ia memenuhi obsesi menulis novel. Dan dalam kondisi tulang-tulangnya yang remuk dan tubuh yang terlanjur babak belur ia bahkan mengingat-ingat kalimat pembuka dalam novel yang tengah ia susun: Malam sehabis hujan ia melangkah seorang diri demi bertamu pada seorang kenalan yang dipercayanya akan dapat mengubah nasib hidupnya yang centang perenang.[]

Ditulis oleh Hari Niskala
01:42
15112019
Pernah ditolak ideide.id 10 Januari 2020

Tinggalkan Komentar

0 Comments